en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Melangkah ke Depan: Kisah Semangat dari Film “Front of the Class” (2008)

Solidernews.com – Menurut para ahli Sindrom Tourette adalah gangguan neurologis yang ditandai oleh gerakan yang tak terkendali yang disebut tik, dan kadang-kadang disertai dengan vokalisasi yang tidak terkontrol seperti suara-suara yang tak disengaja atau kata-kata yang diucapkan. Tik-tik ini bisa berupa gerakan seperti mengedipkan mata, menggelengkan kepala, atau menggerakkan bagian tubuh lainnya secara tiba-tiba dan tidak  terduga.

 

Sindrom Tourette sering kali muncul pada masa kanak-kanak atau remaja dan dapat berlanjut ke masa dewasa. Meskipun gejalanya bervariasi dari individu ke individu, kondisi ini bisa menyebabkan tekanan sosial dan emosional karena tik-tik yang mencolok dan sering kali sulit dikendalikan.

 

Meskipun penyebab pasti sindrom Tourette tidak diketahui secara pasti, kondisi ini diyakini memiliki dasar genetik dan terkait dengan gangguan di dalam otak yang mengatur gerakan dan perilaku. Perawatan untuk sindrom Tourette mencakup terapi perilaku, obat-obatan, dan dukungan psikososial untuk membantu individu mengelola gejala dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

 

“Front of the Class” adalah sebuah film yang mengisahkan perjalanan hidup seorang pria bernama Brad Cohen, yang semenjak kecil menghadapi berbagai tantangan akibat sindrom Tourette yang dialaminya. Film ini disutradarai oleh Peter Werner, dan memberikan gambaran tentang ketekunan, keberanian, dan tekad untuk mengejar impian meski dihadapkan pada berbagai rintangan.

 

Kisah dimulai dengan masa kecil Brad, di mana sindrom Tourette yang dialaminya membuatnya menjadi berbeda dari teman lainnya. Gerakan dan suara yang tidak terkendali sering membuatn dirinya menjadi pusat perhatian, bahkan menjadi objek cemoohan di sekolah. Walaupun demikian, keluarga Brad merupakan tiang kuat yang selalu memberi dukungan dan cinta tanpa syarat. Mereka mengajarkan Brad untuk tetap percaya pada dirinya sendiri dan tidak menyerah pada kondisinya.

 

Tidak hanya di lingkungan keluarga, Brad juga harus menghadapi sikap skeptis dan ketidaktahuan masyarakat sekitar terhadap sindrom Tourette. Perlakuan diskriminatif dan sikap kurang pengertian sering kali menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari. Namun, melalui tekad dan semangatnya yang kuat, Brad terus maju dan mengejar impian menjadi seorang guru.

 

Akan tetapi, tantangan baru muncul saat Brad memutuskan untuk mengejar karir di pendidikan. Meskipun memiliki kualifikasi dan semangat yang tinggi, Brad dihadapkan akan keraguan dari lingkungannya. Beberapa orang meragukan kemampuannya sebagai guru karena sindrom Tourette yang dialaminya. Namun demikian, Brad tidak pernah menyerah pada keraguan orang lain. Ia yakin bahwa dirinya bisa menjadi guru yang diinginkan dan  tidak kalah dengan sindrom yang dialaminya.

 

Salah satu kutipan dari film ini adalah saat Brad mengatakan, “Sindrom Tourette mungkin menjadi bagian dari saya, tetapi itu tidak akan mengendalikan hidup saya. Saya yang mengendalikannya.” Kutipan ini mencerminkan tekad dan keberanian Brad untuk tidak membiarkan kondisi menentukan jalan hidupnya.

“Front of the Class” bukan hanya sekedar film tentang perjuangan seorang individu dengan sindrom Tourette, akan tetapi tentang kekuatan keluarga, persahabatan, cinta dan keteguhan hati. Film ini mengajarkan kita tentang pentingnya menerima perbedaan, memperjuangkan impian, dan tidak pernah menyerah pada rintangan yang menghadang.

 

Dengan akting yang kuat dan pengarahan yang mengharukan, “Front of the Class” mendorong penonton untuk memahami bahwa keberanian dan tekad dapat mengatasi segala rintangan. Film ini adalah pengingat bahwa setiap orang memiliki potensi untuk mencapai hal yang diinginkan, asalkan kita tidak menyerah pada diri sendiri.

 

Film “Front of the Class” (2008) adalah sebuah perjalanan yang mengharukan akan ketekunan seorang guru dengan sindrom Tourette. Dengan akting yang kuat dan pesan yang mendalam, film ini mengajarkan nilai-nilai penting tentang keberanian, keteguhan hati, dan penerimaan terhadap perbedaan. Sangat direkomendasikan untuk ditonton bagi siapa pun yang mencari dorongan dalam menghadapi tantangan hidup.[]

 

Penulis: Apipudin

Editor      : Ajiwan Arief

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air