en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Asa Sang Perempuan Difabel: Jika Bukan Kita Siapa Lagi

Solidernews.com – Peringatan Hari Perempuan Internasional tepat pada tanggal 8 Maret dengan mengusung tema Menginspirasi Inklusi atau inspire inclusion. Tentu kita semua perlu memahami dan menghargai situasi inklusi bagi perempuan untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Perempuan kuat kali ini menolak bergantung pada orang lain sedari kecil, Sri Wahyuni atau biasa disapa Yuni. Perempuan berusia sekitar 40 tahun yang kesehariannya selain menjadi pengurus di salah satu organisasi difabel, juga melakoni usaha jahit busana (pria dan wanita).

 

Pertemuan saya dengan Yuni sudah direncanakan sebulan yang lalu, namun baru bertemu dua hari lalu. Saya menganggap Yuni sudah seperti kakak sejak tahun 2017. Pertemuan pertama kalinya dengan Yuni saat mengadakan acara peringatan hari kemerdekaan di salah satu pusat kota. Dari sana saya mengenal Yuni sebagai pribadi yang tenang dan kuat dengan dua kruk yang membantunya saat berjalan.

Siang yang terik dengan pemandangan pegunungan menoreh dan hamparan sawah di mana lokasi pertemuan saya dengan Yuni memang dilakukan di kedai yang berada di pinggir kota. Teduh dan rimbun dengan banyak pepohonan besar menambah syahdu suasana. Sayup-sayup terdengar deru motor roda tiga yang tak asing bagi saya, berwarna hitam dengan lebar sekitar 1,5 meter. Saya melihat senyum perempuan difabel tampak lebar dari wajahnya.

 

Sorry ya mbak nek nunggu lama,” pinta maaf dari mbak Yuni karena memang terlambat dari jam yang sudah kita sepakati bersama.

“Santai aja mbak, gak lama kok,” ujar saya padanya.

 

Obrolan kami diawali dengan candaan kami khas bestie yang selalu menanyakan kondisi soal hati dan perasaan.

 

“Piye mbak wis ana tanda-tanda belum, wis ada sinyal belum?”, tanya saya soal tanda-tanda tentang kisah cintanya.

 

“Ya piye ya mbak, doakan saja,” jawabnya singkat sambil senyum.

 

 

Pengalaman pribadi dari Yuni yang tidak pernah saya dengar dan ketahui sebelumnya diungkapkan secara perlahan. Kondisi polio kedua kakinya dialami saat usia tiga tahun. Anak kelima dari lima bersaudara ini sudah terbiasa mandiri sejak usia sekolah dasar (SD). Ibunya sangat peduli dengan tumbuh kembang  Yuni, sehingga dari SD sudah disekolahkan di Solo (YPAC). Rumah dan kamar mandi sudah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhannya.

 

Mencuci, memasak dan kegiatan domestik lainnya sering ia lakukan sendiri. Kemandirian ini juga terbentuk seiring Yuni remaja harus kos untuk bersekolah tingkat atas di salah satu SMA terbaik di kotanya. Yuni melanjutkan SMP dan SMA di sekolah umum dan tidak pernah mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman sekolah. Keluarga tidak memasukkan Yuni di sekolah luar biasa karena yakin dengan kemampuan akademik yang dimilikinya. Terbukti dengan nilai rapot yang cukup baik sejak SMP dan SMA. Konsep inilah yang diakui Yuni yang membentuk mentalnya sampai saat ini.

 

Pembicaraan kita terselip satu cerita haru tentang bagaimana Yuni harus melewati satu tahapan ia kehilangan kakak kandungnya yang sudah meninggal di usia muda karena kanker tulang dan diamputasi kedua kakinya. Ia mengingat masa saat Yuni di SMP, sempat mengurus kakak perempuannya yang harus terbaring lemah. Tambahan cerita yang membuat matanya hampir mengeluarkan air mata, yakni seusai SMA dan harus memupus keinginan kuliah. Ibu kandungnya sakit stroke dan berbaring di kasur. Sempat memberontak dengan kondisi, Yuni akhirnya mengerti bahwa di rumah tinggal Bapak dan Yuni saja sementara kakak-kakaknya sudah merantau ke luar kota.

 

“Kalau bukan saya, siapa lagi mbak yang harus merawat Ibu, Tuhan mesti ada rencana lain,” tambahnya.

 

Keinginan menambah keterampilan sembari merawat ibu diwujudkannya dengan mengikuti les privat menjahit di pusat kota. Kemauan dan tekadnya kuat walau harus menempuh jauh sekitar 25 km dengan menaiki angkutan kota selama privat les jahit. Kemampuan menjahit inilah yang menjadi modal bagi Yuni untuk mendapatkan penghasilan. Pesanan jahit akan ramai jika menjelang lebaran dan ajaran sekolah.

 

Kini sebagai difabel perempuan yang tinggal di sebuah desa mengakui hambatan yang dialami dihadapi ketersediaan layanan publik yang tidak akses bagi difabel sepertinya. Sangat repot apabila harus belanja kebutuhan pribadi atau kebutuhan jahit menjahit, ia harus memilih toko yang landai walau harganya sedikit lebih mahal dari toko yang lain. Keadaan infrastruktur di lingkungan publik yang ia temui juga masih belum  semua berpihak pada kondisi difabel.

 

“Apalagi omahku (rumahku) daerah rawan banjir mbak,” ungkap Yuni sambil tertawa menyatakan rumahnya yang masuk ke wilayah rawan banjir.

 

Wilayah banjir menjadi tantangan tersendiri bagi Yuni yang harus siap kapanpun apabila debit air semakin naik. BPBD melalui kerjasama dengan organisasi difabel pernah memberikan kesempatan pelatihan menghadapi bencana. Menurutnya masih sangat dibutuhkan bagi kelompok rentan di desanya khususnya perempuan difabel, perempuan lansia dan anak-anak untuk  mendapatkan pemahaman saat menghadapi bencana banjir.

mbiyen iku aku nate wes nangkring di kasur mbak ra bisa metu merga banyu wes dhuwur (dulu itu saya pernah berada di atas kasur, mbak karena tidak bisa keluar rumah karena air sudah tinggi),” terang Yuni.

 

Layanan kesehatan berupa Kartu Indonesia Sehat (KIS) telah didapatkan beberapa tahun terakhir saat ia masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).  Bantuan kursi roda dari UCP Roda Untuk Kemanusiaan (UCPRUK) dapat diakses saat 2011 dan bantuan mesin jahit dari Dinas Sosial tahun 2014. Dua tahun terakhir ia mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah desa dan diakui sangat membantu perekonomian.

 

Harapan besar Yuni ialah ia bisa menghidupi dirinya tanpa merepotkan orang lain. Ia ingin memiliki usaha yang settle (mapan) agar bisa mandiri.  Dukungan kakak-kakak kandungnya juga merupakan hal yang berarti selama ini. Tanpa keluarga yang solid dan mendukung setiap proses hidup, tak akan membuat sosok Yuni sekuat ini.

Perempuan difabel harus berdaya dan mampu mandiri agar tidak tergantung dengan orang lain. Ada saatnya kita meminta bantuan namun ada saatnya kehadiran kita justru memberikan manfaat bagi orang lain. Kami berdua menyepakati argumen ini sebagai bentuk perayaan atas keberdayaan perempuan.[]

 

Reporter: Erfina

Editor     : Ajiwan Arief  

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air