en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Kondisi Autisme pada perempuan

Solidernews.com – Kondisi spektrum autisme adalah difabel mental jenis perkembangan yang ditandai dengan kesulitan komunikasi dan interaksi sosial serta adanya kecenderungan melakukan perilaku, minat, atau aktivitas secara berulang ulang (American Psychiatry Association, 2013). Dibandingkan pria, Perempuan memiliki risiko yang tinggi untuk tidak terdiagnosis kondisi autismenya.  Kesulitan yang diakibatkan autisme pada perempuan tersebut seringkali tidak terdeteksi (Lai & Baron Cohen, 2015).

 

Andaikan mendapat diagnosispun, biasanya mereka cenderung telat untuk mendapatkan diagnosis dibandingkan pria (Giarelli dkk, 2010). Parahnya lagi, banyak penemuan bahwa perempuan perlu untuk menunjukkan gejala autisme yang lebih parah (Russel dkk, 2010) dibandingkan pria agar dapat terdiagnosis dengan kondisi autisme (Posserud dkk, 2006). Bias gender yang terjadi ini tentu menyebabkan masalah Kesehatan mental yang serius pada perempuan yang mengalami kondisi autisme tersebut dan sudah ditekankan oleh komunitas autisme sebagai masalah yang perlu diperhatikan oleh para peneliti (Pellicano dkk, 2014).

 

Rata-rata usia diagnosis pada Perempuan

Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Bargiela dkk (2016), dalam penelitiannya menyebutkan bahwa rata rata 14 partisipan yang ikut dalam penelitiannya tersebut mereka baru mendapatkan diagnosis kondisi autisme pada usia 20 dan 30 tahun. Pernyataan dalam jurnal ini tidak jauh berbeda dengan rentang usia individu autistic Perempuan berkewarganegaraan Indonesia yang penulis kenali secara pribadi. Teman pertama yang penulis kenal memiliki nama inisial AMM baru terdiagnosis Autisme di Singapura pada saat usianya 30 tahun. Teman kedua yang penulis kenal dengan inisial nama CNP baru terdiagnosis autisme di Indonesia tepatnya di Kota Jakarta pada saat usianya 30 tahun juga. Teman ketiga penulis dengan inisial nama ER baru terdiagnosis autisme Ketika masa studinya di Korea pada saat usianya 20 tahun. Bahkan teman penulis yang keempat baru terdiagnosis autisme di Singapura pada saat usianya 40 tahun.

 

Hal-hal yang dialami Perempuan sebelum mendapatkan diagnosis autisme

Pada penelitian yang dilakukan Bargiella dkk (2016), ada beberapa hal yang dialami perempuan dengan kondisi autisme sebelum mendapatkan diagnosisnya. Pertama yaitu sering dibilang bahwa mereka tidak mengalami kondisi autistic. Kedua yaitu diminta untuk menjadi normal. Ketiga yaitu belajar berperilaku yang awalnya pasif menjadi assertif. Keempat yaitu memperkuat identitas sebagai autistic sebelum mereka terdiagniosis.

 

Pertama yaitu mereka dibilang tidak mengalami kondisi autisme. Pada jurnal tersebut disebutkan bahwa kondisi mereka sering disalahpahami oleh orang lain baik itu professional maupun orang awam pada umumnya. Kesalahpahaman yang sering dilakukan professional adalah melakukan misdiagnosis dengan memberi diagnosis diluar kondisi autisme pada perempuan yang mengalami kondisi autisme. Sedangkan kesalahpahaman yang dilakukan oleh orang awam adalah seringnya gejala autisme pada perempuan autisme disalahpahami sebagai kenakalan anak anak.

 

Kedua yaitu mereka diminta untuk menjadi normal.  Hal yang dimaksud disini adalah mereka dipaksa untuk menjadi normal karena keadaan lingkungan mereka. Dilaporkan dalam jurnal ini bahwa berkumpul dengan jumlah orang yang banyak menimbulkan kesulitan yang signifikan untuk mereka dan akan sangat memalukan apabila gejala autisme yang mereka alami terlihat oleh teman sebayanya. Oleh karena itu, mereka mencoba untuk berperilaku layaknya orang normal (masking) dengan belajar dari buku, TV, majalah dan meniru kelakuan masyarakat sekitarnya.

 

Ketiga yaitu berperilaku yang awalnya pasif menjadi asertif. Hal ini terpaksa mereka lakukan agar menghindari pelecehan seksual yang mereka alami selama masa kehidupan mereka. Mereka dalam jurnal ini melaporkan bahwa apabila mereka tidak mempelajari keterampilan ini maka kondisi pelecehan tak akan berkurang dan akan terus berlanjut.

 

Keempat yaitu memperkuat identitas autisme sebelum terdiagnosis. Dalam hal ini, mereka menilai bahwa nilai nilai yang diharapkan Masyarakat umum terhadap Perempuan membuat gejala autisme pada Perempuan menjadi samar. Hal tersebut membuat mereka sangat tertekan sehingga satu satunya opsi yang dimiliki oleh Perempuan agar tetap bisa memperkuat identitas mereka sebagai individu autistic adalah dengan menekuni minat khusus yang mereka miliki.

 

Kesimpulan

Dari hasil penelitian pada jurnal ini dan dari cerita yang penulis dengarkan dari para perempuan dengan autisme yang penulis kenali dapat disimpulkan bahwa mayoritas Perempuan dengan autisme terlambat untuk terdiagnosis. Sebelum mendapatkan diagnosispun mereka harus menghadapi berbagai kesulitan diantaranya seringkali disalapahami oleh orang awam dan minimnya pengetahuan tenaga Kesehatan profesional terhadap kondisi autisme yang dialami Perempuan. Hal lainnya yang perlu diperhatikan bahwa Wanita difabel rentan mendapatkan perlakuan yang buruk dari masyarakata, termasuk dalam hal ini Perempuan dengan autisme.[]

 

Penulis: Rahmat Fahri Naim

Editor     : Ajiwan Arief

Biodata penulis

Rahmat Fahri Naim merupakan individu dengan difabel ganda. Pertama ia memiliki kondisi spektrum autisme. Kedua, ia memiliki kondisi narkolepsi, kondisi yang masuk dalam kategori gangguan langka atau rare disorder. Saat ini tergabung di Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel Indonesia. Ia memiliki minat untuk mendalami isu isu Invisible Difability atau yang dalam Bahasa Indonesianya disebut difabel tak kasat mata. Penulis bisa dihubungi melalui akun r_fahri_n yaitu id instagramnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Washington DC: American Psychiatric Association

Bargiela, S., Steward, R., & Mandy, W. (2016). The Experiences of Late-diagnosed Women with Autism Spectrum Conditions: An Investigation of the Female Autism Phenotype. Journal of Autism and Developmental Disorders, 46, 3281 – 3294.

Giarelli, E., Wiggins, L. D., Rice, C. E., Levy, S. E., Kirby, R. S., Pinto-Martin, J., et al. (2010). Sex differences in the evaluation and diagnosis of autism spectrum disorders among children. Disability and Health Journal, 3(2), 107–116. doi:10.1016/j. dhjo.2009.07.001.

Lai, M.-C., & Baron-Cohen, S. (2015). Identifying the lost generation of adults with autism spectrum conditions. The Lancet. Psychiatry, 2(11), 1013–1027. doi:10.1016/S2215-0366(15)00277-1.

Pellicano, E., Dinsmore, A., & Charman, T. (2014). What should autism research focus upon? Community views and priorities from the United Kingdom. Autism: The International Journal of Research and Practice, 18(7), 756–770. doi:10.1177/ 1362361314529627

Posserud, M.-B., Lundervold, A. J., & Gillberg, C. (2006). Autistic features in a total population of 7-9-year-old children assessed by the ASSQ (Autism Spectrum Screening Questionnaire). Journal of Child Psychology and Psychiatry and Allied Disciplines, 47(2), 167–175. doi:10.1111/j.1469-7610.2005.01462.x

Russell, G., Ford, T., Steer, C., & Golding, J. (2010). Identification of children with the same level of impairment as children on the autistic spectrum, and analysis of their service use. Journal of Child Psychology and Psychiatry and Allied Disciplines, 51(6), 643–651. doi:10.1111/j.1469-7610.2010.02233.x.

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air