Views: 10
Solidernews.com – Komunitas Lintas Berkolaborasi dengan Lentera App selenggarakan pelatihan menulis. Kegiatan yang menyasar pemula ini dilaksanakan melalui platform zoom pada (1/3) dan diikuti oleh sebanyak 30 peserta difabel netra dari seluruh Indonesia.
Iin Saputri, ketua komunitas Lintas, menyampaikan tujuan dari penyelenggaraan webinar ini, “Kami ingin memberikan wawasan literasi tentang proses penulisan sebuah buku, khususnya bagi teman-teman difabel netra yang berminat menulis buku,” katanya.
Dalam pelatihan menulis ini, komunitas Lintas bekerja sama dengan Lentera App, aplikasi perpustakan digital, yang menjadi pasar buku bagi pelaku industri literasi. Annastasia Puspaningtyas, CEO dan founder Lentera App berharap para peserta dapat termotivasi untuk menuliskan kisah mereka dalam sebuah buku, yang dapat dipublikasikan melalui Lentera App. “Keuntungannya, buku tersebut akan mendapatkan royalti dan promosi ke penerbit internasional,” katanya.
Para peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini. Salah satu peserta, Nabiel Ghali Azummi, difabel netra asal Yogyakarta, mengatakan, “Saya merasa lega setelah mengikuti pelatihan karena narasumber dapat menjawab pertanyaan yang selama ini mengganjal di dalam hati. Kini, saya lebih percaya diri lagi mengembangkan bakat dalam bidang literasi,” ungkapnya.
Pernyataan serupa juga dirasakan oleh Dika Aditya Ahmad, difabel netra asal Cianjur, “Pelatihan ini sangat bermanfaat dan harapannya ada praktik langsung untuk pelatihan menulis di masa depan.”
Pelatihan menulis ini memang sangat bermanfaat, seperti pernyataan para peserta. Sebelumnya, penulis juga merasa kesulitan merangkai paragraf pembuka yang menarik dalam berita feature. Namun, setelah mengikuti pelatihan, kini proses itu terasa lebih mudah.
Narasumber dalam pelatihan menulis ini ialah Rizqi Turama, dosen dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Sriwijaya. Ia menjelaskan tiga hal penting untuk membuat cerita, yaitu mengembangkan ide dari pengalaman dan musik, menentukan bunyi dan tempo kalimat, serta membuat struktur cerita.
Pertama, mengembangkan Ide dari pengalaman dan musik. Rizqi Turama telah menghasilkan beberapa karya tulis dari pengalamannya, seperti “Aku dan Jogja Pukul Dua”, “Merindu Pulang”, dan “Teriakan dalam Bungkam”.
“Saya ingat dulu, pertama kali, ketika saya mulai menulis, saya mengawali dengan menceritakan pengalaman pribadi dan sekitar,” kata Rizqi.
Ia juga mengajak para peserta mengembangkan ide-ide dari beberapa jenis musik. Para peserta diminta untuk membayangkan dan menebak kejadian apa yang terjadi pada suatu musik. Misal, satu lagu sedih dapat ditafsirkan berbeda-beda, ada peserta yang menafsirkan itu adalah lagu perpisahan, kekecewaan, penderitaa, atau diskriminasi. Selain pengalaman dan musik, ide dapat dikembangkan melalui kepekaan, membaca, dan mencatat hal-hal yang menarik.
Kedua, menentukan bunyi dan tempo dalam kalimat. bunyi dapat mempertajam suasana. Bunyi A bisa membuat suasana lebih ceria atau bersemangat. Sementara, bunyi U dan I membuat suasana lebih murung dan sedih.
“Pengulangan bunyi tertentu dapat menimbulkan efek emosi yang berbeda,” tutur Rizqi, bersiap membacakan kalimat pusi berbunyi U.
Ia menjelaskan tempo berfungsi untuk memperpanjang atau memperpendek kalimat. “Kalimat pendek akan membuat tempo lebih cepat dan mendeskripsikan ketegangan,” jelas Rizqi bersiap membacakan paragraf, yang berisi kalimat pendek.
“Sial. Dia terus mengikuti. Siapa dia sebenarnya? Aku harus segera berbalik untuk mengacuhkannya. Langkah kakiku kuarahkan ke kanan secara mendadak. Dia pun berhenti, lalu ikut.”
Ia juga menambahkan, “Begitu juga jika menulis horor kalimatnya pakai yang pendek, satu kalimat isi dua sampai tiga kata,” katanya.
Selanjutnya, kalimat-kalimat panjang mendeskripsikan cerita sedih. “Satu kalimat terdiri dari tujuh sampai sepuluh kata, dan disertai dengan pengulangan bunyi U. itu akan membuat pembaca lebih meresapi,” jelasnya.
Ketiga, membuat struktur cerita. Rizqi Turama mengatakan bahwa ada tiga hal penting untuk membuat struktur cerita, yaitu tokoh, keinginan, dan halangan. “Kita harus menentukan terlebih dahulu siapa tokoh dalam cerita, apa yang diinginkan, dan apa halangannya. Kemudian, ide cerita itu dikembangkan. Lalu, diterapkan dalam kalimat dengan bunyi dan tempo yang disesuaikan dengan suasana cerita,” jelasnya.
Di akhir presentasi Rizqi Turama mengingatkan, “jangan pernah berlarut-larut merasa kecewa atas tulisan kita yang jelek, setelah sekian lama berusaha keras karena penulis-penulis hebat pun punya stok tulisan jelek,” tutupnya.
Bagi Anda yang ingin mengenal atau mengikuti program berdaya literasi dari Komunitas Lintas, Anda bisa mengunjungi akun media sosial di Instagram, Facebook, dan Youtube
Anda juga bisa mengunjungi Lentera media sosial App di Instagram dan mendownload Lentera App di play store dan app store.[]
Reporter: Tri Rizki
Editor : Ajiwan





