Views: 11
Solidernews,- Adhika Prakoso, difabel Tuli, menemukan titik balik yang menjadi pintu menuju ruang baru dan membuatnya lebih berkembang, yakni membangun sebuah kedai di Jakarta. Kedai itu bernama Kopi Tuli.
Ia menceritakan awal mula membangun kedai yang bertempat di Jl. Tebet Raya No. 46, Jakarta. Usai lulus dan berhasil menamatkan S1 di Universitas Bina Nusantara. Ia harus meghadapi kenyataan pahit yang sering dialami kebanyakan difabel yaitu, penolakan demi penolakan di dunia kerja. Hambatan terbesarnya saat itu adalah minimnya perusahaan yang benar-benar inklusif bagi Tuli.
Ia dan dua sahabatnya yaitu Putri Santoso dan Trierwinsyah Putra, yang juga Tuli, telah mencoba melamar pekerjaan ke banyak perusahaan, namun tidak satupun yang menerima. Latar belakangnya di bidang seni juga membuatnya tidak memiliki keterampilan teknis.
Dari pengalaman pahit itu, mereka bertiga mulai berpikir, jika dunia kerja belum bisa menerima mereka, mungkin dengan membuka usaha sendiri akan membuka peluang, bukan hanya untuk dirinya tapu juga Tuli lainnya. Dari sanalah tercetus untuk membangun usaha kedai kopi.
Ia mengaku keputusan mendirikan usaha tentu bukan hal yang mudah. Terlebih lagi, tidak satupun dari mereka memiliki pengalaman berbisnis, apalagi sebagai barista. “Saya belajar dari Youtube dan eksplorasi di media sosial, lalu survey beberapa kafe bersama dua sahabat saya selama 365 hari,” katanya.
Ia menjelaskan satu tahun mereka belajar memahami bisnis kedai kopi. Mulai dari menonton tutorial pembuatan kopi, mempelajari alur operasional kedai, mencermati konsep kafe yang sukses, serta memahami kebutuhan pasar. Hari demi hari, mereka menguji racikan, mencoba alat sederhana, dan mencatat apa saja yang harus dipelajari.
Akhirnya, setelah setahun penuh eksplorasi dan persiapan, mereka menemukan lokasi yang mereka anggap cocok di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Hingga Pada tahun 2018, Kedai Kopi Tuli resmi berdiri.
Saat pertama kali dibuka, Kedai Kopi Tuli langsung menarik perhatian masyarakat. Menurut Adhika, banyak pengunjung datang karena penasaran dengan konsep kedai kopi yang dikelola sepenuhnya oleh Tuli. Pengunjung akan menemukan lebih dari sekadar menikmati kopi, tetapi juga belajar berinteraksi dengan Tuli.
“Di Kopi Tuli kami sudah siapkan menu yang tinggal tunjuk. Untuk deskripsi menu, kami menggunakan tulisan,” jelas Adhika.
Sistem pemesanan dirancang ramah, baik Tuli maupun dengar. Tidak ada kebingungan, tidak ada hambatan. Justru pengunjung sering merasa mendapat pengalaman baru. Keunikan ini membuat suasana kedai terasa hangat. Para pelanggan datang bukan hanya untuk menikmati kopi, tapi juga untuk mendukung gerakan inklusi.
Perjalanan Kedai Kopi Tuli tidak berhenti pada satu lokasi. Setelah beberapa tahun berjalan, usaha ini terus berkembang. Kini, mereka memiliki cabang baru yang berlokasi di Pasar Santa, sebuah titik tempat yang dianggap mereka strategis untuk menjangkau lebih banyak pelanggan, termasuk komunitas kreatif dan anak-anak muda.[]
Penulis: Agus Weda Gunawan









