Views: 24
Solidernews.com, Yogyakarta. HUJAN deras disertai angin mengguyur Kota Yogyakarta pada Sabtu (10/1) sore. Namun cuaca tak menjadi penghalang peserta Sekolah Menulis Jurnalisme Perspektif, Kelas Menulis untuk Difabel Seri II. Satu per satu mereka tiba di lokasi ruang kelas yang berada di Jalan Arjuna Nomor 7, Wirobrajan, Yogyakarta. Bahkan sebagian hadir 20–30 menit lebih awal sebelum kelas dimulai pukul 15.00 WIB.
Pada pertemuan ke-14, Sekolah Jurnalisme Perspektif menghadirkan fotografer dan jurnalis senior Farid Wahdiono, sebagai fasilitator materi Fotografi Jurnalisme. Pria dengan tiga orang putra itu, kini juga sebagai pengelola media yang konsisten mengupas dunia fotografi secara mendalam dan kritis.
Materi fotografi jurnalisme menjadi bagian penting dalam kurikulum kelas menulis, karena fotografi tidak sekadar pelengkap teks, melainkan fondasi penting dalam membangun narasi visual yang kuat, etis, dan bermakna. Lima peserta kelas Seri II hadir lengkap. Mereka adalah Rini Rindawati, Victoria Nenti Saptari, Trimah, Prabandika Wirayuda, dan Sru Hardoyo. Turut bergabung pula Akbar Ariantono Putro, alumni Kelas Menulis Jurnalisme Perspektif Seri I.
Foto sebagai fakta
Farid Wahdiono, memaparkan fotografi jurnalisme adalah upaya mendokumentasikan peristiwa faktual secara akurat, sekaligus menyampaikan informasi dan emosi secara visual.
“Kerja jurnalistik memang menulis. Tapi akan jauh lebih kuat bila penulis juga bisa memotret,” ujar Farid. Menurutnya, narasi tekstual akan lebih hidup bila disertai narasi visual. Foto memudahkan pembaca membayangkan peristiwa, sekaligus menjadi bukti visual yang otentik.
Farid mengingatkan bahwa foto bukan sekadar gambar, melainkan representasi realita. Ia mengutip ungkapan klasik, a picture is worth a thousand words. Bahkan, dalam banyak kasus, foto itu sendiri sudah menjadi berita.
“Negara kita hanya punya satu foto saat Bung Karno membacakan Proklamasi Kemerdekaan dan pengibaran bendera merah putih pertama kali. Foto itu menjadi catatan sejarah yang sangat penting,” kata Farid, merujuk karya dua wartawan bersaudara, Alex dan Frans Mendur. Dari situ, ia menegaskan betapa pentingnya kemampuan memotret bagi seorang wartawan.
Pesan Farid kepada peserta sederhana namun kuat: “Keep shooting.” Teruslah memotret apa saja, sebab dengan begitu kepekaan visual akan terasah. Kamera ponsel, menurutnya, bisa dimaksimalkan untuk menangkap momen-momen bermakna.
Pada kesempatan yang sama, penyelenggara yang juga fasilitator Sekolah Jurnalisme Perspektif, Agoes Widhartono, menjelaskan materi fotografi jurnalisme dirancang sebagai bagian integral dari kelas menulis.
“Fotografi jurnalisme sangat menunjang kualitas penulisan, terutama dalam membangun narasi visual yang etis dan bertanggung jawab,” ujarnya. Dengan pemahaman tersebut, peserta diharapkan semakin sadar akan makna foto setiap kali melakukan peliputan dan menuliskan laporan jurnalistik.
Agoes menegaskan fotografi jurnalisme merupakan bagian dari kurikulum berkelanjutan Sekolah Menulis Jurnalisme. Kelas Menulis Jurnalisme dan Artikel Opini bagi Difabel. Artinya, materi ini akan selalu hadir dalam setiap seri kelas menulis yang diselenggarakan.
Mengubah cara pandang
Bagi peserta, sesi fotografi jurnalisme membawa perspektif baru. Trimah, seorang difabel tanpa kedua lengan. Ia mengaku kini lebih memahami bagaimana sebuah foto dapat bercerita secara detail, terlebih bila didukung caption yang tepat.
“Foto itu sangat dibutuhkan untuk mendukung berita yang memang nyata adanya,” katanya. Ia juga menyoroti pentingnya bukti visual di tengah pembaca yang kian kritis. Metadata foto, menurutnya, menjadi penanda bahwa sebuah berita aktual dan dapat dipercaya.
Sementara, bagi Akbar Ariantono Putro, seorang difabel netra merasakan banyak pembelajaran teknis, mulai dari kualitas cahaya, sudut pengambilan gambar, hingga momen terbaik memotret. Misalnya pagi dan sore hari. Dalam praktik menulis, fotografi membantunya menjadi lebih deskriptif. Akbar optimistis, difabel netra dapat belajar fotografi dengan dukungan teknologi AI pada ponsel, meski tetap membutuhkan kolaborasi dengan orang awas agar hasil visual semakin maksimal.
“Saya juga harus lebih baik dari AI pembaca layar dalam menggambarkan sesuatu dengan tulisan,” ujar Akbar.
Di hari itu, seluruh peserta mengenakan kaos hitam berlogo Perpsektif warna merah dan tulisan putih “Sekolah Jurnalisme Perspektif”. Identitas baru sekolah menulis.
Sesi berlangsung dinamis: pemaparan materi, diskusi, praktik langsung, hingga bedah foto. Peserta mempraktikkan pengaturan kecepatan rana, diafragma, sudut pengambilan gambar, serta memanfaatkan cahaya alami dan buatan. Suasana kelas pun menjadi objek dokumentasi yang kemudian dibedah bersama.
Diskusi berlangsung hangat hingga malam tiba. “Biarkan foto yang bicara,” sebuah kutipan yang terus terngiang. Sebuah penegasan bahwa gambar yang baik mampu menyampaikan pesan tanpa perlu banyak kata. Kelas fotografi jurnalisme berakhir sekitar pukul 21.00 WIB.[]
Reporter: Harta Nining Wijaya









