Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Ketua Penyelenggara Festival Bersemi Eco Print,Tiaswening Maharsi (memegang mic) saat acara jumpa media, di Yabbiekayu, Tembi, Bantul. Senin, 31 Maret 2026. (Dok. Solidernews/Harta Nining Wijaya)
Ketua Penyelenggara Festival Bersemi Eco Print,Tiaswening Maharsi (memegang mic) saat acara jumpa media, di Yabbiekayu, Tembi, Bantul. Senin, 31 Maret 2026. (Dok. Solidernews/Harta Nining Wijaya)

Tantangan Pelibatan Difabel di Ruang Kreatif

Solidernews,- Bantul. Di tengah kesadaran akan pentingnya ruang kreatif berbasis keberlanjutan, Bersemi Tembi Eco Creative Festival hadir sebagai inisiatif yang memadukan seni, komunitas dan gaya hidup ramah lingkungan. Festival yang digagas Yayasan Ruang Karya Harmoni ini menawarkan pengalaman holistik melalui pasar berkelanjutan, pertunjukan seni, hingga diskusi lingkungan.

Festival yang akan digelar pada 4 April 2026 di kawasan Tembi, Bantul ini menghadirkan berbagai kegiatan mulai dari lokakarya, tur desa, hingga konser musik intim. Dalam keterangan resminya, festival ini bahkan disebut sebagai ruang yang “hangat, inklusif, dan alami” bagi berbagai kalangan.

Namun di balik semangat inklusivitas yang digaungkan, aspek aksesibilitas bagi difabel masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terjawab. Ketika ditanya mengenai kesiapan aksesibilitas, panitia mengakui bahwa hingga saat ini belum ada fasilitas fisik khusus yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengunjung difabel.

Petunjuk arah berupa peta lokasi memang akan disediakan untuk membantu pengunjung mengakses berbagai titik kegiatan seperti pameran, workshop, dan bazar. Namun, informasi tersebut masih bersifat visual dan belum ramah bagi pengunjung difabel netra yang membutuhkan format seperti audio atau braille. Menunjukkan aksesibilitas belum menjadi bagian integral dalam perencanaan festival, melainkan masih bersifat umum dan belum mempertimbangkan keragaman kebutuhan pengunjung.

Dalam pelaksanaan festival, panitia bekerja sama dengan komunitas seni difabel Komunitas Bhawayang yang sebagian besar anggotanya merupakan pelaku seni difabel. Komunitas ini dikoordinatori Broto Wijayanto, yang dikenal aktif mendampingi seniman tuli. Namun demikian, keterlibatan komunitas ini masih terbatas. Mereka mengaku hanya diundang sebagai tamu dalam salah satu sesi diskusi, tanpa dilibatkan secara penuh dalam proses kurasi, kepanitiaan, maupun sebagai bagian utama dari pelaku festival.

Simak juga ..  True Story Perjuangan Love Artjog, di balik Suksesnya kunjungan Difabel Netra di Artjog 2024

Ketua Yayasan Ruang Karya Harmoni, Tiaswening Maharsi, mengakui bahwa integrasi prinsip inklusi dalam event kreatif adalah hal yang sangat penting. Namun, ia juga menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya belum secara khusus merancang aksesibilitas, baik secara fisik maupun non-fisik.

Sebagai langkah awal, panitia menyarankan agar pengunjung difabel yang ingin hadir dapat melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar panitia dapat menyiapkan pendamping atau pemandu selama kegiatan berlangsung. Meski demikian, pendekatan ini masih bersifat reaktif dan belum sepenuhnya mencerminkan prinsip desain universal yang  memungkinkan setiap orang mengakses ruang secara mandiri tanpa perlu “permintaan khusus”.

Bersemi Tembi Eco Creative Festival membawa semangat kolaborasi dan keberlanjutan yang patut diapresiasi. Keterlibatan warga, pelaku UMKM, hingga komunitas lokal menjadi kekuatan utama dalam membangun ekosistem kreatif berbasis desa.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan TERAS.ID

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki.

Numpang Lewat

Skip to content