Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Beberapa penumpang antri memasuki gerbong kereta api di momen mudik lebaran 2026. (Dok. Solidernews/Sri hartanty)
Beberapa penumpang antri memasuki gerbong kereta api di momen mudik lebaran 2026. (Dok. Solidernews/Sri hartanty)

Jogja-Cimahi: Catatan Perjalanan Mudik Lebaran 2026

Solidernews.com – “Rindu pulang,” dua kata itu sering kali bergeming, meski kadang jadi terbata-bata jika diucapkan. Empat tahun menetap di Yogyakarta bukan hanya sekedar untuk meraih cita atau mengikuti arus pindah domisili. Aku hijrah dari Kota Cimahi dengan status diri bukan lajang lagi, dan tinggal bersama suami di tempat kelahirannya Kota Yogyakarta.

Lebaran bukan hanya hari raya. Lebaran menjadi momentum untuk setiap orang bisa pulang ke pelukan keluarga, dan bagi suami lebaran menjadi momentum silaturahmi bersama mertua. Di momen lebaran tahun ini, kereta api tetap jadi moda transportasi favorit untuk kami mudik anti macet, tapi juga bukan berarti tanpa hambatan.

Sebagai pasangan difabel, mudik menjadi rutinitas tahunan yang membutuhkan banyak persiapan untuk meminimalisir hambatan dalam perjalanan. Drama ‘war’ tiket, misalnya, menjadi kesan tersendiri untuk kami. Kami mencoba di jam tengah malam secara online, ketika orang pada umumnya memilih untuk rehat dari aktivitasnya.

Hambatan penglihatan yang dimiliki suami dan gapteknya aku dalam menguasai teknologi, seringkali membuat kami kalah cepat memilih jadwal tiket yang tersisa di tanggal keberangkatan yang diinginkan. “Coba cari jadwal keberangkatan di hari sebelumnya atau di hari setelahnya,” kalimat itu selalu jadi penengah dari suami, ibarat wasit saat ‘war’ tiket kalah cepat. “Yang penting tetap bisa mudik pakai kereta api,” katanya.

Jemari berasa mati rasa ditambah kantuk yang menghadang, fokus ikut hilang, dahi berkerut. Anehnya suami masih tak patah arang, meski jam menunjukan lebih dari pukul satu dini hari. “Sini aku coba,” pintanya.

‘Tersisa dua kursi,” ucapnya begitu tegas. Jemarinya mengetik data diri dan NIK, layar handpone berjarak sekitar sepuluh senti meter dari mata low vision-nya. “Yes kirim,” katanya. Namun lagi-lagi, kami tetap kalah cepat. “Yah, keburu habis tiketnya,” keluhnya.

Simak juga ..  Tips Difabel Mudik Nyaman Pakai Kereta Api Via Stasiun Tugu Yogyakarta

Kami alami kondisi seperti ini bukan kali pertama. Kami mengeluh terhadap sistem layanan yang diterapkan PT. KAI dalam ‘war’ tiket seperti ini. Bagi difabel dengan ragam hambatan yang ingin tetap mudik menggunakan layanan transportasi kereta api, perlu upaya lebih. Mulai dari mengakses aplikasi KAI, mengisi form elektronik secara benar, cepat sesuai instruksi secara online, melakukan pembayaran via m-banking, hingga memahami instruksi syarat dan ketententuan yang berlaku lainnya.

Kebijakan PT. KAI yang mengubah ‘war’ tiket dari 30 hari menjadi 45 hari sebelum keberangkatan, bagi kami belum berdampak, karena cuti lebaran bagi pekerja formal masih serentak di hari yang sama berdasarkan hitungan kalender.  Semestinya, pihak KAI bisa membuat kuota tiket khusus untuk penumpang prioritas seperti difabel, lansia, ibu hamil, atau orang tua yang membawa anak balita, di musim mudik.

Meski kepanikan tetap terulang setiap tahun, kami ikut berburu diantara puluhan ribu orang pemudik pengguna layanan kereta api. Lantas saat berhasil, berasa separuh perjalanan mudik sudah berlalu. “Iyes, bisa mudik kita,” kata suami.

Sebagai pasangan difabel, aksesibilitas mobilitas jarak jauh dengan transportasi darat yang melaju di atas rel ini dirasa cukup aman dan nyaman. Ruang gerak cukup lega, dua tiket mudik dari stasiun Tugu menuju stasiun Bandung untuk keberangkatan tanggal 16 Maret sudah terpesan.

Bagi difabel, ada yang berbeda dengan tarif tiket mudik tahun ini. Mudik sebelumnya kami mendapat tarif reduksi dengan potongan 20% khusus untuk difabel, dari tarif penumpang pada umumnya. Sistem pelayanan ramah difabel pun begitu berasa, meski koper menggunakan jasa porter. Sejak cetak tiket kami dibantu, dikawal petugas menuju kursi tunggu hingga naik gerbong kereta api, dan memastikan kami duduk nyaman sesuai kursinya.

Simak juga ..  Stasiun Pasar Senen belum ramah difabel

Pada mudik 2026, PT. KAI membuat program potongan harga tiket 30% untuk semua penumpang kereta api. Bagi difabel harus lebih cermat dan teliti, karena bila menggunakan tarif reduksi dengan potongan 20%, khusus untuk difabel, maka program potongan harga dari PT. KAI yang 30% tidak berlaku.

Artinya harga tiket untuk difabel lebih mahal 10% dari penumpang lainnya. Jika penumpang difabel memilih tarif reduksi hanya dapat potongan 20% dari harga tiket asli. Sedangkan bila penumpang difabel tidak menggunkan tarif reduksinya maka akan mendapatkan potongan 30% sesuai program PT. KAI.

Lagi-lagi, dahi berkerut spontan. “Berarti tarif reduksi pada mudik 2026,” aku bingung melanjutkan kata antara ‘ada’ atau ‘tidak.’
Sistem layanan ramah difabel pun bias. “Mungkin kami tidak terdata ditiket reduksi,” pikirku.

Kami bersiap mudik, koper 21 inci penuh terisi kebutuhan sandang menjelang lebaran di Kota Cimahi. Banyak julukan untuk kota kelahiran aku, Cimahi Kota Tentara. Military City, karena sekitar 60% wilayahnya digunakan untuk instalasi militer, seperti pusat pendidikan, barak, dan rumar sakit TNI.

Kami berangkat dari rumah menuju stasiun Tugu, dua jam sebelum jadwal keberangkatan kereta api, Senin pagi menggunakan transportasi online mobil. Wajah stasiun Tugu tidak asing bagi kami. Suami melangkah tanpa ragu, koridor sudah ada jalur pemandu, jalur landai yang dipadati orang.

“Permisi,” ucap suami berkali-kali. Ternyata masih banyak orang yang belum paham arti jalur pemandu, ubin kuning bermotif bulat atau panjang di koridor stasiun Tugu. Banyak orang yang berdiri di atasnya sekedar berkumpul ngobrol, menunggu, atau aktifitas lain tanpa sadar ia berdiri tepat di atas jalur yang semestinya diperuntukkan bagi difabel netra.

Simak juga ..  ULD UGM Kupas Hak Aksesibilitas dan Etika Transportasi Saat Mudik

Kami menuju pintu pemeriksaan tiket untuk mendapat akses masuk ke dalam stasiun. Bagi kami, menunggu di dalam stasiun jauh lebih merasa nyaman meski kereta belum tiba. Terkadang petugas atau sekuriti menghampiri membantu cetak tiket.

Tidak seriuh di luar. Di dalam stasiun berasa kondusif, penumpang rapi duduk di kursi tunggu atau undakan lantai. Sejak dari luar berasa ada yang beda, pasukan pengguna seragam dengan ciri khas nomor punggung minim terlihat. Nyaris tidak ada.

“Cari porter ya, Dik,” kata suami.

Nah, itu yang dimaksud. Pasukan Porter, jasa angkut barang di stasiun Tugu. Padahal bagi penumpang difabel, jasa porter sangat dibutuhkan, sangat membantu. Meski hanya bawa satu koper, kami butuh tenaga porter untuk menaik turunkan koper ke bagasi kereta api yang letaknya di atas.

Tanpa porter, kami menuntun koper sendiri, menyusuri gerbong dengan banyak barang di sela-sela jalan sebadan, banyak penumpang lalu lalang mencari nomor kursi. Kami salah masuk pintu gerbong, dari premium satu menuju premium tiga. Sungguh berasa manfaat kehadiran jasa porter bagi kami.

Sampai di gerbong tiga, koper kami letakan di belakang kursi pertama, sementara kami duduk di kursi ketiga. Melewati banyak stasiun naik turun penumpang, berulang aku cek memastikan koper aman.

Perjalanan dari jam 9 pagi hingga jam 17 sore berasa cepat. Tiba di stasiun Bandung, dan melewati dua skybridge. Meski sepi porter, kami beruntung mendapatkan jasanya.[]

 

Penulis: Sri Hartanty

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan TERAS.ID

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki.

Numpang Lewat

Skip to content