Views: 6
Muak dengan ketimpangan akses teknologi dan komersialisasi, Rexya Muhammad Rizki mendirikan InfiArtt untuk mendobrak barikade tersebut. Lewat komunitas ini, ia memberikan kunci kemandirian digital secara gratis bagi difabel netra di pelosok 3T agar tak sekadar memiliki gawai, tapi menguasainya.
Solidernews,- Yogyakarta. Ketimpangan akses teknologi masih menjadi kenyataan pahit bagi difabel netra, khususnya mereka yang jauh dari pusat kota. Hambatan infrastruktur dan pendampingan di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) inilah yang menggerakkan Rexya bersama Komunitas Infiartt untuk terjun memberikan pelatihan teknologi bagi difabel netra di berbagai pelosok Indonesia.
Di fase awal Rexya Muhammad Rizki belajar teknologi asistif utamanya komputer bicara dan gawai tidak mudah. Awal tahun 2004 dia pindah sekolah dari Garut ke SLBN A Pajajaran yang berada di kompleks Sentra Wyata Guna, Bandung, Jawa Barat. Dari situlah dia mengetahui kalau difabel netra bisa menggunakan komputer dengan suara.
Saat dihubungi Solidernews pada 11 Februari 2026, pria 30 tahun itu mengungkapkan bahwa akses pengetahuan yang dikuasai oleh senior terkait komputer bicara dan gawai di masa itu sangat timpang. Mulai harga yang mahal, belum memiliki perangkat sendiri, hingga pembatasan oknum senior menjadi fase yang harus dilaluinya. “Apalagi saat ingin memasang JAWS atau Talks di gawai kita disuruh bayar tinggi. Padahal sumber dari program itu gratis,” katanya.
Kala itu, Rexya mempelajari mengetik sepuluh jari, menjelajah internet, dan dasar pemrograman secara otodidak. Semua ilmu dia dapat dari teman sebaya yang berhasil mendekati senior lalu diajari suatu ilmu. Dari hal itu, dia terus mengembangkan, hingga bisa mengakses internet mandiri pada 2008 sampai 2011.
“Dari aktivitas browsing itu saya akhirnya tahu cara memasang JAWS, talks di handphone Symbian Nokia, sampai informasi programing dasar. Di titik itulah saya sadar kalau akan banyak peluang dan potensi yang bisa diraih oleh tunanetra saat menguasai teknologi,” kata Rexya.
Di dalam fase itu, Rexya mendapat respons kurang enak dari seniornya. Pasalnya dia tidak mematok harga bahkan cenderung gratis saat ada yang meminta tolong memasang pembaca layar. Selain itu, dia aktif membagikan tips dan cara menggunakan pembaca layar secara cuma-cuma.
“Lah saya pikir ini ilmu gratis. Tempat kita mengambil juga tidak membayar. Kok bisa-bisanya saat diminta tolong malah dikomersilkan. Dari situ saya banyak mendapat perundungan dan tekanan karena niat saya yang ingin menyebarluaskan dan memudahkan akses tunanetra ke pembaca layar,” ungkap dia.
Terus Belajar dan Memperluas Pengetahuan
Bagi Rexya, difabel netra harus terus meningkatkan kapasitasnya. Termasuk dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Sebab kemampuan itu akan membuka banyak potensi lain, apalagi kini di era yang serba digital dan semua mudah diakses.
Saat mengenal NonVisual Desktop Access (NVDA) pada rentang tahun 2013 –2014, Rexya mulai beralih ke pembaca layar tersebut. Sebab pembaca layar sebelumnya, Job Access With Speech (JAWS) yang dipakai selama ini adalah hasil bajakan. Dia merasa kurang etis dan tidak bijak bila memakai produk orang tanpa izin.
“Saya pikir kebiasaan ini tidak bisa dilanggengkan. Makanya saat diperkenalkan NVDA oleh salah satu kawan di 2014, saya mulai beralih penuh, dan pembaca layar ini sangat membantu saya baik dalam mengajar ataupun bekerja,” tutur Rexya.
Pria yang aktif di DPD Pertuni Jawa Barat di Biro Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) itu aktif mendorong teman-teman difabel netra untuk menguasai teknologi. Utamanya bagi difabel netra di Jawa Barat yang belum bisa menggunakan teknologi secara maksimal. “Di sini itu banyak tunanetra yang memiliki ponsel. Tapi mereka tidak dapat memaksimalkannya.” katanya.
Rexya membuktikan hal itu dengan turut mengambil berbagai sertifikasi keahlian. Utamanya yang terkait teknologi. Seperti Sertifikasi Web Content Accessibility Guidelines (WCAG), sertifikasi resmi NVDA Certified Expert dari NV Access, dan beberapa keahlian lain. Dari keahlian itu, dia berkesempatan untuk mengisi program pelatihan dari Komdigi, aktif mengisi berbagai seminar, serta memiliki kapasitas legal dan teruji saat melakukan advokasi ke lembaga terkait saat berbicara soal aksesibilitas teknologi.
Terus Berkomitmen Menyebarkan Ilmu
Pengalaman Rexya berjumpa dengan difabel netra di berbagai daerah membuatnya resah akan ketimpangan akses ilmu teknologi asistif. Hingga pada 2019 dia pernah membuat pelatihan komputer daring yang diikuti oleh teman-teman dari seluruh Indonesia.
“Entah kenapa kok saya senang sekali melihat semangat dan ketekunan mereka saat belajar. Seperti teman-teman tunanetra dari sumatra. Hal itu, membuat saya terus bergerak, meski kerap menggunakan dana pribadi,” kata Rexya.
Akhirnya, pada 20 April 2020, bersama sejumlah teman, Rexya membentuk komunitas Infinity Art and Technology (InfiArtt). Komunitas daring ini menjadi ruang belajar bersama bagi difabel netra di berbagai daerah. Di komunitas itu, difabel netra bisa belajar teknologi, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan dalam aspek teknologi.
Bagi Rexya, InfiArtt adalah bagian dari komitmennya untuk menjembatani difabel netra agar lebih percaya diri dan mandiri di dunia digital. Dia ingin semakin banyak difabel netra yang tidak hanya memakai teknologi, tetapi juga memahami dan menguasainya. “InviArtt ini berbasis komunitas. Jadi, kami menyediakan berbagai pelatihan yang benar-benar dibutuhkan. Seperti pengoperasian pembaca layar NVDA, penggunaan Office, dan berbagai program lain,” ucapnya.
Komunitas yang Menjangkau Difabel Netra Lewat Daring
Selama hampir 6 tahun berjalan, Komunitas Infiartt telah banyak melaksanakan kegiatan. Mayoritas program dibuat secara daring. Mulai webinar, sharing online, podcast, dan berbagai pelatihan online lainnya.
Proyek terbaru Infiartt adalah mengembangkan media belajar E-learning yang akan dipublikasikan di portal InfiArtt. Di dalam media itu, akan ada materi tentang NVDA, Office, dan berbagai edukasi teknologi lainnya. Di mana harapannya pada April 2026 proyek ini dapat rilis untuk umum.
“Kendalanya ya soal pendanaan. Karena berbasis komunitas, pengerjaan modul e-learning ini tentu saat kami luang. Dengan modul itu, difabel netra yang ingin belajar dapat secara mandiri mengakses berbagai informasi dan audio panduan untuk meningkatkan skill mereka di dunia teknologi,” kata Rexya.
Format e-learning yang dibuat menggunakan standar aksesibilitas yang ada utamanya menggunakan standar dari WCAG. Mulai ada teks, audio, hingga tampilan yang mudah dijelajahi. Semua berbasis pada format modul yang telah disesuaikan serta disempurnakan oleh ahlinya.
“Kami terbuka dengan siapa pun yang mau berkolaborasi untuk mewujudkan e-learning tersebut. Kini sudah dalam masa percobaan internal kami. Semoga lekas bisa dinikmati teman-teman tunanetra di seluruh Indonesia,” ujar Rexya menutup wawancara.[]
Reporter: Wachid Hamdan









