Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Rino Jefriansyah berdiri di dalam ruangan sambil memegang gitar bass elektrik. Ia mengenakan kacamata hitam, headphone besar, kaos hitam, rompi biru, celana panjang gelap, dan sepatu hitam. Ruangan terlihat terang dengan lantai keramik putih dan jendela besar yang ditutupi tirai tipis serta gorden biru.
Mengenakan headphone dan kacamata hitam, Rino Jefriansyah berdiri sigap memegang gitar bass elektriknya di sebuah ruangan terang yang berlatar tirai biru. (Dok. Pribadi/ Rino Jefriansyah)

Melihat Lewat Suara: Bagaimana Reaper Menghapus Batas bagi Audio Engineer Netra

Views: 13

Siapa bilang dunia audio engineering yang sarat visual hanya milik mereka yang melihat? Bagi Rino Jefriansyah dan Agus Putrantro, gelombang suara tidak perlu dilihat untuk bisa diramu menjadi karya. Berbekal perangkat lunak Reaper dan skrip bernama Osara, para difabel netra ini membuktikan visual bukanlah hambatan untuk bersaing di industri kreatif.

Solidernews,- Sleman. Di dunia kerja audio profesional, banyak perangkat lunak dibuat dengan mengandalkan tampilan visual. Kondisi ini sering menjadi hambatan bagi difabel netra. Namun, Reaper hadir sebagai salah satu program audio yang relatif lebih ramah dan bisa diakses menggunakan pembaca layar.

Reaper dapat digunakan bersama pembaca layar seperti NVDA dan JAWS. Akses ini semakin kuat dengan adanya Osara, yaitu skrip tambahan yang membantu difabel netra memahami isi layar Reaper melalui suara. Dengan Osara, pengguna dapat mengetahui posisi track, durasi audio, level suara, hingga proses mixing tanpa harus melihat gelombang suara.

Saat dihubungi Solidernews, pada 16 Desember 2025, Rino Jefriansyah, difabel netra yang menggeluti profesi audio engineering, mengungkapkan bila mengolah audio dan membuat produk audio untuk klien kini bukan hal rumit. Dengan Program Reaper, difabel netra dapat mengolah dan meramu berbagai konfigurasi audio dengan mandiri.

“Reaper itu bukan cuma software. Dengan Osara, saya bisa tahu posisi track, durasi audio, sampai level suara hanya lewat pembaca layar. Saya tidak perlu merepotkan orang awas untuk membantu saya,” ujar Rino.

Aksesibilitas dalam Program Audio

Menurut Rino, aspek aksesibilitas dalam perangkat lunak audio sering kali dianggap sebagai fitur tambahan, padahal bagi difabel netra, aspek itu merupakan prasyarat utama untuk bisa bekerja. Banyak Digital Audio Workstation (DAW) populer menawarkan fitur canggih, tetapi tertutup secara akses karena hampir seluruh proses editing bergantung pada klik dan visualisasi grafis. Kondisi ini secara tidak langsung membatasi peluang kerja difabel netra di industri kreatif audio.

Simak juga ..  Mengenal Aplikasi Lazarillo: Sahabat Berjalan Adaptif bagi Difabel Netra

Rino menegaskan, editor audio profesional editor dengan Reaper ini memungkinkan difabel netra tidak kalah dengan editor audio yang terkenal lainnya. Hasil karya difabel netra yang bekerja di bidang editing audio ini sama-sama memiliki skil yang setara. Tinggal mengikuti standar dari pemintaan pelanggan atau lebel. “Setiap lebel, kan, punya perhitungan sendiri dan teman netra itu bisa, kok, melakukannya asal dikasih kesempatan,” kata Rino.

Bekal bagi difabel netra sebagai audio engineering

Menurut Rino, agar dapat memaksimalkan profesi sebagai audio engineer, difabel netra membutuhkan lebih dari sekadar perangkat lunak yang aksesibel. Bekal utama justru terletak pada kombinasi antara pengetahuan teknis, kepekaan pendengaran, serta keberanian untuk terus belajar dan beradaptasi dengan standar industri. “Reaper memang membuka pintu, tetapi kemampuan individu tetap menjadi kunci utama untuk bertahan dan berkembang,” ujarnya, melanjutkan.

Lebih lanjut, Rino mengatakan pada tahap awal menggunakan Reaper, hal pertama yang perlu disiapkan oleh pengguna difabel netra adalah Osara. Osara merupakan script tambahan yang berfungsi menjembatani Reaper dengan pembaca layar NVDA, sehingga berbagai menu, track, dan proses editing dapat diakses melalui suara. Tanpa Osara, Reaper akan sulit digunakan secara mandiri oleh difabel netra, karena sebagian besar informasi masih ditampilkan secara visual.

“Pada reaper ini untuk mengatasi yang tidak aksesibel itu dengan script. Kalau tidak ada, difabel netra dapat memaksimalkan NVDA aja. Dengan memaksimalkan navigasi recognize, screen review, dan object review,” jelas Rino

Agus Putrantro, difabel netra yang menggeluti audio engineering. Difabel netra harus menguasai pengoperasian PC atau Laptop yang sudah terinstal pembaca layar. Selain itu, menggunakan program yang sesuai, misal Reaper yang sudah dikonfigurasi untuk dapat maksimal dijelajahi oleh pembaca layar.

Simak juga ..  Braille di Persimpangan Zaman: Masih Relevan atau Mulai Ditinggalkan?

“Jadi, penguasaan komputer dan penjelajahan lebih lanjut penting dikuasai,” kata difabel yang juga berprofesi sebagai guru, saat dihubungi Solidernews, 25 Desember 2025.

Tantangan yang harus diantisipasi

Meski Osara membuat Reaper jauh lebih aksesibel, tantangan belum sepenuhnya selesai. Beberapa Virtual Studio Technology (VST) atau plugin audio masih memiliki antarmuka yang kurang ramah bagi pembaca layar. Artinya, tidak semua plugin bisa langsung digunakan meskipun Reaper sudah dapat diakses dengan baik. Dalam kondisi ini, difabel netra membutuhkan script tambahan yang dirancang khusus untuk VST tertentu.

Salah satu contoh yang sering ditemui adalah VST Kontak. Untuk dapat mengoperasikannya secara mandiri, pengguna memerlukan script khusus yang berbeda dari Osara. Script ini tidak selalu tersedia secara gratis dan dalam beberapa kasus harus dibeli dengan mata uang dolar Amerika.

Situasi ini menunjukkan bahwa tingkat aksesibilitas di Reaper sangat bergantung pada kebutuhan masing-masing pengguna. Semakin kompleks kebutuhan produksi audio, semakin besar pula kemungkinan diperlukan tambahan script atau alat pendukung lain agar proses kerja tetap bisa dilakukan secara mandiri dan profesional.

“Batas tertentu di Reaper justru berbicara juga dengan skil. Kalau tahapannya sudah jauh sekali, saya biasanya akan menghubungi teman saya yang lebih jago lagi di Reaper untuk berkolaborasi,” jelas Rino.

Cerita menggarap proyek audio

Agus Putrantro menyampaikan salah satu proyek berkesan baginya adalah membuatkan audio jingle dan mars untuk salah satu bank. Proyek itu bermula saat dirinya menjadi pembicara dalam acara bank tersebut, yang kemudian saat ngobrol dengan petinggi, ia mendemonstrasikan cara kerjanya, termasuk dalam membuat audio dan mars.

Simak juga ..  Mengenal Aplikasi Lazarillo: Sahabat Berjalan Adaptif bagi Difabel Netra

“Dari pertemuan itu, bank terkait meminta saya untuk dibuatkan mars dan jingle. Lalu, berkelanjutan ke beberapa perusahaan lain,” kata Agus.

Sedangkan Rino, menceritakan pengalamannya ketika mengerjakan proyek developer game audio Constant Battle yang berkesan baginya. Ia membantu membuatkan sound-sound baru atau memperbaiki yang sudah ada. Selain itu, pesanan dari komunitas dan organisasi difabel yang membutuhkan jasanya.

“Untuk saat ini, yang sering memesan justru datang dari sesama teman difabel netra. Proyek yang sering saya tangani adalah menggabungkan dua audio atau lebih untuk jadi satu audio. Mulai drama, pembacaan puisi, dan lainlain,” ujar Rino.[]

 

Reporter: Wachid Hamdan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content