Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Samuel Santoso, difabel netra asal Solo yang juga dikenal sebagai pemimpin Pelayanan Rafa Solo Difabel berfoto di samping ornamen perayaan imlek.
Samuel Santoso, difabel netra asal Solo yang juga dikenal sebagai pemimpin Pelayanan Rafa Solo Difabel berfoto di samping ornamen perayaan imlek. (Dok. Istimewa)

Sisi Lain Perayaan Imlek dan Tantangan Inklusivitas bagi Difabel

Views: 2

Solidernews,- Jawa Tengah. Tahun Baru Imlek selalu menghadirkan suasana yang khas. Bagi sebagian orang, momen ini identik dengan kumpul keluarga, angpao, kue keranjang, dan doa-doa baik untuk tahun yang baru. Namun, bagi difabel netra, Imlek juga menyimpan pengalaman yang unik, penuh cerita, sekaligus tantangan tersendiri bukan sekadar perayaan saja.

Blaise Yong, seorang difabel netra asal Malaysia yang kini dikenal sebagai konten kreator, mengatakan bahwa ada satu hal yang hampir selalu terjadi setiap kali Imlek tiba. “Kadang mereka menyalami saya, tapi tidak mengeluarkan suara sama sekali,” ujarnya kepada Solidernews pada Selasa, 17 Februari 2026.

Keluarganya ingin mengetes apakah ia bisa mengenali satu persatu atau tidak. Bagi orang awas, hal itu mungkin dianggap candaan biasa. Namun bagi difabel netra sepertinya, mengenali seseorang di tengah keramaian bukan perkara mudah.

Blaise, bercerita, anggota keluarganya datang dari berbagai daerah yang jaraknya cukup jauh. Ada yang berasal dari Kuala Lumpur, sementara ia sendiri tinggal di Sabah. Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Sabah harus ditempuh dengan pesawat. “Karena itu, kadang kami hanya bertemu enam bulan sekali atau bahkan setahun sekali,” katanya.

Pertemuan yang jarang itu membuat suasana Imlek menjadi sangat ramai. Sepupu, om, dan tante berkumpul di satu rumah. Dalam keramaian itulah, Blaise sering mengalami kejadian yang menurutnya sudah seperti ritual tahunan. “Beberapa sepupu atau om dan tante suka bercanda dengan saya,” ucapnya sambil tertawa kecil. “Mereka ingin mengetes apakah saya bisa mengenali mereka atau tidak,” katanya, melanjutkan.

Di sisi lain, budaya Tionghoa di keluarganya memiliki aturan yang cukup ketat soal tata krama, terutama saat Imlek. Salah satunya adalah tradisi memberi angpao. “Karena itu, saya harus tahu bagaimana menyapa setiap orang dengan benar,” ujarnya. Ia harus memanggil setiap anggota keluarga sesuai dengan namanya.

Simak juga ..  Ketua Komite UNCRPD Ingatkan Negara Pihak Penuhi Kewajiban Menyediakan Alat Bantu dan Teknologi Alat Bantu

Ia menjelaskan bahwa dalam budaya Tionghoa, sebutan untuk paman dan bibi sangat beragam. Tidak cukup hanya menyebut “paman” atau “bibi”. Semua tergantung dari garis keluarga dan urutan usia. Ia kerap diminta menebak siapa yang sedang berdiri di depannya, baik dari ciri fisik yang bisa disentuh maupun dari suara. “Kalau tidak bisa dari fisik, ya dari suara mereka,” ujarnya dengan tawa kecil.

Pengalaman serupa juga ia alami di acara keluarga lainnya, seperti pernikahan. Kadang ada saudara yang tidak sempat hadir di acara tertentu. Ketika akhirnya bertemu, ia kembali harus menebak identitas mereka. “Misalnya sepupu saya, kalau mereka sudah menikah, kadang saya meluangkan waktu untuk menebak siapa mereka dari suara atau cara bicara mereka,” tuturnya.

Tahun ini pun tak jauh berbeda. Salah satu sepupu perempuannya menikah, disusul oleh kakaknya sendiri. “Kalau istri kakak saya, saya sudah tahu suaranya, jadi saya bisa mengenalinya,” kata Blaise.

Cerita lain datang dari Samuel Santoso, difabel netra asal Solo yang juga dikenal sebagai pemimpin Pelayanan Rafa Solo Difabel. Bagi Samuel, esensi Imlek bukan terletak pada besar atau kecilnya perayaan. “Yang terpenting bukan soal eksklusif atau tidak, tapi apakah perayaan itu bisa membuat saya merasa senang dan bahagia,” katanya kepada Solidernews pada Rabu, 18 Februari 2026.

Meski begitu, ia mengakui bahwa perayaan Imlek di ruang publik masih belum sepenuhnya ramah difabel. Masalah utama, kata Samuel, bukan pada acaranya, tetapi pada aksesibilitas. Ia mengungkapkan bahwa akses jalan yang tersedia saat ini masih kurang ramah bagi penyandang disabilitas.

Simak juga ..  Setahun Prabowo–Gibran dan Momentum Sumpah Pemuda: Ketika Janji Nasional Bertemu Suara Difabel

Selain itu, ia juga menilai respons masyarakat yang dinilai masih kurang menghargai kehadiran difabel. Bahkan, ia menyayangkan kondisi di lingkungan keluarga sendiri, di mana masih ditemukan orang tua yang enggan mengajak anak difabel mereka untuk turut serta merayakan Imlek di ruang publik.

“Kalau ke ruang publik, paling ke mal atau jalan-jalan lihat barongsai,” katanya. Menurutnya, suasananya menyenangkan, tetapi belum maksimal. “Kalau bicara soal ramah difabel, mungkin baru sekitar 50 persen,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan perayaan seperti Imlek bukan hanya milik orang-orang yang dianggap normal. Difabel juga berhak merasakan dan berpartisipasi dengan akses yang sama.[]

 

Reporter: Tri Rizki Wahyu Djari

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content