Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Wawan dan Istri berfoto di depan warung kelontongnya.
Wawan dan Istri berfoto di depan warung kelontongnya. (Dok. Istimewa)

Ketika Difabel Netra Mengelola Warung Kelontong Pakai AI

Views: 13

Solidernews,- Bali. Wawan Hendra Gunawan adalah seorang Netra yang mencoba bertahan hidup dari usaha warung kelotong tepat di depan rumahnya, di jalan Pulau Batam Terminal Pesiapan Tabanan No. 95. Usaha itu ia mulai sejak tahun 2008, dengan modal awal yang ia pinjam dari koperasi desa senilai Rp5 juta.

“Syukurnya usaha saya masih berkembang sampai dengan saat ini,” cerita Wawan, kepada Solider melalui pesan WhatsApp, 20 Februari 2026.

Wawan sadar, akses terhadap pekerjaan layak dan kesempatan ekonomi yang setara sering kali menjadi tantangan. Minimnya lapangan kerja yang ramah, serta pandangan masyarakat yang masih meragukan kemampuan difabel. Itulah alasannya mencoba untuk mencari peluang lain, salah satunya membuka usaha warung kelontong.

Keberanian Wawan memulai usaha di masa ketika teknologi belum berkembang seperti saat ini adalah langkah yang cukup memotivasi, karena pada masa itu belum ada aplikasi pembaca lembaran uang seperti AI. Semua ia lakukan dengan ketekunan, keuletan, dan cara yang ia ciptakan sendiri.

Sebagai Difabel Netra, Wawan mengandalkan indra peraba serta daya ingat untuk mengelola warungnya. Ia menjelaskan bagaimana ia menghapal seluruh produk yang dijual, termasuk jumlah dan posisinya di rak. “Ini untuk memudahkan kita mengingat barang yang laku, sisanya berapa, dan agar mudah mengambilkan pembeli,” ujar difabel yang akrab disapa Wawan. asal Tabanan, Bali itu.

Untuk produk rokok, misalnya, ia menempatkannya dalam urutan tertentu di rak yang telah ia hapal dengan baik. Begitu juga dengan barang dagangan lainnya. “Jadi kalau ada pembeli, saya bisa cepat mengambilnya,” tambahnya. Selain itu, ia selalu melakukan pengecekan rutin dengan meraba rak untuk memastikan jumlah barang tetap sesuai catatannya.

Simak juga ..  Pamflet Generasi: Merawat Gerakan Interseksional dalam Arisan Laba-Laba Sosial

Salah satu tantangan terbesar bagi Wawan dalam berjualan adalah saat transaksi, khususnya membedakan uang. Untuk itu, ia sudah memiliki metode tersendiri dan menurutnya cukup efisien. Ia menggunakan tas kompek dengan tujuh kantung, masing-masing diisi berdasarkan nominal yang berbeda. Tujuannya untuk memisahkan setiap nominal uang. “Misalkan sepuluh ribu saya letakkan di kantung yang sama, begitu juga dengan lembaran lain. Jadi waktu memberi kembalian, saya bisa bergerak cepat,” kata laki-laki asal Tabanan, Bali itu.

Ia menjelaskan bahwa meskipun saat ini sudah ada AI untuk membaca uang, ia telah memulai usahanya jauh sebelum teknologi tersebut tersedia. Hingga kini, ia mengaku belum pernah dibohongi oleh pembeli dan tetap memilih menggunakan metode lama. Menurutnya, menghafal posisi uang jauh lebih cepat untuk memberikan kembalian dibandingkan harus memindai uang setiap saat menggunakan teknologi.

“Biasanya saya pakai AI kalau merasa ragu dengan uang yang diberikan pembeli, tapi saya mengeceknya setelah pembelinya pergi agar ia tidak tersinggung,” tutur Wawan.

Ia menggunakan kepekaannya terhadap suara dan gerak-gerik pembeli. Suara menjadi petunjuk utama yang membantunya mengetahui siapa yang datang, apa yang diambil, dan memastikan transaksi berlangsung dengan benar.

Ia sudah menghafal semua pembeli yang sering datang ke warungnya dengan cara mengingat suara mereka. Apabila ada pembeli baru, ia akan duduk di dekat orang tersebut untuk berbincang sekaligus mendengarkan suara barang yang diambil oleh si pembeli. “Setelah pembeli bilang apa saja yang diambil dan membayar, saya pastikan kembali dengan meraba barang dagangan saya apakah jumlahnya berkurang sesuai yang ia katakan,” kata dia.

Simak juga ..  Begini Perjuangan Komunitas Difabel Bali Kawal Revisi Perda Disabilitas

Ia mengungkapkan bahwa biasanya ia menggunakan AI untuk mengenali produk dagangan yang baru dibeli agar lebih mudah menentukan letak raknya, dan setelah itu ia akan menghafal posisinya. Dengan cara tersebut, ia selalu memastikan bahwa seluruh barang tetap tertata serta mudah dijangkau saat dibutuhkan oleh pembeli.

Usaha warung ini tidak dijalankan Wawan sendirian. Istrinya, Ketut Rani yang juga seorang netra juga turut aktif membantu. Salah satu tugasnya adalah membuat kopi dan minuman untuk pelanggan. Saat membuat pesanan kopi, mereka biasanya menempelkan tiga jari di permukaan sisi gelas. Hal itu dilakukan karena panas air yang merambat di permukaan gelas memungkinkan mereka untuk merasakan apakah takaran airnya sudah sesuai atau belum.

“Sampai saat ini kita selalu ramah dengan pembeli. Penduduk sekitar merasa nyaman. Bahkan saking ramahnya saya, setiap langkah kaki atau suara yang mendekat ke warung saya sapa dengan kata ‘halo’, meskipun itu hanya orang lewat,” ujar dia sambil tertawa. Menurutnya, keramahan adalah salah satu cara marketing dan pelayanan agar pembeli nyaman dan kembali berbelanja di warungnya.[]

 

Penulis: Agus Weda Gunawan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content