Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Yuk, Bahas ADHD Pada Orang Dewasa!

Solidernews.com – Pada siaran Radio Pelita Kasih (RPK) FM yang bekerja sama dengan KPSI,  dr. Rivo Mario Warouw Lintuuran, Sp.KJ membahas tentang Attention Deficit Hiperactivity Disorder  (ADHD) pada orang dewasa dan faktor risiko yang menimbulkannya. Beberapa faktor di antaranya adalah : faktor biologis, keturunan, ibu yang  perokok serta temperamen/ pengendalian diri kurang.

 

Terkait faktor pola asuh, menurut penelitian, pola asuh orangtua tidak berpengaruh pada ADHD. Tetapi seiring berjalannya waktu pola asuh berpengaruh pada gejala yang sebelumya sudah ada dan bertambah besar.

 

Apakah ADHD bisa langsung  ditangani oleh psikiater? dr. Rivo menjawab bila dideteksi sejak awal usia anak akan menjadi lebih baik. Biasanya sebelum 12 tahun atau bahkan sebelum masuk sekolah. Dokternya harus tahu apa benar ada ADHD atau ada masalah perilaku. Bisa ditangani dengan obat dan terapi. Bila  lebih ringan dengan terapi saja.

 

Pada orang yang memiliki anxietas/kecemasan kemudian  pikiran mudah berpindah-pindah, kalau dibilang ADHD perlu dilihat  apakah kondisi ini sudah ada sebelum didiagnosis cemas sebelum berusia 23 tahun seperti yang terjadi pada Lestari, seorang dengan anxietas. Misalnya saat masih di usia anak apakah sudah ada gejala suka lupa, suka ceroboh. Kalau baru ada di  23 tahun atau saat sekarang  maka itu bagian dari anxietas. Berkonsultasi kembali kepada psikiater adalah jalan terbaik.

 

Pada orang-orang yang memiliki depresi  dan kecemasan, bukan hanya mood-nya saja yang bermasalah  tapi berpengaruh pada pikiran dan  atensinya. Sebab orang depresi sulit mengambil keputusan. Jadi tidak hanya berhenti pada depresi dan kecemasan saja dan hal ini  bisa dikunsultasikan.

 

Dalam asesmen/penilaian yang dilakukan, biasanya pada orang dewasa cenderung lupa. Maka nanti akan ada  tambahan data dari orang yang pernah tinggal bersamanya. Apakah ada ciri ciri sejak kecil yang menggambarkan tentang itu.

 

Apa Beda ADHD Pada Dewasa dan Anak?

ADHD pada orang dewasa cenderung disadari saat dewasa. Perbedaannya dengan anak-anak jelas ada. Ada dua kelompok gejala ADHD yakni  masalah atensi atau fokus perhatian.  Orang yang ada masalah dengan atensi,  mereka tidak fokus pada hal-hal detail. Misalnya menulis sesuatu kemudian lupa, harusnya lengkap ternyata ada yang kurang. Kedua, dewasa pun ada misalnya  ada yang ketinggalan. karena atensinya lebih lama dan tidak bisa fokus. Ketiga terkesan pikirannya tidak disitu alias tidak fokus atau tidak hadir. Keempat sulit menyelesaikan tugas.Di tengah jalan ada masalah kemudian terdistraksi atau tidak bisa selesaikan tugas. Sulit mengatur tugasnya atau aktivitasnya. Manajemen waktu berantakan. Dia akan menjauhi kegiatan yang membutuhkan fokus lama. Tidak  bisa duduk satu jam. Ada penghindaran. Bahkan ia bisa kehilangan barang. Begitulah gambaran ADHD pada dewasa. Kalau anak kecil harusnya dia pulang bawa pensil dan bolpen tapi dia tidak bawa itu.

 

Jika ADHD pada anak,   sebelum masuk sekolah ada perilaku  hiperaktif misalnya larinya muter-muter. Lainnya lari biasa tapi ia yang punya ADHD  sukanya  memanjat.  Saat di sekolah cenderung hiperaktif dan kurang fokus patut dicurigai sebagai ADHD.

 

Pada ADHD orang  dewasa berkurang hiperaktifnya tetapi  tertinggal  atensinya. Ia tidak bisa mengerjakan tugas, sering lupa. Pada sebuah kasus ADHD juga berwujud banyak aktivitas. ADHD khas pada masalah atensi fokus dan hiperaktifnya, bukan masalah IQ-nya.

 

Peran lingkungan sangat penting  untuk membantu mungkin dengan penyampaian yang tidak berkesan menstigma,  menyinggung  perasaan atau mengejek. Seperti ketika dilakukan pada sebuah workshop, misalnya . mungkin pada kegiatan pelatihan  ini ada sesi istirahatnya. ‘Kalau lingkungan peka dan menyampaikam dengan baik maka akan mendukung,”tegas dr. Rivo.

 

Budaya di Indonesia banyak dijumpai belum sepenuhnya mendukung. Ada masyarakat awam yang masih menstigma.  Masyarakat umum harusnya tahu gangguan mental itu apa  dan ADHD itu apa. Selama ini  pengalaman  60-70 persen orang dengan gangguan  bisa berlanjut di masa dewasa. Sisanya berarti bisa diobati atau sembuh.

 

Pengobatan bagi ADHD dewasa ada  dua hal :  obat dan terapi. Obat pada umumnya  cenderung tidak menghilangkan gejala. Tapi bisa fokus. Untuk cenderung fokus maka harus terapi dan diobati dulu.

 

Terapi Bisa dengan Psikiater atau Psikolog

Kalau dewasa biasanya mereka tidak mau repot. Karena sudah sibuk terlebih dahulu dengan berbagai aktivitas. Pada dewasa terapinya minimal 30 menit – 1 jam. Orang-orang dewasa akan berpikir panjang jika akan melakukan itu. Terapi bisa  seminggu sekali dan kalau ada ketinggalan  misalnya  satu sesi maka akan berantakan.

 

Pengalaman dr. Rivo mengobati  mereka,  ada yang meminta obatnya saja dan ada  obat yang diminum saat dia alami saja miisalnya bagi pasien yang berprofesi  jurnalis. Jadi obat diminum saat itu saja. Untuk guru juga saat itu juga. Mereka perlu fokus untuk  hal- hal di  luar itu. ADHD menurutnya, tidak perlu terus-terusan minum obat. Obat itu saat ini ada di Indonesia dan gratis dengan BPJS.

 

Orang yang memiliki ADHD ada masalah dengan hormon Dopamin. Jika ada kegiatan yang ada hubungannya dengan Dopamin maka timbul persoalan baru.

 

Ada ibu yang membawa anaknya tidak bisa  fokus. Si anak sulit saat membaca soal tetap ketika main game dia bisa berjam-jam.  Kegiatan yang cenderung menimbulkan kenikmatan segera tidak masalah bagi orang dengan ADHD.

 

Beberapa latihan kecil bisa diberikan pada ADHD misalnya diberi  waktu mengerjakan  pekerjaan rumah akan selesai kapan. Selain itu lebih utama adalah melakukan terapi.

 

Lalu bagaimana  jika ada anggapan apa benar anak ADHD harus diet gluten. Dijawab oleh dr.Rivo bahwa ada faktor risiko. Tapi bukan penyebab.

 

Anak-anak ADHD yang tidak diet kemudian meningkatkan gejala ADHD. Harus ada pembatasan dan hal-hal lain. Penting diperhatikan pula  lingkungan, keluarga dan  adanya dukungan

 

Penegakan diagnosis minimal pada usia anak adalah  sebelum 12 tahun bisa dibilang apakah itu ADHD atau bukan. Anak dengan ADHD suka impulsif misalnya tiba-tiba mencolek temannya. Tiba-tiba jalan mengitari kelas.

 

Kalau hiperaktif pada dewasa : perasaan di hatinya tidak tenang selain itu ada masalah fokus, juga mereka tidak bisa menikmati momentum, tidak  nyaman kalau berdiam saja. Jika berbicara maka akan  ngomong banyak. Salah satu gejala pada orang dewasa  sampai ia mengganggu orang lain tanpa permisi, misalnya  orang sedang ngobrol tiba-tiba dia masuk. Misalnya ada game dia masuk saja. Orang ini akan bergerak terus dan ibarat mesin, ia menyala terus.

 

Kalau sudah dalam tahap dewasa  jangka waktu minum obat dan terapi adalah  datang bila sangat perlu. Obat dianjurkan untuk ada stok dan bisa diminum bila perlu. Risiko atau berbahayanya karena ada impulsifnya. Ia tidak bisa berpikir bahaya. Dampaknya pada orang dewasa adalah  masalah hubungan dan pekerjaan misalnya  sering kecelakaan.

 

ADHD pada orang dewasa masuk  gangguan mental/jiwa, yang cenderung sudah ada sejak kecil tetapi manifestasinya sudah muncul sejak kecil atau dewasa. Ada faktor biologis dan psikososialnya. ADHD pada dewasa cenderung ada gejala gangguan lainnya seperti anxietas/kecemasan  atau bipolar.[]

 

Reporter: Astuti

Editor     : Ajiwan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air