Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

YEU dan Fakultas Psikologi UGM Dorong Inklusifitas dalam Penanggulangan Bencana

Solidernews.com –

Ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana terus diperkuat oleh berbagai aktor penanggulangan bencana (PB), termasuk lembaga kemanusiaan, salah satunya YAKKUM Emergency Unit (YEU), dan institusi pendidikan, seperti Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Kedua lembaga tersebut bekerja sama mengadakan Demo Day dan Simposium IDEAKSI di Hall D Psikologi UGM pada sabtu (7/10) sebagai ajang promosi dan kolaborasi PB.

 

Direktur YAKKUM Emergency UnitDebora Dian Utami Nugraheni, S.I.P. memaparkan,  Perjalanan IDEAKSI sebenarnya sudah dimulai dari tahun 2020 pada masa pandemi. Saat itu, kami bersama mitra-mitra global untuk berdiskusi dan merancang program seperti apa yang perlu kita buat yang benar-benar bisa memberikan dampak untuk masyarakat. “Visinya sama, respons kemanusiaan itu bisa benar-benar menjawab kebutuhan yang ada tapi dengan cara yang bermartabat, berkelanjutan, dan juga efektif. Ketika IDEAKSI ini digagas, ada dua hal yang mau kita proses bersama, yaitu (1) bagaimana solusi yang muncul dari masyarakat bisa menjawab tantangan yang diidentifikasi sendiri oleh masyarakat, dan (2) masyarakat merasa berdaya, percaya diri, dan didukung untuk bisa membawa perubahan itu melalui inovasi-inovasi yang dimunculkan. Di situlah pentingnya peran kolaborasi dari lintas sektor.”

 

Sementara itu, Wakil Presiden Asian Disaster Reduction and Response Network (ADRRN) dan Kepala ADRRN Tokyo Innovation Hub (ATIH)—Jepang, Takeshi Komino menyampaikan olaborasinya dengan YEU di IDEAKSI dimulai sejak 3 tahun lalu, dan pihaknya senang mengetahui bahwa saat ini telah masuk ke fase IDEAKSI Kedua di inisiatif yang penting ini. “Sekarang kita memasuki masa risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya karena perubahan iklim dan dampaknya. Kita tidak dapat mengelakkan pentingnya solusi lokal terhadap permasalahan lokal. Untuk melakukan ini, kita perlu memiliki pola pikir/mindset inovatif, mencoba menyelesaikan permasalahan yang belum terselesaikan. Saya harap acara IDEAKSI hari ini dapat menjadi peluang bagi kita semua untuk saling belajar satu sama lain.”

 

Demo Day dan Simposium IDEAKSI ini menjadi ruang bertukar pengetahuan dan pembelajaran antarpeserta (inovator dan audiens). Peserta dapat mencari calon kolaborator, mentor, rekan, atau investor sehingga acara ini merupakan lingkungan yang kondusif untuk menjalin hubungan bermakna yang dapat mengarah pada kemitraan dan ruang untuk ekosistem pendukung yang memupuk dan mempercepat realisasi ide-ide inovatif.

 

Dalam acara yang berlangsung di lingkungan kampus terkemuka di Indonesia ini, hadir lebih dari 150 partisipan, termasuk dari organisasi masyarakat sipil, pelaku usaha, perwakilan media, dan pemerintah daerah termasuk dinas-dinas terkait. Tidak hanya dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), hadir pula di secara daring lebih dari 50 peserta dari seluruh Indonesia.

 

Kegiatan yang menghadirkan bermacam elemen masyarakat dan pemangku kepentingan (stakeholders) ini mendapat sambutan hangat dari lembaga mitra di luar negeri, seperti the Asian Disaster Reduction and Response Network (ADRRN) dan Elrha. Wakil Dekan Fakultas Psikologi UGM dan Direktur YEU turut hadir menyambut para peserta Demo Day dan Simposium. Acara ini pun dibuka langsung oleh Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dr. Raditya Jati, S.Si., M.Si.

 

Ia menyampaikan bahwa 20 tahun lalu, [dalam tsunami] lebih dari 200 ribu orang meninggal. Tahun 2006, Yogyakarta sendiri mengalami kejadian bencana, dalam hitungan kurang dari satu menit, lebih dari 5000 orang meninggal. Dalam 5 tahun terakhir, lebih dari 17 ribu bencana terjadi di Indonesia, 98% disebabkan [faktor] hidrometeorologis.   Kearifan lokal menjadi suatu cara menerjemahkan [mitigasi bencana] menjadi kesadaran kolektif masyarakat, apalagi saat ini dilakukan di Universitas Gadjah Mada yang cukup kuat dengan pembangunan masyarakatnya. “Saya ucapkan terima kasih karena semangat yang diusung dalam Demo Day dan Simposium ini membangun resiliensi bangsa kita yang berkelanjutan.”

 

Selain itu, beliau menyampaikan pentingnya tidak hanya melakukan pemberdayaan multipihak melalui manajemen risiko bencana berbasis masyarakat (community-based disaster risk management—CBDRM), tapi juga memperkuat modalitas sosial, “Yang perlu kita lestarikan, yang membedakan kita dari negara-negara lain, adalah modalitas sosial yang kita punya. Kita selalu membangun semangat gotong royong, tidak hanya saat terjadi bencana, tapi sebelum terjadi bencana kita siap melakukan simulasi, gerakan, pelestarian lingkungan supaya tidak terjadi bencana,” demikian  Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Dr. Raditya Jati, S.Si., M.Si memaparkan.

 

Dari dari sisi akademisi, Fakultas Psikologi  sudah lama memiliki concern ke isu kebencanaan. Hal ini  terutama setelah terjadinya Tsunami Aceh 2004. Setelah itu, Fakultas Psikologi mendirikan crisis center yang dimotori oleh Bapak Dekan, Pak Rahmat Hidayat, [Ph.D.],  yang kemudian menjadi Center for Public Mental Health (CPMH) yang banyak berkecimpung untuk isu kesehatan mental. “Saya rasa dari sejarah Fakultas Psikologi yang memiliki concern yang lama dan sekarang ada Mbak Dytia [Pradytia Putri Pertiwi, Ph.D.] dan timnya yang secara spesifik ingin mengembangkan tema-tema tentang kebencanaan, tidak hanya di risetnya, tapi juga benar-benar di aksi, kami di Fakultas Psikologi juga berharap nantinya dengan berbagai kerja sama, termasuk dengan YEU, kami bisa mengembangkan concern kami tentang kebencanaan”. Tersebut di atas diungkapkan oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Dr. Wenty Marina Minza, MA.

 

Wenti melanjutkan, Fakultas Psikologi selama ini sudah memiliki Concern terhadap isu difabel. Ia memaparkan,  beberapa dosen di Fakultas Psikologi seperti Praditya Pratiwi sudah cukup lama memeiliki konsern dan berkecimpung di isu difabel. Ia juga menyampaikan bahwa . fakultas Psikologi juga memiliki beberapa inovasi, misalnya untuk test psikologi. “kami juga sudah mulai mengembangkan inovasi tes psikologi yang  mengakomodasi kebutuhan disabilitas. Memang belum keluar  karena masih dalam proses pengembangan”.[]

 

Reporter: Sri Hartanty

Editor     : Ajiwan

 

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air