Views: 11
Solidernews.com – Yayasan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) kembali menggelar kegiatan susur kota, sebuah inisiatif advokasi yang bertujuan menguji aksesibilitas ruang publik di Kota Makassar. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 19 Juli yang lalu dengan fokus observasi di Makassar Creative Hub (MCH).
Susur kota merupakan agenda yang telah beberapa kali dilakukan oleh Yayasan PerDIK dan kini diarahkan menjadi program rutin. Dalam praktiknya, kegiatan ini melibatkan para difabel dengan berbagai ragam termasuk pengguna kursi roda dan difabel netra untuk mengamati langsung hambatan fisik maupun nonfisik di ruang publik. Tujuannya adalah untuk mendorong penerapan prinsip kota inklusif yang benar-benar dapat diakses oleh semua warga tanpa terkecuali.
Makassar Creative Hub (MCH) sendiri adalah pusat kreativitas yang terletak di Anjungan Bugis kawasan Pantai Losari Makassar. Diresmikan pada Juni 2025, MCH dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi generasi muda dengan fasilitas seperti kafe, toko kreatif, ruang diskusi dan pelatihan berbasis keterampilan.
Namun, sayangnya menurut hasil observasi PerDIK, bangunan yang seharusnya terbuka bagi semua kalangan itu belum sepenuhnya ramah bagi difabel. Muhammad Lutfi salah satu pengurus Yayasan PerDIK menyampaikan bahwa secara ideal MCH seharusnya mencerminkan prinsip keterbukaan dan akses untuk semua.
“Makassar Creative Hub diharapkan menjadi pusat kreativitas yang inklusif. Tapi sayangnya kami menemukan banyak hambatan fisik yang menghalangi akses tersebut” ujarnya.
Temuan di lapangan menunjukkan beberapa persoalan serius terkait aksesibilitas. Tidak tersedia lift bagi pengguna kursi roda untuk menjangkau lantai dua. Ramp yang tersedia tidak sesuai standar kemiringan sehingga menyulitkan pengguna kursi roda atau alat bantu jalan. Selain itu papan petunjuk di area MCH sangat minim yang berpotensi menyulitkan difabel Tuli dalam memahami fungsi fungsi bangunan.
“Selain itu, tangga menuju lantai dua itu kan besi dan ada bolongannya. Cukup berbahaya terutama bagi pengguna tongkat atau kursi roda.” Ujar Hilda, salah satu mahasiswa magang PerDIK yang ikut mendampingi proses uji aksesibilitas tersebut.
Yayasan PerDIK menilai bahwa hasil susur kota ini seharusnya menjadi catatan penting bagi pihak pengelola MCH, pemerintah kota dan perancang ruang publik. Aksesibilitas bukan hanya isu teknis melainkan hak dasar warga negara. Dengan komitmen berkelanjutan, PerDIK berharap Makassar dapat berkembang menjadi kota yang benar-benar ramah bagi semua termasuk komunitas difabel yang kerap terpinggirkan dalam perencanaan tata kota.[]
Reporter: Nabila May
Editor : Ajiwan





