Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

seorang pria berdiri dan memegang sertifikat besar di depan latar belakang acara yang terang benderang. Sertifikat bertuliskan “JUARA 1 (BISNIS TERBAIK)” ia berhasil meraih Juara I Usaha Terbaik pada “Festival Kewirausahaan Astra 2023: Program Koneksi Disabilitas Astra 2023.” Pria berkemeja kuning dan memiliki tali tas di dadanya, berdiri dengan ekspresi netral sambil mengacungkan jempol. Latar belakangnya menampilkan elemen warna-warni dan dekoratif, dengan nama acara terlihat jelas. Ada juga dekorasi grafis meriah berupa piala, bintang, dan not musik yang ditambahkan di sekitar foto. Logo "Astra" dan "Satu Indonesia" muncul di bagian atas, dan "SUNAR SANGGITA" di pojok kanan atas.

Wiguna Maha Yasa; Teknologi, Kreatifitas dan Kolaborasi Ciptakan Perubahan dan Keberdayaan

Views: 33

Solidernews.com – I Made Prastya Wiguna Maha Yasa, atau akrab disapa Wiguna merupakan seorang difabel ganda sensorik netra dan rungu asal Bali. Ia adalah sosok muda yang menjadikan teknologi, kreativitas, dan kolaborasi sebagai jalan hidup. Lulusan magister Manajemen dari Universitas Telkom Indonesia ini menekuni bidang Pemasaran Digital, dan kini aktif membangun dua usaha yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi inklusif.

Melalui PT Wiguna Maha Yasa Teknologi Nusantara, Wiguna mengelola layanan token digital seperti pulsa, kuota internet, listrik, PDAM, games, hingga BPJS. Perusahaannya telah melayani lebih dari 10.000 pelanggan, ditunjang oleh dua aplikasi yang ia rancang sendiri yaitu Edu Pulsa dan MPay Komunika. Bagi Wiguna, teknologi bukan hanya alat transaksi, tetapi ruang inovasi untuk memperluas akses dan membuka kesempatan bagi siapapun yang ingin mandiri.

Selain bidang digital, Wiguna juga mengembangkan platform Sunar Sang Gita (SSG)—sebuah wadah kursus musik inklusif yang memberdayakan pengajar difabel netra dan membuka kesempatan belajar bagi peserta nondifabel. Saat ini, SSG memiliki tujuh pengajar aktif yang melayani kursus di Bali, Surabaya, dan Jakarta Selatan. Lebih dari seratus peserta dari berbagai usia bergabung di sana. Dalam ruang musik itu, setiap pertemuan menjadi simbol kesetaraan sehingga tak ada batas antara pengajar dan murid, antara difabel dan nondifabel.

Motivasinya untuk berwirausaha lahir dari refleksi atas pengalaman pribadi. Ia pernah merasa sulit mengakses pekerjaan formal, bukan karena kurangnya kemampuan, tetapi karena sistem yang belum sepenuhnya ramah terhadap keberagaman. “Kalau teman-teman difabel tunggal saja sulit mendapatkan pekerjaan, bagaimana dengan saya yang difabel ganda?” ujarnya jujur. Dari pertanyaan itu, lahirlah tekad untuk membangun usaha secara mandiri.

Wiguna mengakui pernah berada pada masa-masa penuh keraguan. Ia sempat enggan berinteraksi karena merasa tidak percaya diri saat harus bertemu orang baru. Namun seiring waktu, ia menemukan cara untuk beradaptasi dengan lingkungan dan menjadikan dunia digital sebagai sarana utama. Ketekunannya membawa hasil: usahanya berkembang pesat, mendapat banyak kepercayaan, dan bahkan mampu membiayai studi magisternya sendiri.

Kini Wiguna juga menjadi pendiri sekaligus ketua Asosiasi Wirausaha Inklusif Indonesia, sebuah jaringan yang menaungi UMKM masyarakat difabel dari berbagai daerah. Melalui asosiasi ini, ia mendorong kolaborasi lintas komunitas agar pelaku usaha difabel dapat bersaing di pasar yang sama dengan pelaku usaha nondifabel. “Yang dibutuhkan bukan belas kasihan, tapi kesempatan dan kepercayaan,” ujarnya tegas.

Bagi Wiguna, semangat Sumpah Pemuda bukan hanya soal sejarah. Ia melihat nilai persatuan sebagai kekuatan yang mampu mematahkan sekat antarindividu dan kelompok. “Pemuda zaman sekarang, termasuk yang difabel, perlu saling dukung dan tidak terjebak dalam persaingan sesama. Kalau ingin maju, ya harus bergerak bersama,” ucapnya.

Teknologi, menurut Wiguna, menjadi sahabat utama generasi muda difabel hari ini. Ia menilai, kemajuan digital membuka jalan bagi pendidikan, wirausaha, dan kolaborasi lintas batas. “Dengan teknologi, kami punya ruang lebih luas untuk berdaya. Kalau tidak ada perkembangan seperti sekarang, mungkin saya belum menjadi siapa-siapa,” katanya dengan nada reflektif.

Ia juga berharap pemerintah dapat memperkuat kebijakan inklusif dengan memberi insentif dan dukungan bagi wirausaha difabel, terutama yang baru merintis. “Banyak teman-teman difabel yang bergerak di sektor UMKM. Kalau ada dukungan konkret, bukan hanya simbolik, mereka bisa berkembang pesat,” jelasnya.

Bagi Wiguna, kemandirian ekonomi adalah salah satu bentuk nyata dari persatuan bangsa: semua warga punya ruang yang sama untuk tumbuh dan memberi manfaat. Dalam setiap langkahnya, ia terus menjaga semangat saling dorong mendukung teman difabel lain, membeli produk mereka, dan membantu promosi di media sosial.[]

 

Reporter: Harisandy

Editor     : Ajiwan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content