Views: 14
Solidernews.com – Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia melalui program Gerakan Optimalisasi Organisasi Difabel (GOOD) membuat webinar seri#17 yang merefleksikan perkembangan pergerakan difabel dan pentingnya penguatan kapasitas serta kaderisasi difabel muda ke depan.
Kegiatan diselenggarakan pada Jumat, 5 Desember 2025 via zoom meeting. Adapun narasumber yang dihadirkan adalah Setia Adi Purwanta, , aktivis senior difabel Indonesia, Jonna Aman Damanik, perwakilan Komisi Nasional Disabilitas (KND RI), dan Raissa Fatikha, dari komunitas “Tidak Terlihat & Ragam Wajah Lara. Forum Diskusi dipandu oleh Angga Yanuar selaku Kepala Sekolah GRADIASi.
Kegiatan tersebut dalam rangka merespons Hari Difabel Ineternasional. 3 Desember yang menjadi ruang refleksi global mengenai kondisi difabel di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tahun ini, tema “Mewujudkan Masyarakat yang Ramah dan Inklusif bagi Penyandang Disabilitas demi Mendorong Kemajuan Sosial” menjadi momen penting untuk merefleksi seberapa jauh pemerintah dan masyarakat secara luas sudah berpihak kepada inklusifitas dan masyarakat difabel.
Salah satu isu utama yang mengemuka dalam forum ini adalah regenerasi dalam pergerakan organisasi difabel di Indonesia. Penguatan, dukungan, dan pelibatan bermakna generasi muda dipandang sangat penting agar perjuangan tidak berhenti di satu generasi saja, melainkan tumbuh sebagai upaya kolektif yang berkelanjutan.
Raissa Fatikha menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda masih belum terlihat kuat dalam diskursus-diskursus resmi. Pembahasan tentang difabel muda pun belum banyak hadir dalam forum-forum pergerakan. Padahal, menurutnya, pengalaman difabel muda sangat kaya, variatif, dan layak mendapatkan ruang peran bermakna.
“bagi saya difabel muda perlu aktif di pergerakan. Karena isu dan perspektif lintas generasi dapat saling menguatkan. Pada akhirnya adalah membangun dan menghasilkan ruang inklusif secara bersama,” jelasnya.
Raissa menambahkan bahwa perlu melihat bahwa pengalaman kedifabelan itu berbeda-beda, dipengaruhi oleh umur, medan budaya, dan banyak latar lainnya. Karena itu, penting bagi pergerakan untuk memiliki keterwakilan lintas generasi. Bentuk partisipasi paling maksimal dari difabel muda adalah ketika mereka dapat menjadi pemimpin pergerakan itu sendiri, dengan difabel senior hadir untuk membersamai, mendampingi, dan menjadi fasilitator dalam perjalanan kepemimpinan mereka.
Bagi Setya Adipurwanta, perjuangan gerakan difabel itu tidak dapat dijalankan oleh generasi tua saja. Melainkan harus ada kolaborasi dan regenerasi perjuangan dari generasi yang muda. Pembagian tugas, berjejaring, dan membangun strategi menjadi beberapa elemen yang dapat dilakukan.
“Ada yang bergerak di basis, supporting (red_dukungan), dan front untuk bergerak di depan. Mulai advokasi, audiensi, dan melakukan berbagai negosiasi yang saling melengkapi,” ungkapnya.
Selain itu, menurut Jonna Aman Damanik, masuk ke ranah pergerakan sosial membutuhkan kemampuan membangun imajinasi. Terkait imajinasi yang kemudian direnungkan, didalami, dan dijaga sebagai pijakan untuk mendorong perubahan sosial. Sehingga pergerakan itu memang dilakukan bersama dan berpijak pada partisipasi penuh sebagaimana yang menjadi nilai dari Hak Asasi Manusia (HAM).
Jona Aman Damanik menegaskan bahwa inklusivitas seharusnya tidak diposisikan sebagai tujuan akhir. Inklusif adalah nilai, sebuah landasan filosofis yang mesti hidup dalam seluruh sistem. Sehingga itu yang menjadi hal yang harus diperjuangkan dan kita jaga.
“Sebagaimana yang tadi dicontohkan Pak Setya Adi tentang pendidikan. Bahwasannya inklusif itu bukan akhir melainkan nilai yang harus ada di setiap kebijakan yang ada di negri ini,” ungkapnya.
Selain itu, Jona menjelaskan adanya sekolah Gradiasi (Wadah yang menjadi program inkubasi aktivis yang berfokus pada isu difabel, dengan tujuan menciptakan keberpihakan masyarakat sipil dan mempersiapkan aktifis difabel sebagai aktor utama dalam pembangunan inklusi) yang sudah dimulai sejak 2017 merupakan bentuk dorongan yang bermakna bagi generasi muda difabel yang akan masuk kedalam arus pergerakan. Untuk membekali, membina, dan meningkatkan kapasitas personal difabel muda yang akan masuk untuk menjadi aktifis pergerakan.
“Sekolah Gradiasi merupakan salah satu contoh gerakan kaderisasi yang kami wujudkansebagai tempat pembekalan dan pembinaan generasi muda yang masuk ke pergerakan,” jelasnya.[]
Reporter: Wachid
Editor : Ajiwan







