Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Urgent Sustainability Stimulasi dan Terapi bagi Anak dengan Autisme

Yogyakarta. AUTISME. Ialah gangguan perilaku dan interaksi sosial, sebagai akibat kelainan perkembangan saraf otak. Kondisi ini menyebabkan anak atau orang dengan autisme sulit berkomunikasi, berhubungan sosial, serta belajar. Autisme disebut juga sebagai gangguan spektrum autisme atau autism spectrum disorder (ASD).

Istilah spektrum sendiri, mengacu pada gejala dan tingkat keparahan yang berbeda-beda pada tiap-tiap individu. Gangguan yang termasuk dalam ASD adalah sindrom Asperger, gangguan perkembangan pervasive (PPD-NOS), gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS), gangguan autistik, serta childhood disintegrative disorder. Kondisi ini sering kali dikaitkan juga dengan sindrom savant.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh WHO, autisme terjadi pada 1 dari 160 anak di seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia, hingga saat ini belum ada data yang pasti mengenai jumlah anak yang hidup dengan autisme. Bagaimana pun, anak-anak autism butuh pendekatan dan penanganan yang tepat.

Pendekatan ideal penanganan autisme, sebaiknya diterapkan sejak usia tiga tahun. Lebih dini penanganannya, diharapkan hasil yang dicapai optimal. Bagaimana dengan anak yang usianya lebih dari tiga tahun? Selama keluarga secara aktif terlibat dalam membantu anak maka tidak ada kata terlambat. Hal ini diungkapkan Behavior Analyst sekaligus Pendiri dan Direktur Puzzle-A Center Academic Rury Soeriawinata.

“Memang idealnya dimulai 3 tahun ya, tapi mungkin ada yang anaknya sudah usia lebih 3 tahun. Saya rasa tidak ada kata terlambat. Tapi kita harus praktikkan ilmu-ilmu yang memang terbukti atau evidence untuk penanganan autism. Bahwa yang harus dilakukan adalah, melibatkan keluarga dan atau pengasuh secara aktif sebagai bagian dari intervensi,” ujar Rury dalam video yang berjudul Stimulasi Bicara Anak Berkebutuhan Khusus di Rumah (ABA/VB) di YouTube Xabiru Indonesia, Jumat (10/6/2023).

Peran orangtua

America Academy of Pediatrics (AAP) meminta para peneliti agar secara terbuka memberikan rekomendasi, tentang cara terbaik melakukan intervensi dengan anak-anak gangguan spektrum autisme. Juga Orang tua harus memainkan peranan penting dalam intervensi anak mereka. Terlibat dalam setiap program yang diberikan terapis. Dengan demikian, orangtua tahu, apa yang harus dilakukan terhadap anaknya.

“Enggak boleh datang terapi, lalu ditinggal. Ya sudah kasih aja, kan saya udah bayar, itu urusan bapak ibu guru dan sebagainya. Atau saya tahu terima beres atau ‘saya nggak ngerti apa-apa karena saya bukan profesional. Enggak boleh gitu ya, orangtua harus terlibat,” ujar Rury.

Menurut CDC dan AAP, penanganan autisme ada yang secara perilaku, yaitu ABA (Applied Behavior Analysis), dan secara perkembangan, yaitu occupational therapy, Sensory Integration, terapi wicara.

Di Amerika yang sudah maju, terapi ABA ini sudah menjadi sesuatu bagian dari intervensi resmi dari pemerintah maka sudah diganti asuransi. Sedangkan di Indonesia, di beberapa tempat pelayanan terapi sudah bekerjasama dengan BPJS, namun masih banyak juga orang tua yang bayar sendiri.

Selain terapi yang evidence based, membuat anak autisme berbicara tentu melibatkan semuanya, termasuk sekolah, lingkungan, dan orang-orang di rumah (ayah, ibu, profesional).

Hanya saja, Rury menyayangkan para orangtua yang tidak menerapkan beberapa program yang sudah diajarkan di sekolah maupun terapis di rumah, seperti kemandirian, bagaimana bersikap ke lingkungan, pengaturan sensori, dan sebagainya di rumah. Sementara keberlanjutan atau sustainability penting agar anak menjadi terbiasa bahkan menjadikannya kebutuhan.

“Kalau misalnya di sekolah atau di tempat terapi, kita ngajarin kemandirian misalnya pakai baju, cuci tangan, toilet training, gitu ya, di rumahnya nggak dilanjutin ya percuma aja gitu. Karena itu harus semua bekerja sama supaya anak itu berkembang,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, orangtua juga kerap seolah menghapus program yang diberikan terapis di tempat terapi. “Kadang lucu juga, orang tua yang membayar, orang tua sendiri yang delete programnya. Pemikiran kasihan, di sekolah sudah capek, di rumah nggak apa-apa. Padahal terapis sudah kasih tahu, ‘Bu, tolong dipraktekkan seperti ini, seperti ini, ya’, atau ‘Bu, jangan dikasih ini anaknya, karena sebetulnya anaknya udah bisa komunikasi, walaupun belum bisa ngomong tapi udah ngerti’, gitu ya.”

“Nah, begitu anaknya nangis, sama orangtua dikasih, segampang itu aja. Padahal sudah jelas-jelas terapisnya sudah ada prosedurnya supaya walaupun mereka belum tentu bisa ngomong, ya enggak apa-apa enggak ada masalah, tapi nggak boleh dikasih pada saat dia nangis. Akhirnya orang tua yang bayar sendiri, orangtua sendiri yang delete programnya,” ungkapnya lagi.

Uniknya anak autis

Seperti anak lainnya, anak autisme juga memiliki perkembangan yang berbeda di antara temannya yang juga memiliki spektrum. Tidak ada yang sama, perkembangannya beda, kesukaannya pun beda. Demikian pula dengan anak yang tidak autism. Pun berbeda-beda pula kesukaannya. Setidaknya, mereka memiliki kesamaan, tergantung jarak usianya.

Rury menggambarkannya seperti orang Indonesia yang belajar bahasa Inggris, ada yang berbicaranya tidak lancar namun masih bisa dimengerti bule, ada juga yang fasih berbahasa Inggris.

“Maka berkomunikasilah sesuai dengan level anak. Kalau baru memahami kata dasar, bicaralah pelan-pelan. Jangan memaksakan kehendak,” sarannya.

Menurut Rury, untuk melatih anak autisme berbicara, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu: pertama, pahami anak apa adanya. Semua perlu dipahami, termasuk kelebihan, kekurangan, dan perbedaannya, termasuk apakah anak memiliki problem behavior.

“Pahami kondisi mereka, ketahui dimana kesulitan anak dan jangan memaksakan anak dengan target, tapi di lain sisi juga harus punya target,” kata Rury.

“Misalnya startingnya sama-sama umur 3 tahun gitu, ya kita nggak bisa menyamakan autisme 3 tahun non verbal, terus hasilnya sama semua bisa begitu. Makanya bener-bener kenalin anak Bapak/Ibu tuh gimana, kalaupun dia nggak bisa mencapai hasilnya, maksudnya target-target yang dikasih itu.”

Rury mengaku tidak pernah menjanjikan klien akan bisa bicara, namun ia yakin selalu berusaha maksimal agar anak berkembang baik. Kalaupun anak tidak bisa mencapai target-target itu maka dia akan menjelaskan dan mencari tahu lagi.

“Enggak bisa sesuatu kemampuan itu ada macam-macam sebabnya, bukan berarti dia nggak bisa. Belum tentu dia berarti nggak bisa ya. Yang pertama barangkali dia nggak punya motivasi. Yang kedua ya emang dia nggak bisa karena kondisi gitu. Dua itulah yang harus kita coba motivasinya, kita perbaiki. Apalagi kalau anaknya harus diperbaiki. Apalagi kalau anaknya punya masalah sensori yang biasanya dipunyai oleh anak-anak autisme.”

Kedua, selalu bangun interaksi dengan anak. Sehingga orangtua akan paham apa yang mereka sukai, apa yang tidak. Lalu gunakan yang mereka sukai, untuk membuka jalan interaksi. Ketiga, stimulasi bukan akademik. Stimulasi yang diberikan itu bukan bertujuan akademik, tapi mengajarkan kebutuhan anak akan bahasa, bicara, dan mandiri.

“Jadi sering banget saya nemui anak terapi itu ya anak ngomong saja belum ngerti, juga belum diajarin warna, ABC, 123, entah yang ditanyain dia ini apa, hitam katanya.”

“Waktu dia bisa baca, apa dia paham apa yang dia baca? Jawabannya nggak. Mungkin sebatas satu kata dia paham ya, maksudnya ini handphone tulisannya HP, mungkin cuma sekadar itu aja dia bisa. Tapi tentang pemahaman apa namanya, siapa, di mana, itu akan sulit kalau dia sendiri nggak paham, bahasanya nggak paham,” pungkas Rury. *** [harta nining wijaya]

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air