Views: 36
Solidernews.com, Yogyakarta. Di tengah minimnya fasilitas publik yang ramah difabel, dosen dan mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, merancang dua alat bantu mobilitas untuk pengguna kursi roda. Produk diperkenalkan pada puncak perayaan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025, Minggu (7/12), di Taman Lansia Ceria, bekerja sama dengan Unit Cerebral Palsy Roda untuk Kemanusiaan (UCPRUK).
Inovasi manual dan elektrik ini memungkinkan perjalanan jarak dekat dengan lebih cepat, ringan, dan mandiri.
Bukan sekadar teknologi, alat bantu mobilitas yang dipresentasikan UKDW tersebut menjadi bentuk advokasi. Karena, dengan alat bantu tersebut, pengguna kursi roda kini dapat melintas di trotoar atau pinggir jalan dengan kecepatan lebih aman, tanpa bergantung pada ojek online.
Desain alat bantu dikembangkan oleh dosen Desain Produk UKDW, Winta Adhitia Guspara, bersama tim mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Mereka memperkenalkan dua alat bantu mobilitas bagi difabel pengguna kursi roda, masing-masing model manual dan elektrik.
Alat bantu ini dipasang pada kursi roda. Model manual berbentuk setang pengungkit, sedangkan model elektrik menggunakan adaptor dengan baterai 1000 watt. Jangkauan model elektrik mencapai 8–10 kilometer per pengisian.
“Kalau trotoar tidak bisa dilalui, kami gunakan jalan raya. Kalau dianggap lambat, kami tambahkan kecepatannya,” ujar Winta.
Angela Tri Widayati (63), pengguna kursi roda yang hadir dalam uji coba, mengaku lebih nyaman menggunakan model elektrik. “Yang manual agak berat. Yang elektrik enak. Saya berani pakai di jalan raya. Ini bentuk advokasi,” ujarnya.
Menurut Angela, mobilitas adalah kebutuhan mendasar. Selama ini minim transportasi publik yang ramah difabel. Alat bantu elektrik memudahkan perjalanan ke pasar, pertemuan, atau kunjungan singkat.
Masukan juga datang dari Trimah, perempuan tanpa lengan yang hadir sebagai pengamat. Ia menilai setang manual terlalu tinggi bagi perempuan dan mengusulkan model dengan gerakan kayuh bergantian. “Akan lebih baik kalau bisa dikayuh kiri–kanan bergantian. Bisa untuk yang tangannya hanya kuat satu atau untuk terapi,” kata Trimah.
Riset dan pengembangan dimulai sejak 2020 dengan pendekatan partisipatif. UKDW menggandeng organisasi difabel seperti UCP, serta melibatkan pengguna kursi roda dalam memberikan masukan. Hingga saat ini sudah dihasilkan lima prototipe.
Perubahan desain dilakukan berdasarkan kebutuhan lapangan. Mulai dari panjang setang, bentuk adaptor, hingga penyesuaian rok panjang pengguna perempuan. Varian kursi roda yang beragam juga menjadi tantangan. Saat ini tim fokus pada tiga model kursi roda: Rough Rider, Harmoni, dan standar rumah sakit. Adapun, biaya pembuatan prototipe, termasuk kursi roda, berkisar Rp. 7–8 juta.
Direktur UCP, Damaijanti Teguh, mengatakan inovasi ini merupakan bentuk kolaborasi kampus dan komunitas. “Mahasiswa berinovasi dan memikirkan aksesibilitas. Tapi untuk produksi diperlukan dukungan sektor usaha,” katanya.
UCP tidak memproduksi alat bantu, namun melihat potensi bengkel kursi roda sebagai pelaksana produksi dan servis. Winta, demikian sapaan pemilik gagasan yang dosesn UKDW, terbuka apabila ada CSR atau industri yang ingin mendanai. Rencana selanjutnya mencetak blueprint, termasuk modul panduan, dan workshop bagi mekanik.
“Harapannya alat ini tidak berhenti di presentasi. Harus memberi manfaat,” tambah Damaijanti.
Kedua alat bantu dirancang untuk perjalanan jarak pendek, sekitar 5–8 kilometer, sehingga dapat menggantikan ojek online atau transportasi lain yang memerlukan biaya dan energi lebih besar. “Mobilitas adalah kemerdekaan,” kata Angela.
“Kami ingin pergi ke mana pun dengan aman dan mandiri.”[]
Reporter: Harta Nining Wijaya
Editor : Ajiwan







