Views: 10
Solidernews.com – Sebagai manifestasi inklusi di dalam ruang dan pameran seni, Artjog 2025 kembali membuka ruang interaksi bersama pengunjung difabel secara kelompok. Lewat pendampingan dari Relawan Love Artjog, pameran seni yang bertemakan Motif: Amalan, dapat dijangkau difabel sensorik netra dengan baik. Hal ini menjadi langkah nyata, hak edukasi dan rekreasi bagi kalangan difabel dapat terus diwujudkan.
Berlokasi di Jogja National Museum, pameran seni Artjog 2025 kembali mengajak rekan-rekan difabel netra untuk berkunjung ke galeri ruang pameran. Difabel netra yang hadir pada kegiatan ini memiliki berbagai latar belakang. Mulai sesama pelaku seni, guru, mahasiswa, wirausaha, dan keluarga difabel netra. Semua hadir dan terlihat antusias saat mereka berdatangan di halaman museum yang kemudian disambut oleh relawan dari Love Artjog.
Kegiatan yang terselenggara pada Jumat, 18 Juli 2025 sore, melibatkan lebih dari 17 peserta difabel netra dari berbagai penjuru Yogyakarta. Semua hadir atas ajakan terbuka dari pengelola pameran lewat Love Artjog sebagai penjembatan kehadiran teman-teman difabel netra yang hadir pada hari ini. Sehingga, kunjungan ini selain atas antusias dari peserta difabel netra—juga merupakan kesadaran Artjog untuk terus membuka ruang inklusif di pagelaran seninya.
“Exhibition Tour bagi teman-teman difabel ini kembali kami hadirkan. Sebab kami sudah memulai sejak tiga tahun lalu, sehingga hal ini menjadi semangat kami untuk terus melanjutkan kegiatan ini untuk membuka ruang, dialog, dan inklusivitas di lingkup pameran seni,” jelas Broto pada solidernews, 18 Juli 2025.
Menikmati Seni Lewat Bisikan
Pengalaman menikmati karya seni tidak hanya bisa diakses dengan visual. Dalam tur galeri ini, pendamping dari Love Artjog memainkan peran penting dengan menjadi penerjemah visual bagi peserta difabel netra. Para relawan membisikkan deskripsi tiap karya, mulai dari ukuran, material, warna, hingga makna yang ingin disampaikan seniman. Pendampingan ini dilakukan satu per satu, secara personal, menyesuaikan ritme dan kebutuhan setiap peserta.
Pada awal perjalanan Exhibition Tour, Rombongan di ajak untuk menikmati dan menyusuri lorong Secret of Eden karya Anusapati. Ruangan gelap, akar pohon yang menjuntai dari langit-langit, dan totem kayu dari limbah alam menjadi materi yang bisa diinterpretasi lewat sentuhan narasi yang disampaikan relawan. Karya ini bercerita tentang relasi manusia dengan alam, dan bagaimana amalan seorang seniman bisa menjadi upaya menebus kerusakan ekologis.
Pada ruangan ini, Seniman Anusapati menampilkan ruangan gelap dengan sebuah rel kereta di tengahnya. Terdapat juga akar pepohonan yang muncul dari langit-langit, serta sejumlah totem kayu yang tersebar di ruangan. Karyanya ini memanfaatkan dua lantai sekaligus di JNM. Di mana pada lantai dua, menampilkan paruh pohon dengan beberapa tanaman lain yang ditanam di dalam barang-barang bekas. Seperti wastafel, jerigen, dan sebagainya.
Demi meningkatkan pengalaman difabel netra dalam memahami instalasi seni, melalui kebijakan dan peraturan yang sudah dikoordinasikan oleh Love Artjog dan seniman, beberapa karya dapat dipegang dan diraba oleh teman-teman. Sehingga pemahaman yang di dapat tidak hanya melalui bisikan saja, melainkan perabaan langsung juga dijadikan fasilitas tambahan, atas seijin dari penyelenggara.
Nels, selaku relawan Love Artjog yang ikut mengawasi jalannya kunjungan difabel netra, menjelaskan bahwa sentuhan pada karya itu hanya diberikan pada beberapa karya saja. Tidak semua bisa disentuh. Selain itu, hanya pengunjung difabel netra saja yang dapat menyentuh atas seijin dari penyelenggara yang sudah berkoordinasi dengan seniman terkait.
“Betul, karya yang boleh di sentuh merupakan fasilitas penunjang bagi difabel netra untuk menikmati karya seni. Tapi tidak semua karya bisa disentuh. Selain itu, pengunjung umum tidak boleh menyentuh dan tetap ikut aturan yang sudah ditetapkan oleh penyelenggara,” jelas Nels pada solidernews, 18 Juli 2025.
Menjelajah Karya Motif Amalan Artjog 2025 Hingga Lantai Tiga
Motif: Amalan, tema besar ArtJog tahun ini, mengajak pengunjung difabel netra menilik bagaimana karya seni tidak hanya menjadi objek estetik, tapi juga bisa menjadi tindakan praksis—sebuah amalan yang memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar. Bagi peserta difabel netra, kesempatan meresapi gagasan karya seni, lewat pendampingan dari Residensi Pelajar (Siswa magang) yang telah dibekali dan dipandu langsung oleh Love Artjog, menjadi penunjang penting, untuk menikmati karya-karya hingga lantai tiga.
Berbagai karya mengajak peserta difabel netra untuk merefleksi dan merenung berbagai amalan yang ditorehkan oleh para seniman. Seperti di lantai dua, ada sebuah instalasi seni besar. Salah satunya karya Tisna Sanjaya yang membawa instalasi kincir air berbahan dasar kayu, dihiasi sembilan figur tubuh manusia yang terbuat dari logam. Kincir air ini diambil dari sungai yang tadinya bersih, sekarang menjadi tercemar akibat sampah rumah tangga. Kincir tersebut terhubung dengan sebuah sepeda yang dapat dikayuh untuk memutar kincir. Di tempat asal, kincir ini difungsikan untuk pengairan dan penjaringan sampah yang ada, dengan cara mengayuh sepeda tersebut.
Catur, salah satu peserta difabel netra, menyampaikan pada solidernews, bahwasannya ia sangat menggemari filosofis dari tiap-tiap karya yang ada. Utamanya ketika bisa berdialog langsung dengan Gallery Sitter yang ada sambil meraba karya yang diperbolehkan. Ini menambah resapan makna yang coba sang seniman sampaikan.
“Aku kagum dengan karya yang ada di lantai tiga. Banyak yang bernuansakan perasaan, emosional, stigma, dan berbagai karya yang diterjemahkan dari pengalaman kurang mengenakan dari sang seniman. Sehingga ini menambah wawasanku yang menggemari filosofis dari tiap-tiap karya,” jelas Catur.
Pada kesempatan lain, solidernews juga terhubung dengan Riki, difabel netra yang ikut dalam kegiatan sore ini. Pria asal Tegal tersebut mengungkapkan apresiasinya atas kunjungan yang sudah diberikan. Pendampingan, tour gallery, hingga dialog dengan relawan bisik dan gallery sitter menjadi pengalaman yang menarik, saat dirinya menikmati karya seni.
“Seru sekali acara sore ini. Semua berjalan lancar. Teman bisikku juga seru. Sehingga kunjungan seni ini memberi banyak arti bagiku,” jelas Riki.
Namun, berbeda dengan Riki dan Catur. Khoirul, salah satu peserta menyampaikan masukan terkait Residensi Pelajar yang ada. Menurutnya pembekalan harus terus dilakukan agar teman-teman remaja tersebut bisa mendampingi difabel netra saat berkunjung. Sehingga, komunikasi yang disampaikan dapat sesuai dan mampu mengilustrasikan karya-karya yang ada.
“Sudah bagus kok acaranya. Kehadiran teman-teman residensi pelajar juga membawa semangat positif. Cuma ini perlu terus dikembangkan lagi. Memang kita diberi ruang untuk membantu edukasi, tapi agaknya jadi kurang efektif bila menikmati seni tapi yang mendampingi masih pasif,” jelas Khoirul.
Pameran ArtJog 2025 tidak hanya menyajikan karya visual, namun juga memberi ruang bagi praktik inklusi yang nyata. Ruang-ruang interaksi dalam galeri menjadi titik temu antara seniman, karya, dan audiens difabel. Ini bukan sekadar tour, tapi juga bentuk pengakuan terhadap hak atas pendidikan seni dan pariwisata yang ramah difabel.[]
Reporter: Wachid Hamdan
Editor : Ajiwan








