Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Suara Tersembunyi: Jejak Kisah Perempuan Inspiratif Menuju Inklusi

Solidernews.com. Yogyakarta. Mewujudkan sebuah dunia yang setara secara gender. Dunia yang bebas dari bias, stereotip, dan diskriminasi. Dunia yang beragam, adil, dan inklusif. Dunia yang menghargai dan merayakan perbedaan. Adalah suara-suara tersembunyi, yang kemudian menjadi teriakan para perempuan, atas sebuah harapan terbangunnya kesetaraan di muka dunia.

 

Teriakan yang nyaris tak terdengar di era hiruk pikuk dan kuatnya patriarki. Dunia yang memposisikan perempuan sebagai manusia kasta kedua setelah laki-laki. Terlebih ketika perempuan ini terlahir sebagai seorang difabel. Orang yang distigma tidak mampu dalam banyak hal. Butuh bersinergi dan berkolaborasi untuk memutus rantai patriarki.

 

Aulia Rachma Kurnia, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), 2022 membagikan pengalamannya. Sebagai perempuan dengan hambatan penglihatan (tottaly blind), tak jarang mendapatkan stigma tidak mampu itu. Dia diragukan kemampuannya ketika memutuskan pilihan untuk melanjutkan studi di UGM. Bahkan, ketika sudah menjadi mahasiswa UGM pun, masih saja diremehkan.

 

“Saya pernah diragukan masyarakat, ketika awal masuk UGM. Saat mau kuliah apalagi. Saya diremehkan, dengan pilihan kuliah di UGM, Ujar Aulia pada agenda sarasehan hari perempuan internasional, yang dihelat di Selasar Barat Fisipol UGM, Rabu (6/3/2024).

 

Bagi Aulia, effort atau usaha lebih dilakukannya. Tak sekedar untuk menjawab berbagai stigma tidak mampu. Melainkan juga membuka cara pandang masyarakat atas pentingnya kesetaraan dan kesempatan yang adil, tanpa keragu-raguan.

 

Perempuan difabel karena hambatan penglihatan, ketika memiliki anak, distereotip tidak mampu mengurus anak. Ketika melahirkan anak yang juga difabel, perempuan difabel akan disalahkan, ditinggalkan suaminya.

 

“Serba repot pokoknya. Tidak mempunyai anak dilabeli mandul. Jika melahirkan difabel dipersalahkan. Mirisnya, tak jarang perempuan difabel ini ditinggalkan pasangan atau suaminya,” tutur Aulia.

 

Selain sharing perihal stigma, Aulia pun membagikan hambatan yang dialami di kelas. Ketika dosen menjelaskan menggunakan kata ‘ini’ dan ‘itu’, bagi dia adalah abstrak. Meminta tolong teman menjelaskan ini dan itu yang dimaksud dosen, biasa dilakukan Aulia.

 

Aulia yang proaktif, sering kali melakukan sosialisasi terkait hambatannya. Meskipun itu hal sederhana bagi orang lain, namun hal tersebut penting bagi dirinya. “Termasuk ketika bertemu dengan orang yang hendak menuntun. Edukasi sederhana tapi bermakna saya lakukan. Saya akan berkata, maaf apakah saya bisa memegang tangan (siku) bapak/ibu/kakak? Lagi-lagi hal ini sederhana, tapi penting bagi saya,” ujarnya.

 

Hak yang direbut

Sedang pembicara lain, seorang penulis dan aktivis gender Khalis Mardiasih memaparkan. Pada kesempatannya sebagai narasumber dia mengingatkan, bahwa, segala bentuk hak yang ada pada perempuan, semuanya karena direbut. Perempuan harus memperjuangkan ruang laktasi, cuti menstruasi dan melahirkan, yang kemudian diakomodir dalam UU Kesehatan.

 

“Tidak ada hak perempuan yang diberikan begitu saja. Semua harus direbut. Fakta demikian tercatat dalam sejarah gerakan perempuan,” tegasnya.

 

Banyak kesalahan konsep yang terjadi di masyarakat tentang gender dan seks. Seks adalah jenis kelamin, yakni perbedaan anatomis serta biologis. Sementara, gender adalah peran sosial, karakter, identitas, tanggung jawab, dan wewenang relatif yang diberikan pada suatu jenis kelamin dalam suatu budaya, lokasi, masyarakat, dan waktu.

 

Berkaitan dengan ranah gender dan seks, terdapat budaya patriarki yang mengakar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, patriarki adalah perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Patriarki termasuk salah satu faktor utama penghambat terwujudnya kesetaraan gender.

 

Lantas, apakah perempuan difabel maupun non difabel harus “sama” dengan laki-laki agar bisa diperhitungkan dalam masyarakat? Jika terwujudnya kesetaraan memiliki syarat kesamaan, maka hal itu akan membuat lubang ketidakadilan menganga semakin lebar. “Jangankan antara laki-laki dan perempuan, setiap individu yang ada di bumi ini saja memiliki karakteristik yang berbeda-beda,” ujar Khalis.

 

Setara bukan berarti sama, lanjut dia. Manusia diciptakan dengan fungsi dan tujuannya masing-masing. Tidak ada manusia yang lebih tinggi derajatnya dari manusia lain. Pun demikian bagi mereka yang terlahir difabel. Sehingga tidak ada ceritanya, seseorang bisa merendahkan ataupun menghakimi manusia lain.

 

Prioritas kesetaraan gender

UNESCO percaya bahwa segala bentuk diskriminasi berdasarkan gender merupakan pelanggaran hak asasi manusia, serta penghalang yang signifikan terhadap pencapaian Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

 

Melalui release tertulis, Unesco menyampaikan pesan jelas. Perempuan dan laki-laki harus menikmati kesempatan, pilihan, kemampuan, kekuasaan, dan pengetahuan yang sama sebagai warga negara yang setara.

 

Membekali anak perempuan dan laki-laki dengan pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan untuk mengatasi kesenjangan gender merupakan prasyarat untuk membangun masa depan yang berkelanjutan bagi semua. Selamat Hari Perempuan Internasional. [].

 

Penulis: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air