Views: 17
Solidernews.com – Seni adalah bahasa universal yang melampaui batas fisik, sosial, dan budaya. Bagiseniman difabel, seni menjadi media penting untuk menyuarakan hak, meruntuhkan stigma, dan menginspirasi masyarakat agar lebih inklusif. Melalui seni, difabel tidak hanya menunjukkan bakat mereka, tetapi juga memperjuangkan kesetaraan dan membangun kesadaran akan pentingnya keberagaman.
Dengan seni, perjuangan untuk memeroleh keadilan, kesetaraan, serta perjuangan membangun sosial inklusif dapat dilakukan dengan wujud ekspresi. Karya lukis, teater, drama, musik, dan berbagai pementasan dapat disuguhkan langsung di tengah masyarakat.
Perjuangan melalui advokasi institusi, audiensi ke lembaga terkait, serta upaya penanaman moral lewat berbagai seminar dapat diperkuat melalui jalur karya seni. Semua dapat diekspresikan secara langsung, tanpa ada sensor, serta dapat menyentuh langsung lapisan masyarakat. Sehingga perjuangan advokasi ini salah satunya diakselerasi melalui medium pementasan seni difabel.
Kevin, difabel netra yang menekuni dunia pedalangan mengakui sering menggunakan kesempatan memainkan wayang di tengah-tengah masyarakatt yang ia sisipkan nilai advokasi. Ia selalu menyisipkan kritik sosial, advokasi kesetaraan difabel, serta membuka kaca mata masyarakat akan keberdayaan difabel bila diberikan kesempatan. Hal itu ia rasa efektif sebab dirinya langsung berdialog dengan kerumunan masyarakat yang menyaksikan wayang.
“Tentu ini jadi kesempatan yang baik untuk membangun kesadaran masyarakat akan eksistensi difabel. Selain itu, masyarakat dapat benar-benar menilai sendiri kualitas kita sebagai difabel. Jadi mereka juga mendapat bukti nyata kalau difabel itu juga berpotensi serta memiliki kualitas,” ujar Kevin pada wawancara 9 Desember 2024.
Seni Sebagai Wadah Ekspresi dan Advokasi
Dalam perjuangan menuju kesetaraan, seni menjadi senjata ampuh. Lukisan, musik, tari, hingga teater menjadi medium bagi difabel untuk mengekspresikan pengalaman hidup. Banyak karya seni yang menggambarkan perjuangan difabel melawan diskriminasi dan ketidakadilan. Dengan menampilkan karya-karya ini, seniman difabel tidak hanya menunjukkan kemampuannya, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih memahami perspektif difabel.
Butong, Ketua Jogja Disability Art (JDA), pada 19 Juli 2025 menjelaskan bahwa karya seni sangat memungkinkan untuk menjadi medium advokasi perjuangan rekan-rekan difabel. Baginya advokasi bukan hanya soal lobi dan pendekatan ke pihak terkait saja. Melainkan juga melalui suara-suara, lukisan, pementasan karya, yang dibuat dengan pondasi isu difabel. Sehingga pemangku kebijakan dan pemerintah serta masyarakat dapat melihat langsung bagaimana dan apa yang diperjuangkan rekan-rekan difabel.
“Seni ini sangat mungkin menjadi medium advokasi. Karena advokasi tidak hanya soal lobi dan pendekatan persuasif ke pemangku kebijakan saja. Melainkan juga dapat melalui kampanye, edukasi, dan aksi melalui berbagai strategi. Salah satunya dapat melalui medium karya seni,” jelas Butong.
Butong juga menjelaskan bahwa Jogja Disability Art (JDA) sangat sering membuat kegiatan pameran karya seni, utamanya untuk mengakomodir seniman difabel. Dari karya-karya itu, banyak yang memberikan dampak ke masyarakat akan keberdayaan para difabel bila diberi ruang. Ada yang berkarya lewat mural, lukisan, juga berbagai ragam seni lainnya.
“Dari pameran seni yang diisi oleh seniman difabel, setidaknya bisa membuka mata masyarakat dan pemerintah untuk dapat memberi ruang, keberpihakan yang lebih bermakna, juga partisipasi yang nyata. Sehingga pemenuhan hak difabel itu dibutuhkan untuk keberdayaan difabel dan kontribusi nyata di tengah-tengah masyarakat,” imbuh Butong.
Selain sebagai alat advokasi, seni juga menjadi cara efektif untuk menanamkan nilai inklusivitas. Kegiatan seni yang melibatkan kolaborasi antara difabel dan non-difabel membantu menciptakan ruang interaksi yang setara. Dalam proses ini, masyarakat belajar bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bekerja sama dan saling memahami. Pameran seni inklusif, festival budaya, hingga workshop seni yang melibatkan difabel menjadi cara nyata untuk mengikis stigma. Ketika masyarakat terlibat langsung, mereka lebih mampu menghargai potensi yang dimiliki oleh individu difabel.
Kevin, dalang difabel netra, menjelaskan situasi dan kerjasama di lingkungan seninya, “saya sendiri bersama Pengerawit Gita Raras itu dapat berkolaborasi. Dalangnya difabel netra, tapi pengerawitnya non-difabel. Jadi, inklusifitas ini tidak hanya saya serukan. Tapi saya contohkan langsung,.”
Seni Sebagai Gerbang Advokasi Inklusi dan Unjuk Potensi Difabel
Sebagai media yang melibatkan kreativitas, rasa, karya, dan kedalaman sebuah makna, instalasi karya seni dengan berbagai modelnya sangat mungkin untuk menjadi gerbang advokasi untuk ruang-ruang masyarakat agar lebih inklusif dan ramah difabel. Karena dengan karya yang dibuat difabel, masyarakat akan lebih paham secara konkret dan nyata bahwa difabel memiliki potensi. Sehingga stigma negatif terhadap difabel dapat diperbaiki secara perlahan tapi pasti.
Faisal Rusdi, seniman lukis difabel Cerebral palsy dari Bandung, menjelaskan bahwa dirinya menggunakan medium seni lukisnya untuk melakukan advokasi aksesibilitas ruang publik. Dirinya yang menghasilkan karya dengan melukis yang kuasnya ia torehkan dengan mulut itu juga menjadikan lukisan sebagai media terapi alternatif. Di setiap pameran lukisannya, Faisal selalu mendesain ruang agar aman dan nyaman untuk dikunjungi difabel. Sehingga hal tersebut dapat menjadi contoh bagi pemerintah.
“Dunia seni ini saya jadikan juga untuk advokasi aksesibilitas di ruang seni. Misalnya saya mau menampilkan karya tidak lupa juga ruang-ruang seni yang saya pilih aksesibel supaya jadi contoh juga ke pemerintah,” jelas Faisal, dikutip dari bandungbergerak.id, pada 19 Juli 2025.
Bagi Faisal media seni ini juga sebagai ajang untuk aktualisasi diri, advokasi, juga sebagai profesi. Dirinya dapat mengembangkan diri lewat jalur seni. Pemasukan yang dimiliki ia gunakan untuk membantu keluarganya.
Senada dengan Faisal, Butong juga menegaskan bahwa isu difabel dan seni sangat memungkinkan untuk memperkuat gerakan dan advokasi di Indonesia. Butong dan kawan-kawannya sudah memulai gerakan itu sejak tahun 2009 dengan nama Difabel and Friends Community (Diff Com). Kemudian berkembang menjadi Yayasan Jogja Disability Art (JDA) pada 2020. Sehingga kini bermunculan festival di Yogyakarta yang mengakomodir partisipasi difabel. Mulai menjadi pengunjung atau sang kreator, yang salah satu promotornya adalah rekan-rekan JDA.
“Festival film, musik, lukis, mural, kami gelar salah satunya untuk mengadvokasi masyarakat. Di mana kami menunjukkan potensi, karya, dan kemampuan, sehingga ruang-ruang inklusif dapat terbentuk secara nyata setelah melihat sendiri bahwa difabel itu mampu bila diberi ruang bermakna,” jelas Butong.
Pada akhirnya Seni bukan sekadar media ekspresi, melainkan ruang perjuangan yang hidup—tempat di mana difabel membangun narasi, menyuarakan hak, dan menunjukkan bahwa mereka bukan objek belas kasihan, melainkan subjek perubahan. Dari wayang Kevin hingga lukisan Faisal, dari mural komunitas hingga panggung inklusif, setiap karya adalah pernyataan bahwa kesetaraan bukan sekadar mimpi, melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan jika ruang diberikan dan suara didengar. Melalui seni, difabel tak hanya menciptakan keindahan, tetapi juga membuka jalan menuju masyarakat yang benar-benar inklusif.[]
Reporter: Wachid Hamdan
Editor : Ajiwan









