Views: 29
Solidernews.com – YAKKUM Emergency Unit (YEU) membuka ruang inovasi bagi orang muda dalam ‘Sasana Relawan 2025,’ dengan tema ‘Inovasi Anak Muda untuk Penanggulangan Bencana dan Lingkungan Sehat,’ yang diselenggarakan pada Kamis pagi (18/12) di Jogja Nasional Museum (JNM) Bloc, Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta.
Kegiatan tersebut diisi lomba ide inovasi kebencanaan dengan tema pengelolaan sampah, kesehatan lingkungan, pengurangan risiko bencana (PRB), dan aksi ketangguhan iklim. Selain itu, terdapat pula pengenalan empat kelas learning lab (red_ laboratorium pembelajaran)
yaitu; eco-print healing lab, tentang belajar hubungan kesehatan jiwa-lingkungan melalui praktik eco-print, zero-wasten survival kit workshop, lokakarya memahami sampah sebagai risiko bencana, crisis reality lab, simulasi audit cepat ruang publik tangguh bencana, dan youth move the earth, belajar aksi berbasis alam dan inovasi lokal ‘trilogi jahit bumi’.
Agnes Meiria, Program Manager YEU mengatakan, di Indonesia banyak kejadian bencana yang akhirnya sangat membutuhkan solidaritas dari semua pihak. Karena hal itulah, penting bagi siapa pun untuk memahami apa yang bisa dilakukan, untuk mengenali risiko-risiko bencana, dan apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut.
“Kegiatan sasana relawan ini adalah bukan sekedar pertemuan harapannya akan menjadi ruang kolaborasi kita semua,” ungkapnya.
Ia berharap jejaring yang telah ada dapat melahirkan kolaborasi nyata, kemitraan, baik antar sekolah, antar kampus, maupun antar komunitas.
“Semoga sasana relawan ini menjadi langkah nyata dalam membentuk relawan muda yang tangguh, inklusif, dan siap berkontribusi bagi ketangguhan masyarakat,” pungkas Agnes.
Agustinus Ruruh Haryata, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan apresiasi atas kegiatan yang diusung YEU dan komitmen yang dilakukan untuk kerja-kerja kemanusiaan berbasis komunitas. Menurutnya, sasana relawan dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan peran generasi muda di dalam upaya menanggulangan bencana inklusif, dan kelestarian lingkungan hidup.
“Inovasi dari sampah kesolusi, inovasi ini akan mudah untuk penanggulangan bencana dan lingkungan yang lebih sehat, meski menghadapai tantangan dan peluang saat ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, risiko bencana semakin berkaitan erat dengan isu lingkungan dan perubahan iklim, sehingga diperlukan pendekatan yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan, dalam peran tersebut kehadiran orang muda sangat strategis.
Terkait para relawan yang terjaring dalam sasana relawan, Agustinus memastikan isu-isu inklusifitas akan menjadi membelajaran dan contoh praktik langsung yang akan diberikan. Karena dalam kondisi kebencanaan, penanggulangan berperseptif inklusif sangat dibutuhkan.
Antusias orang muda dalam mengikuti kegiatan tersebut juga sangat tinggi, meski pada umumnya mereka menyatakan baru kali pertama mengetahui isu-isu inklusifitas.
Seperti yang diungkapkan Azis dari SMK 2 Playen yang mengaku baru mengetahui definisi dari inklusifitasnya saja, namun belum memahaminya.
Senada dengan Azis, Rendra Aristo Prasetya, dari SMA N 1 Godean yang datang bersama 14 rekan lainnya menuturkan, untuk isu-isu inklusifitas dirinya belum memahami, namun untuk difabel, serta kerawanan kebencanaan secara global sudah pernah mengetahui dan mendengarnya.[]
Reporter: Sri Hartanty
Editor : Ajiwan







