Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Saraswati Ningrum, Perempuan Aktifis Difabel Rembang yang Terjun ke Dunia Politik

Solidernews.com – Saswati Ningrum atau biasa dipanggil Saras merupakan teman baik yang kenal sejak 2021 melalui jejaring difabel di Jawa Tengah. Ajakan untuk mengobrol saya sampaikan kepada Saras sejak minggu lalu dan disaguhi beberapa hari lalu. Kami memang jarang sekali bertemu namun dengan berselancar di media sosial semua kegiatan dapat saya ikuti dan pantau dari postingan di FB (facebook).

 

Wanita kelahiran 1981 ibu dari dua anak ini sangat aktif di kesehariannya sebagai pengiat difabel di Rembang dan sekitarnya. Gerakannya dalam isu difabel di sela-sela aktivitas sebagai ibu rumah tangga dan mahasiswi di salah satu universitas swasta di Rembang menjadi penyemangat maju dalam pemilu 2024 melalui salah satu partai.

 

Saya pernah mendengar cerita manis dari hasil prestasi menggiatkan UMKM berbahan dasar janggel sejak beberapa tahun silam dan mendapatkan penghargaan dari Menteri Sosial tahun 2017 sehingga tiket kuliah gratis didapatkannya untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman.

Pertanyaan awal yang saya ajukan “Mbak apa yang membuat krenteg maju di pemilu, Mbak? Jawabannya sangat logis bahwa kondisi difabel tidak semua hak-haknya dipenuhi padahal tertuang pada Undang-Undang no 8 Tahun 2016 dan Pancila sudah menjelaskan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia. Adanya saya terlibat di pemilu 2024 bisa mewakili suara teman-teman difabel.

“Saya itu kun fayakun Mbak, di mana sudah harus skripsian tapi juga harus maju di pileg Mbak,” ujar Saras.

Saya sangat tertarik dengan bagaimana partai membantu Saras saat maju di pileg 2024. Awalnya Saras merasa tidak mampu, namun partai tersebut mengusulkan nama Saswati Ningrum menjadi wakil dari perempuan dan penggiat difabel. Memang sampai saat ini partai ini belum bisa menjawab semua kebutuhan hak difabel, namun usulan yang teman-teman difabel sudah disampaikan   Saras.

Saras memiliki rasa optimis yang tumbuh karena mengidolakan ibu Kartini sebagai pejuang hak perempuan. Difabel perempuan jika diberikan kesempatan pasti bisa melakukannya dengan segala keterbatasan. Menurutnya jangan pernah menganggap difabel tidak mampu, namun caranya bisa jadi berbeda tapi kemampuan sama.

 

Perempuan difabel harus memiliki keyakinan untuk bisa mendobrak stigma diri agar tidak merasa untuk dikasihani. Kesempatan yang harus diciptakan bagi difabel perempuan harus bisa diberikan tidak hanya dari pemerintah namun juga dari keluarga. Difabel perempuan juga bisa menikmati pendidikan yang baik, layanan kesehatan, pekerjaan yang layak dan tentu dapat dipilih dan memilih dalam pemilihan umum.

 

Meski terbatas kondisi sinyal dan sempat terputus obrolan dengan  Saras dilakukan hampir satu jam setengah. Saya menangkap informasi dari beliau di Rembang sudah ada sosok  Fatimah atau Aci yang menjadi orang yang mendorong penuh kemampuan Saras lebih maju di segala hal.

Langkah-langkah yang akan dilakukan oleh Saras ke depan untuk memperjuangkan hak-hak difabel, salah satunya mendorong pemda setempat untuk mendorong terciptanya Perbup sebagai lanjutan dari Perda Disabilitas Nomor 6 tahun 2022. Selain itu memantau, mengadvokasi implementasi dari Perda Disabilitas di Rembang yang baru berumur 1,5 tahun.

Saras menyapakati apa yang kami ketahui bahwa pentingnya pemantauan dan advokasi hak difabel dapat dimulai dari ranah desa, kecamatan hingga pemerintah. Maka dari itu perlunya dibentuk organisasi difabel tingkat desa untuk memberikan wadah bagi difabel yang bertempat di desa-desa. Serapan dana desa bagi kelompok difabel dapat dibantu oleh pihak pemerintah desa dengan membuatkan peraturan desa dan pengukuhan kelompok difabel desa sebagai organisasi sah setingkat dengan organisasi lain di desa.

“Wah mbak yo panjang ya jalur untuk mengadvokasi hak difabel haha,” gelak Saras sambil bergurau.

 

Kondisi difabel di desa yang tidak ‘keluar’ dari rumah untuk berorganisasi memang menjadi tantangan tersendiri. Karya dan sumbangsih difabel di desa yang bisa dilakukan memang beragam dan tidak harus dalam bentuk besar, misalnya dengan menyampaikan kepada difabel dan keluarga untuk bisa mengurangi stigma diri dan meyakinkan bahwa memperjuangkan advokasi hak difabel tidak bisa instan harus berkelanjutan.

 

Selama ini difabel yang mau “keluar” dengan banyak orang dari berbagai kalangan sebagai salah satu kunci untuk bisa sukses. Saras sudah mencontohkan dirinya keluar dari stigma diri dan masyarakat dengan “keluarnya” dari zona nyaman karena faktor kebutuhan dan kepepet.

Nek aku gak keluar, ya aku gak bakal ngene, alhamdulillah saya bisa membuktikan itu walau dhedhel duwel (penuh tantangan)”, kata Saras dengan mantap.

Kesan yang ingin dimunculkan dengan hadirnya Saras di pemilu kali ini ialah ingin menghilangkan anggapan bahwa perempuan yang bekerja di ranah dapur, sumur, kasur harus bisa ditinggalkan.

“Saya mencalonkan diri ini, banyak sekali lho mbak ketidakpercayaan masyarakat untuk memilih berdasarkan kepercayaan. Saya tidak mencalonkan diri dengan istilah NPWP nomor pira wani piro (politik uang), saya bismillah mencalonkan diri dengan keyakinan bisa bermanfaat bagi yang lain”, terang Saras.

Apapun hasilnya nanti Saras memasrahkan semuanya kepada Tuhan dan tentu akan terus berjuang di isu difabel jadi atau tidaknya menjadi wakil dewan. Hadirnya Saras maju dalam kontestasi politik sebagai perempuan sudah menjadi bukti bahwa kesempatan itu ada tinggal bagaimana menangkap dari peluang itu.[]

 

Reporter: Erfina

Editor     : Ajiwan Arief

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air