Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Santo Setiawan dan Yayasan Insan Menjemput Terang; Wadah Difabel Netra Belajar Al-qur’an Braille

Solidernews.com – Yayasan Insan Menjemput Terang adalah lembaga yang didirikan untuk memberikan dukungan kepada difabel netra yang ingin memperdalam ilmu Al-qur’an, terutama dalam pembelajaran Al-qur’an braille dari dasar. Yayasan ini diprakarsai oleh Santo Setiawan, seorang difabel netra yang memiliki keinginan besar untuk memberikan pengajaran kepada difabel netra yang belum memiliki kesempatan atau akses untuk belajar Al-qur’an braille.

 

Awal mula berdirinya Yayasan Insan Menjemput Terang adalah hasil dari sebuah percakapan santai yang berlangsung di sebuah angkringan di Solo. Kala itu,  Santo Setiawan, seorang guru musik di SLB YKAB   Surakarta, memberikan gagasan untuk membuat sebuah kegiatan pemberdayaan bagi difabel netra yang belum berada di bawah naungan lembaga apapun. Tujuannya agar mereka yang belum mengenal Al-Qur’an dapat menerima pengajaran Al-Qur’an Braille. Baginya, Al-qur’an sangat penting untuk diberikan kepada difabel netra karena menjadi kunci utama kehidupan di dunia.

 

Selanjutnya, Santo membulatkan tekadnya untuk berbagi ide tentang pembentukan kegiatan yang hendak dirintis. Ia memposting gagasannya itu melalui media sosial, khususnya Instagram. Ide ini direspon dengan positif oleh salah satu donatur yang menyumbangkan sekitar 10 juta rupiah untuk mendukung misi tersebut. Dengan perolehan dukungan awal ini,   Santo beserta istri dan teman-temannya mulai menjalankan kegiatan pertama yang diberi nama Insan Menjemput Terang.

 

Siswa pertama penerima layanan pengajaran dari Insan Menjemput Terang adalah Aisyah, seorang difabrl netra total dari SLB A YKAB Surakarta. Aisyah dulunya belum menguasai braille. Setelah mengikuti program Insan Menjemput Terang, ia berhasil menyelesaikan iqro (pembelajaran Al-qur’an) dan diberi hadiah satu set Al-qur’an braille.

 

Siswa kedua yang mengikuti kegiatan ini bernama Suci. Ia  mengalami difabel netra pada usia remaja. Suci tidak hanya membutuhkan pengajaran Alquran, tetapi juga dukungan dalam pemulihan mentalnya agar mampu menerima kondisi sebagai seorang difabel netra. Kondisi inilah yang menyebabkan munculnya program home visit. Pada program tersebut,   Santo beserta istri  mengunjungi tempat tinggal Suci untuk memberikan dukungan mental dan membantunya memunculkan konsep penerimaan diri. Dibutuhkan beberapa waktu agar anak dapat menerima kehadiran orang lain. Setelah beberapa kali kunjungan, akhirnya Suci mau menerima kehadiran   Santo beserta istri. Selanjutnya, ia pelan-pelan belajar membaca iqro. Lalu, disusul dengan difabel netra lain yang ingin belajar.

 

Setelah kegiatan Insan Menjemput Terang berjalan  kurang lebih 2 tahun, salah seorang teman Santo menyarankan untuk membentuk yayasan agar kegiatan sah secara hukum. Yayasan tersebut resmi dibentuk pada tanggal 8 Agustus 2023 yang kemudian berubah nama menjadi Yayasan Insan Menjemput  Terang yang diketuai oleh   Santo Setiawan sebagai pendiri.

 

Kegiatan pembelajaran Al-qur’an ini dilakukan  di rumah singgah yang terletak di Perumahan Graha Harmoni 3, Bulakrejo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Kegiatan ini diadakan sebanyak 4-5 kali sebulan pada hari Sabtu. Para peserta mulai belajar pukul 09.00 hingga menjelang zuhur atau tengah hari, dan setelah itu, mereka disajikan makan siang. Ini adalah momen berharga di mana mereka dapat belajar dan juga bersosialisasi.

 

Seiring perkembangan yayasan ini,  banyak difabel netra dari berbagai usia mulai tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan tingkat kemampuan, mulai dari yang belajar braille dasar, Arab braille dasar, hingga yang sudah mahir membaca Alquran. Pengajar di yayasan tersebut memberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan individu. Mereka yang membutuhkan pembelajaran dari dasar akan dibimbing secara intensif hingga mampu membaca Alquran dengan lancar.

 

Dalam mengajar, setiap guru biasanya menghandle 2 hingga 3 peserta sekaligus. Hal ini bertujuan agar guru dapat memberikan pengajaran secara lebih intensif dan memperhatikan setiap peserta dengan lebih cermat, tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran.

 

Tak hanya pembelajaran Alquran braille, Yayasan Insan Menjemput Terang juga menyediakan fasilitas untuk pembelajaran agama, termasuk fiqih dasar seperti tata cara berwudhu, shalat, puasa, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman agama bagi difabel netra. Pengajar untuk materi dasar ini didatangkan dari ustadz sebuah pondok pesantren di Sukoharjo.

 

Selama kegiatan berlangsung, proposal pendanaan belum pernah disebarluaskan. Yayasan ini masih mencari donatur tetap untuk mendukung keberlangsungan program-programnya dan saat ini hanya mengandalkan pendanaan dari donatur-donatur yang sudah ada.  Yayasan Insan Menjemput Terang juga menjalin kerjasama dengan masyarakat sekitar untuk mendukung keberlangsungan kegiatan pembelajaran.

 

Sebagai fasilitas belajar, Yayasan Insan Menjemput Terang menyediakan beberapa buku Iqro braille, tajwid, dan beberapa set Al-qur”an braille. Mereka diperbolehkan membawa Iqro untuk belajar di rumah. Setiap difabel netra  diberikan satu buku Iqro, buku Tajwid, atau Al Qur’an sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

 

Agar memudahkan difabel netra menuju rumah singgah, tersedia transportasi berupa angkot carteran. Mereka yang tinggal dekat dengan titik kumpul diharapkan untuk mengikuti carteran yang telah disediakan, sedangkan bagi yang tinggal jauh akan difasilitasi menggunakan ojek online dengan biaya transportasi akan diganti sesuai dengan nominal yang dikeluarkan.

 

Kurang lebih 3 tahun, Yayasan Insan Menjemput Terang telah menerima sebanyak 25 siswa binaan yang tidak terbatas usia dan 7 pengajar yang tersebar di IMT Pati, IMT Surakarta, dan IMT Boyolali.  Beberapa siswa yang mengikuti kegiatan di Yayasan Insan menjemput terang di Surakarta berasal dari Yogyakarta. Dengan perjalanan yang cukup jauh, mereka harus menggunakan kereta untuk tiba di Solo. Agar tidak terlambat mengikuti kegiatan pada hari berikutnya, seringkali mereka menginap di rumah singgah.

 

Beberapa siswa binaan Yayasan Insan Menjemput Terang telah berhasil menyelesaikan program pembelajaran Iqro dan mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar, meskipun mereka berasal dari berbagai kalangan usia. Selain itu, para difabel netra yang mendapatkan layanan rehabilitasi sosial, seperti konsep penerimaan dirinya, telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Mereka kini mampu menanamkan konsep penerimaan diri dan bersosialisasi dengan lebih baik dalam lingkungan sekitar.

 

Oleh karena itu,  Santo selaku ketua Yayasan berharap agar Yayasan Insan Menjemput Terang terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi difabel netra di Indonesia. Beliau juga berkeinginan untuk mewujudkan visi mendirikan sebuah sekolah Islam khusus untuk difabel netra guna meningkatkan efektivitas pembelajaran. Selain itu,  Santo juga berharap bahwa yayasan ini dapat memberikan pendidikan yang luas tidak hanya dari segi agama, tetapi juga dalam hal finansial dan kemandirian untuk membantu para difabel netra dalam kehidupan sehari-hari serta untuk menunjang masa depan mereka.

 

Hingga saat ini, Yayasan terus memberikan kesempatan luas kepada masyarakat difabel netra yang tertarik untuk mempelajari Al-Qur’an braille, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat lanjutan. Yayasan juga berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikannya, dengan tujuan menciptakan individu difabel netra yang menguasai Al-Qur’an dengan baik, serta memperluas aksesibilitas pendidikan bagi mereka.[]

 

Reporter: Zukhrufafu Aida

Editor    : Ajiwan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air