en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Representasi Difabel dalam Media, pentingkah, dalam Era Pengaruh Media Massa Terhadap Pandangan Masyarakat?

Solidernews.com – Di era  Modern, saat media massa memiliki pengaruh yang kuat terhadap pandangan masyarakat, perhatian terhadap bagaimana difabel digambarkan dalam berbagai platform media menjadi semakin penting. Representasi ini tidak hanya mencerminkan keragaman masyarakat, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan terhadap persepsi dan sikap kolektif terhadap individu difabel.

 

Beberapa media cenderung menampilkan narasi yang memuja difabel, dengan fokus pada pencapaian luar biasa dan perjuangan yang menginspirasi. Namun di sisi lain, representasi ini sering kali terlalu idealis dan tidak mencerminkan realitas kehidupan sehari-hari difabel. Kekurangan kehadiran difabel dalam peran yang kompleks dan beragam dalam media dapat menyebabkan stereotipisasi dan stigmatisasi, dengan mereka seringkali hanya digambarkan sebagai objek simpati atau sumber inspirasi.

 

Tantangannya adalah untuk mencapai keseimbangan yang tepat antara inspirasi dan realitas dalam representasi media difabel. Hal ini membutuhkan media untuk menggambarkan keberagaman pengalaman difabel dengan lebih baik, memperlihatkan kehidupan mereka dalam segala kompleksitasnya. Inklusi yang lebih besar dalam industri media, baik dalam partisipasi profesional difabel maupun dalam representasi yang akurat dan beragam, menjadi kunci dalam mengatasi tantangan ini.

 

Menurut   Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah   difabel di Indonesia pada 2020 adalah 22,5 juta. Sementara Survei Ekonomi Nasional (Susenas) 2020 mencatat ada 28,05 juta   difabel. Adapun organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebut presentase difabel di Indonesia 10 persen dari total penduduk atau sekitar 27,3 juta orang. Namun, dalam realitas kehidupan sosial, stigma yang melekat masih meremehkan eksistensi mereka sebagai individu yang dianggap tidak sempurna atau “lain”. Salah satu alasan utama adalah kurangnya akomodasi yang memadai, yang menghambat partisipasi mereka dalam berbagai aktivitas.

 

Dalam konteks ini, media diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan realitas kehidupan  difabel kepada masyarakat. Namun, ironisnya, media sering kali justru memperkuat stereotip dan stigma yang ada. Terutama di media massa seperti televisi, mereka sering digambarkan sebagai objek lucu atau patut disayangkan, memperkuat pandangan bahwa mereka tidak mandiri dan membutuhkan belas kasihan.

 

Media, dengan kekuatan naratifnya, seringkali membentuk pandangan bahwa difabel adalah individu yang bergantung pada orang “normal” dan tidak berdaya. Beberapa program televisi yang populer bahkan secara tidak langsung menempatkan mereka dalam posisi subordinat dan terpinggirkan, memperkuat stereotip yang berdampak negatif pada persepsi masyarakat terhadap kelompok difabel.

 

Mengangkat Suara Difabel, Peran Media Alternatif dalam Era Digital, Menurut Joni Yulianto

Ketika solidernews mencoba menghubungi Joni Yulianto melalui aplikasi WhatsApp, aktivis difabel yang juga merupakan pendiri Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB), saya tidak hanya mendapat tanggapan, tetapi juga sebuah pengalaman mendalam tentang kompleksitas isu-isu yang terkait dengan difabel. Menurut Joni, yang juga dikenal melalui kanal YouTube-nya dengan nama “Joni Yulianto”, kehadiran di media sosial tidak sekadar tentang membangun pengikut, melainkan sebuah panggung untuk mengangkat isu-isu penting yang sering terlupakan.

 

Dalam era di mana media sosial telah menjadi pusat perhatian, Joni percaya bahwa perannya sebagai penggerak konten tidak hanya tentang jumlah, tetapi kualitas. Meskipun tidak selalu aktif di media sosial, dia berusaha untuk menghasilkan konten yang mendalam dan mudah dipahami. Baginya, kesalahan dalam menyampaikan informasi masih sering terjadi di antara pengguna media sosial, bahkan di podcast-podcast populer.

 

Lebih lanjut, ia menambahkan, “Karena banyak pelaku media sosial lain masih salah dalam menyampaikan informasi. Semisal dalam podcast-nya Dedy Corbuzier yang menghadirkan narasumber untuk mendiskusikan soal ODGJ, diskusinya menjadi liar. Kita yang bergerak di media alternatif isu-isu difabel harus bisa mencounter, mengedukasi konten ke halayak.”

 

Pentingnya media alternatif juga tidak dapat disangkal. Konten yang dihasilkan bukan hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga referensi bagi berbagai pihak, termasuk dalam konteks penyelenggara pemilu. Oleh karena itu, kualitas data dan analisis menjadi fokus utama dalam setiap konten yang dihasilkan.

“Media alternatif memiliki dampak yang signifikan, meskipun terlihat kecil. Berita-berita yang kami tulis di media, seperti yang berkaitan dengan pemilu, dapat menjadi referensi bagi penyelenggara pemilu. Oleh karena itu, dalam menulis, kami harus menyediakan data yang baik dan analisis yang mendalam. Sebagai contoh, dalam podcast saya, banyak yang mengambil referensi dari apa yang saya tulis di media maupun dari podcast yang saya buat,” imbuhnya.

 

Tantangan tidak terhindarkan dalam perjuangan ini, baik itu teknis maupun non-teknis. Keterbatasan waktu dan momentum sering kali menjadi halangan, tetapi melalui kolaborasi dengan media lain, isu-isu difabel dapat diangkat ke tingkat yang lebih luas, meskipun harus menghadapi dominasi konten mainstream.

 

Menurutnya, tantangan atau hambatannya terbagi menjadi dua, yaitu aspek teknis dan non-teknis. Secara teknis, ia mengalami kesulitan karena masih dalam tahap amatiran, keterbatasan waktu, dan kadang-kadang tidak selalu siap, yang berpotensi mengganggu proses produksi konten. Sedangkan dari segi non-teknis, tantangannya lebih berkaitan dengan momentum dan niat. Ada saat-saat di mana belum ada niat untuk membuat konten, atau ketika niat sudah ada namun momentumnya sudah terlewat, sehingga konten tersebut tidak lagi menarik untuk disampaikan. Selain itu, ia juga menghadapi kesulitan dalam menemukan ide yang matang dan mencari narasumber yang relevan, terutama jika tidak dari lingkaran pertemanan. Ia menekankan bahwa bekerja dengan teman memiliki keuntungan tersendiri, di mana meskipun podcast tidak dibayar, tetap dapat dimaklumi. Namun, jika tidak melibatkan teman, hal tersebut dapat menjadi tidak menyenangkan.

 

Joni juga menyoroti pentingnya kreativitas dan responsivitas terhadap kebutuhan audiens. Konten yang disampaikan haruslah relevan dan menarik, baik itu dalam bentuk berita aktual maupun tips praktis. Dengan demikian, media alternatif tetap memiliki ruang untuk berkembang dan berpengaruh, meskipun di tengah dominasi media arus utama yang cenderung mengabaikan isu-isu difabel.

“Pentingnya kolaborasi dengan media lain adalah bahwa meskipun informasi mungkin tersedia di media alternatif, namun sering kali tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Terutama dalam era YouTube, kita dapat bertukar konten dengan konten kreator yang memiliki basis pengikut yang besar. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam menyampaikan isu-isu difabel kepada media arus utama.”

 

“Kita harus lebih cepat dalam mencari ide yang menarik untuk disampaikan kepada penonton atau pembaca. Kita harus sensitif terhadap apa yang ingin kita tampilkan, karena ada konten yang kehilangan daya tariknya karena momentumnya sudah berlalu, seperti  berita berita News atau peristiwa lainnya. Namun, ada juga konten yang tetap relevan, seperti tips-tips, seperti tips memasak atau tips mencari pacar. Intinya, media alternatif harus cerdas dalam mengidentifikasi peluang dan kreatif dalam mengembangkan ide, sehingga dapat memiliki dampak yang signifikan. Media alternatif perlu memiliki fleksibilitas yang lebih besar, terutama ketika media arus utama sering membatasi cakupan isu-isu difabel karena dianggap kurang menarik,” tutup Joni.

 

Dari sudut pandang Joni Yulianto, menjadi seorang influencer tidak hanya tentang popularitas di media sosial, tetapi juga tentang bagaimana kita menyampaikan pesan dengan tepat, mengedukasi, dan menginspirasi. Melalui media alternatif, ia terus berjuang untuk memberikan suara kepada mereka yang sering terpinggirkan, memperjuangkan masyarakat yang lebih inklusif dan peduli terhadap keberagaman.

 

Solider News, Membangun Inklusi Difabel dalam Struktur Keredaksian

Dalam dunia pemberitaan, setiap media memiliki pendekatan dan fokusnya sendiri. Salah satunya adalah Solider News, yang telah menjadikan isu-isu difabel sebagai fokus utamanya. Saat saya menghubungi Pimpinan Redaksinya, Ajiwan Arief, saya diperkenalkan pada sudut pandang yang lebih dalam tentang bagaimana mereka menghadirkan berita, konten, dan tulisan terkait difabel.

 

Menurut Ajiwan, dalam dunia jurnalistik, pentingnya keberagaman dan representasi menjadi kunci utama dalam menghadirkan suara-suara yang sering terpinggirkan. Solider News tidak hanya memperjuangkan inklusi difabel melalui konten yang disajikan, tetapi juga dalam struktur keredaksian mereka.

 

Dari dewan redaksi hingga kontributor, Solider News berusaha untuk memastikan bahwa suara difabel diwakili secara autentik dan menyeluruh. Sebagai bagian dari Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB), Solider News bukan hanya memberikan panggung bagi difabel untuk berbicara, tetapi juga memastikan partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan dan administrasi. “Kami, mulai dari dewan redaksi, redaktur, hingga kontributor, berupaya memastikan representasi difabel terwakili dalam struktur kami. Jadi, secara jelas, Sigab adalah milik mereka, dimulai dari anggota dewan redaksi, redaktur, hingga beberapa kontributor yang berusaha melibatkan teman-teman difabel dalam kegiatan kami,” ujar Ajiwan.

 

Bagi Solider News, keberadaan difabel dalam struktur keredaksian bukanlah sekadar tentang pencitraan atau pemujaan. Lebih dari itu, itu adalah tentang mengakui dan menghargai perspektif mereka dalam setiap tahap pembuatan konten. Setiap berita atau cerita yang mereka sajikan berasal dari pengalaman nyata dan wawancara langsung dengan teman-teman difabel di lapangan.

 

“Jadi, dari perencanaan ide, proses administrasi, hingga kontribusi dari teman-teman kami, kami berusaha untuk melibatkan teman-teman difabel agar dapat berpartisipasi dan berperan,” lanjutnya.

 

Mereka menyadari bahwa representasi difabel dalam media seringkali terbatas dan stereotip. Oleh karena itu, Solider News berkomitmen untuk menghadirkan suara difabel secara inklusif, menghindari klise-kilise yang sering muncul dalam liputan difabel di media mainstream.

 

Meskipun telah ada upaya-upaya seperti ini, perjuangan untuk inklusi difabel dalam media masih jauh dari selesai. Keperpihakan yang sesungguhnya masih minim, meskipun undang-undang perlindungan difabel telah disahkan. Banyak media masih cenderung menghadirkan liputan difabel dalam sudut pandang yang terbatas dan tidak inklusif.

 

Dalam dunia pemberitaan, seringkali kita melihat kehadiran difabel dalam media, namun dengan representasi yang tidak inklusif. Mereka sering digambarkan dalam konteks penerimaan kasih atau bantuan, yang mencerminkan paradigma “charity”. Dalam banyak kasus, difabel dianggap luar biasa hanya ketika mereka mencapai sesuatu yang dianggap istimewa oleh masyarakat. Sebagai contoh, pemberitaan mengenai Asian Para Games atau prestasi Putri Ariani sering kali muncul hanya ketika ada pencapaian yang luar biasa.

 

“Masyarakat perlu menyadari bahwa difabel adalah bagian yang integral dari masyarakat kita, bukan hanya objek simpati atau inspirasi yang hanya muncul saat mencapai prestasi tertentu,” ungkap Ajiwan dengan tegas.

 

Kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan dalam representasi difabel di media, di mana mereka sering kali tidak diperlakukan secara inklusif atau dianggap sebagai bagian yang sama dalam masyarakat. Hal ini dapat menyebabkan persepsi yang salah dan stereotip tentang kemampuan dan kontribusi difabel dalam berbagai aspek kehidupan.

 

Diperlukannya perubahan paradigma dalam pemberitaan difabel menjadi lebih inklusif dan memperhatikan berbagai aspek kehidupan mereka, bukan hanya ketika ada pencapaian luar biasa. Ini akan membantu mendorong masyarakat untuk melihat difabel sebagai bagian yang integral dan setara dalam masyarakat, serta menghargai berbagai kontribusi yang mereka berikan.

 

Solider News percaya bahwa melalui kolaborasi dan komitmen yang kuat, perubahan yang lebih besar dapat tercapai. Dengan memperjuangkan inklusi difabel dalam struktur keredaksian dan konten yang dihasilkan, mereka berharap dapat membuka mata masyarakat akan keberagaman dan kemampuan yang dimiliki oleh teman-teman difabel. Dengan demikian, Solider News berperan sebagai agen perubahan dalam memperjuangkan representasi yang lebih inklusif dan adil bagi difabel dalam media.[]

 

Penulis: Hasan Basri

Editor      : Ajiwan Arief

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air