Views: 8
Solidernews.com – Difabel kerap menghadapi diskriminasi di ruang publik, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga layanan dasar. Namun yang menjadi ironi, perlakuan serupa justru masih sering mereka rasakan di rumah sendiri. Minimnya pemahaman orang tua tentang kebutuhan anak difabel membuat kasih sayang berubah menjadi pembatasan, bahkan mengekang potensi yang seharusnya bisa berkembang. Karena itu, edukasi dan perubahan pola pandang keluarga menjadi langkah penting agar rumah tidak lagi menjadi ruang pertama diskriminasi.
Meski sejarah pengakuan secara undang-undang tentang hak dan kesejahteraan difabel sudah disahkan sejak Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat sampai adanya Undang-undang Nomor 19 Tahun 2011 yang meratifikasi konsep Convention on the Rights of People with Disabilities (CRPD) yang sudah diterapkan dan disahkan oleh PBB pada 2006, sampai pada UU. No. 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, fenomena difabel yang tidak terberdayakan masih acapkali terjadi. Hal ini menjadi ironi, dimana kurang diberdayakannya remaja difabel itu, justru malah dirasakan pada level keluarganya.
Dzulfikar, seorang difabel asal Kalimantan Timur, yang mengalami kebutaan sejak 2018, begitu merasakan pembatasan dari keluarganya. Ia menyampaikan kepada solidernews, bahwasannya itu terjadi karena isu difabel di wilayahnya sangat jarang terdengar. Sehingga, ia merasa terkekang oleh orang tuanya yang sempat tidak mengizinkannya untuk melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti.
“Iya, di keluarga saya yang difabel cuman saya. Saat menjadi buta, kami kesulitan mencari informasi dan edukasi tentang difabel. Bahkan orang tua sempat menilai kalau SLB hanya untuk difabel yang berat, karena saat itu saya masih ada sedikit sisa penglihatan. Jadi, saat ingin sekolah ke SLB, saya ditentang keras sama ayah,” jelas Dzulfikar, saat dihubungi via telepon, 12 september 2025.
Anggapan Melindungi yang Justru Memadamkan Potensi
Minimnya edukasi tentang isu difabel di masyarakat-masyarakat desa terkadang juga berdampak pada cara orang tua menyikapi anaknya yang difabel. Belum lagi adanya stigma dan mitos-mitos yang membuat difabel terkadang disembunyikan di rumahnya. Hal itu justru malah merendahkan harga diri sekaligus membunuh potensi anak.
“Saya dulu itu kerap bertengkar dengan ayah untuk bisa kembali sekolah. Tapi ia tidak mengizinkan karena kondisi saya dinilai tidak mampu. Itu juga menjadi tambahan stres di pikiran,” jelas Dzulfikar.
Pada kesempatan lain, Solidernews juga terhubung dengan Arilinda. Siswa berusia 13 tahun ini semula bersekolah di sekolah dasar umum. Padahal ia memiliki hambatan penglihatan, tapi orang tuanya kurang mengerti yang dirasakannya, karena sang orang tua sudah merasa melakukan loby dan audiensi untuk memberikan penanganan yang lebih khusus kepadanya.
“Padahal aku itu sudah bercerita kalau di sekolah ndak punya temen, duduk sendiri, barang-barang sering disembunyikan, dan tidak jarang mereka meledek kondisi mataku yang juling. Di kelas pun guru juga tidak memberikan pengajaran sebagaimana yang dititipkan oleh orang tua,” jelas Linda, kepada Solidernews, 18 September 2025.
Dari keadaan itu, Arilinda akhirnya tidak dapat mengikuti pembelajaran. Di kelas hanya diam. Tidak menulis atau membaca buku. Sebab ia sudah tidak mampu. Tapi orang tuanya masih kekeuh jika dirinya hanya alasan saja.
Selain itu, Solidernews juga terhubung dengan Puspita, yang menceritakan bila kondisinya yang menggunakan kursi roda membuat orang tuanya menjaga berlebihan. Ia tidak dipercaya bisa mandiri naik kendaraan umum, bahkan ia tidak diizinkan bermain untuk sekedar nonton film di bioskop, serta harus mewajibkan dirinya keluar harus bersama keluarga yang mendampingi. Padahal ia studi di luar kota dan kalau tidak dilatih mandiri itu akan menambah tantangan.
“Nah, pendamping itu kan tidak yang setiap waktu bisa direpoti. Sedangkan saya sangat bosan kalau cuman di rumah saja. Ini jadi membuat kemandirian yang saya inginkan jadi tersendat, jelas Puspita, saat diwawancara pada 10 September 2025.
Berbagai masalah yang dihadapi oleh difabel di atas, merupakan beberapa potret tantangan dan hambatan akses untuk berkembang yang harusnya didapatkan dari lingkaran yang paling dasar. Lantas sebenarnya orang tua itu harus seperti apa dan anak difabel harus bagaimana, agar lingkaran terkecilnya tidak menjadi sumber awal diskriminasi.
Berikan Kesempatan dan Kepercayaan Sesuai Kebutuhan Remaja Difabel
Rachel Siloam, seorang difabel netra sekaligus penyiar Radio RRI Pro 1 di Jakarta, menegaskan bahwa peranan orang tua yang harus menerima anak apapun keadaannya menjadi modal utama. Meski hal itu memang tidak mudah. Tapi bukan berarti mustahil untuk dijalani. Dan dari sinergi dan keterhubungan itu pula yang akan menjadi modal besar untuk anak difabel yang lebih mandiri dan berprestasi.
“Saya mengakui posisi saya di hari ini adalah atas kehadiran, pengorbanan, dan kesabaran ibu dalam membimbing saya. Meski tidak mudah, tapi beliau tidak memilih untuk menyerah. Ibu selalu menata diri dan senantiasa memberi dukungan positif di setiap langkah,” jelas
Rachel, pada Solidernews 12 Januari 2025.
Sri Mukti Handayani, ibu Rachel, juga menjelaskan bahwa kunci utama orang tua difabel itu yang pertama harus dapat menerima keadaan anak secara total. “Setelah itu, kita segera ambil langkah untuk mencari informasi, suport grup, yang bisa membantu kita, dan memberikan peluang pada anak,” jelasnya, dilansir dari kanal Youtube METRO TV, pada 20 September 2025.
Selain itu, Estikarina, ibu dari Handoko yang merupakan anak deaf blind, juga menegaskan bahwa kehadiran orang tua bagi anak difabel itu penting sekali. Jangan menciptakan ruang diskriminasi dari keluarga itu sendiri. Banyak cara untuk melihat potensi dan menjadikan anak itu berprestasi sesuai keunikan dan minat bakat anak difabel.
“Kita tidak boleh mengurung anak difabel di rumah. Justru kita harus mengembangkan, mendidik, dan memberikan kesempatan seluas mungkin, agar si anak bisa mandiri dengan caranya,” tegasnya, saat bercerita pada Solidernews, 26 Agustus 2025.
Rajin Memahami dan Mendampingi Menemukan Alternatif Solusi
Pada kesempatan lain, solidernews berjumpa dengan Nurhadi, orang tua dari Arilinda, 19 September 2025. Ayah dari empat orang anak itu mendengar pendapat dan akhirnya mulai serius menanggapi keluhan sang anak. Ia kembali ke sekolah dasar tempat Arilinda sekolah, lalu menemukan fakta yang sesuai pada cerita anaknya, dan akhirnya Arilinda dipindah ke sekolah yang dapat mewadahi pendidikan dan bakat anaknya.
“Pada akhirnya memang kita sebagai orang tua haruslah memahami dan mendengar betul aspirasi anak. Mungkin arahan kita benar, tapi belum tentu sesuai pada kebutuhan anak. Jadi, disini saya belajar menjadi lebih terbuka. Untuk saat ini Arilinda bersekolah di salah satu sekolah asrama di Yogyakarta, dan tengah menekuni atletik dan akademisnya terus menunjukkan arah positif,”imbuhnya.
Salah satu pendiri Wahana Keluarga Cerebralpalsy, Reny Indrawati, juga menegaskan bahwa ia yang memiliki anak dengan difabel ganda: CP dan difabel intelektual, bahwasannya sebagai orang tua difabel kita harus senantiasa kreatif membantu anak menemukan alternatif solusi untuk meningkatkan edukasi, pendidikan, dan prestasinya. Tidak boleh mudah patah semangat dan jangan takut kalau progresnya perlahan.
“Adnan anak saya ini memiliki dua kategori difabel. Saya pernah mengalami penolakan sekolah dari salah satu SLB, rumitnya mengajarkan pengetahuan pada anak, dan sebagainya. Tapi saya tidak memilih menyerah. Kini Adnan terus berkembang, semua pengetahuan saya konversi dalam bentuk gambar, mendampinginya saat belajar, dan masih banyak lagi,” jelasnya pada Solidernews, 19 Januari 2025.
Kehadiran orang tua dan partisipasi anak menjadi hal penting. Selalu kreatif, tidak mudah menyerah, mencari suport grup—seperti WKCP yang menjadi wadah bagi orang tua yang memiliki anak CP, serta strategi lain, merupakan berbagai fasilitas yang mengembangkan anak.
Dari kisah-kisah di atas, jelas bahwa dukungan orang tua bukan sekadar memberi perlindungan, tetapi juga kepercayaan. Remaja difabel tidak butuh rasa kasihan yang membatasi, melainkan kesempatan untuk tumbuh dengan potensi uniknya. Saat keluarga menjadi ruang pertama yang inklusif, maka jalan menuju masyarakat yang lebih adil bagi difabel akan terbuka lebar.[]
Reporter : Wachid Hamdan
Editor : Ajiwan








