Views: 12
Solidernews,- Bali. World Forum for Inclusive Education (WFIEd) membahas peluang dan tantangan teknologi digital bagi kelompok marginal dalam forum pemetaan strategis bertajuk “Mapping Emerging Technologies for Advanced Responsible and Gender-Inclusive Sustainable Development” pada Sabtu 17 Januari 2026 di Stark Boutique Hotel, Bali. Forum tersebut menekankan bahwa teknologi berpotensi memperlebar kesenjangan partisipasi difabel jika proses perencanaannya tidak menggunakan pendekatan inklusif.
Rektor Universitas Negeri Malang, Hariyono, dalam sambutannya menekankan teknologi seharusnya menjadi alat pemberdayaan bagi semua kalangan, bukan hanya kelompok tertentu. Ia berharap dialog ini memberikan informasi bagaimana agar
platform-platform digital dapat diakses semua kalangan termasuk difabel. “Kemajuan teknologi tentunya terus berkembang dan memberikan banyak dampak,” katanya.
Forum tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, perguruan tinggi, industri, serta komunitas difabel Bali untuk memetakan teknologi baru agar selaras dengan prinsip tanggung jawab sosial dan inklusi. Forum ini tidak hanya menyoroti perkembangan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan dan platform digital, tetapi juga menempatkan aspek etika, aksesibilitas, dan tata kelola sebagai isu utama.
Keterlibatan komunitas difabel dipandang krusial agar teknologi yang dikembangkan benar-benar sesuai kebutuhan pengguna di lapangan. Hal tersebut ditegaskan Gunawan, peserta perwakilan dari DPD Pertuni Provinsi Bali dalam sesi diskusi. Menurutnya, selama ini banyak platform digital dirancang tanpa melibatkan difabel sebagai pengguna langsung. “Tanpa keterlibatan, sering kali platform itu tidak sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Gunawan mencontohkan, bagi pengguna netra, aplikasi yang tidak dapat diakses pembaca layar pada dasarnya sama sekali tidak bisa digunakan, sehingga menghambat partisipasi dalam pendidikan, pekerjaan, maupun layanan publik. Diskusi tersebut menghasilkan catatan keterlibatan difabel sejak tahap pemetaan, perancangan, hingga evaluasi dipandang sebagai kunci utama untuk memastikan teknologi yang inklusif.[]
Reporter: Agus Weda Gunawan




