Views: 24
Solidernews.com –Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2025, Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) menggelar Webinar Nasional bertajuk “Pemberdayaan Perempuan Inklusif-Personal Branding dan Aksesibilitas sebagai Kunci Perubahan.” Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong perempuan, khususnya perempuan difabel, agar memiliki kesempatan setara dalam berbagai aspek kehidupan. Utamanya dalam pemberdayaan ekonomi dan kepemimpinan.
Webinar ini menghadirkan narasumber inspiratif, yaitu Mahretta Maha, SH, Bendahara Umum PERTUNI dan aktivis perempuan difabel, serta Rofy Rahmawan, Relationship & Marketing Officer BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Cilincing. Acara berlangsung pada Minggu, 9 Maret 2025, pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB secara daring dan diikuti oleh ratusan peserta dari seluruh Indonesia.
Ketua pelaksana, Herlin Lusiana, dalam sambutannya menyatakan bahwa peringatan Hari Perempuan Internasional ini menjadi refleksi atas perjuangan perempuan dalam mendapatkan hak yang setara. Selain itu, merupakan momen yang pas untuk melakukan refleksi atas berbagai perjuangan serta pencapaian dari para aktivis perempuan, khususnya perempuan difabel. Di mana perjuangan perempuan difabel dalam meraih kesetaraan dan keadilan, harus melalui proses yang begitu berliku.
“Perempuan difabel memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk beraktualisasi. Namun, kita juga menyadari masih banyak tantangan, seperti keterbatasan informasi, diskriminasi di ruang kerja, serta minimnya akses terhadap ruang ekspresi. Momen ini menjadi refleksi dan langkah menuju perubahan,” ujarnya.
Gema, Ketua Umum PERTUNI, menegaskan bahwa DPP Pertuni sangat berkomitmen untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan secara holistik. Selain itu, Gema juga menjelaskan sebagai wujud nyata Pertuni dalam menghormati hak dan kesempatan perempuan difabel, mereka membuat peraturan zero tolerir atas kekerasan dan pelecehan bagi difabel, dan dapat melaporkan ke Pertuni untuk dibantu menindak lanjuti kasus yang di alami.
“Kami memahami bahwa perempuan difabel menghadapi permasalahan yang kompleks. Oleh karena itu, kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun lingkungan yang inklusif agar perempuan difabel dapat memaksimalkan potensinya. Kami berharap momen ini menjadi langkah baik bagi perjuangan perempuan,” ungkap Gema dalam sambutannya.
Sementara itu, Mahretta Maha menyoroti pentingnya interseksionalitas dalam pemberdayaan perempuan difabel. Bagi Reta, perempuan difabel juga memiliki hak serta kesempatan yang sama, sebagaimana seorang pria dapat mengaktualisasikan diri. Selain itu, perempuan difabel juga memiliki kesempatan yang sama disaat menjabat sebagai pemimpin.
“Perempuan difabel tidak boleh lagi berada di bayang-bayang atau sekadar menjadi pelengkap. Mereka harus berani menjadi pemimpin agar suara, kebutuhan, dan hak-hak mereka dapat tersampaikan dengan baik,” tegasnya.
Secara keseluruhan, Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh PERTUNI dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2025 ini menjadi ajang refleksi sekaligus penguatan bagi perempuan difabel dalam memperjuangkan hak dan kesetaraan. Melalui diskusi yang inspiratif, para peserta diingatkan bahwa pemberdayaan perempuan harus bersifat inklusif dan berbasis aksesibilitas agar perubahan yang diharapkan dapat terwujud. Dengan komitmen bersama dari berbagai pihak, diharapkan perempuan difabel semakin berdaya, mampu beraktualisasi, serta berkontribusi dalam berbagai bidang tanpa hambatan. Momentum ini menjadi langkah awal menuju masyarakat yang lebih inklusif dan adil bagi semua.
Secara umum, kegiatan webinar dan perayaan hari perempuan internasional diselenggarakan karena perempuan, termasuk perempuan difabel, memiliki hak yang sama untuk berkembang, beraktualisasi, dan berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, tantangan seperti keterbatasan akses, diskriminasi, dan minimnya peluang masih menjadi penghalang bagi mereka. Maka penting adanya kekompakan dan komitmen untuk mengawal perempuan difabel dalam meraih kesetaraannya.[]
Reporter: Wachid Hamdan
Editor : Ajiwan




