Views: 15
Solidernews.com. PERUBAHAN iklim telah mengubah ritme hidup masyarakat Indonesia. Hujan turun semakin sering, banjir meluap lebih tinggi, tanah longsor datang tanpa aba-aba. Memasuki hari kelima, proses evakuasi dan pencarian korban banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, masih berlangsung. Berdasar data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban jiwa per hari Selasa (2/12) siang hari, mencapai 686 jiwa, sementara 476 orang masih dinyatakan hilang.
Indonesia adalah negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Bencana hidrometeorologi. Yaitu bencana yang muncul karena atmosfer, air, dan lautan, semakin sering terjadi. Kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, longsor, dan gelombang panas kini sudah menjadi bagian dari keseharian.
Dampaknya tidak merata. Di Bengkulu Selatan, misalnya, kenaikan suhu air laut menyebabkan migrasi ikan. Nelayan kesulitan mendapatkan ikan, pendapatan turun. Ketika pendapatan menurun, keluarga terpaksa mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Ketika rumah tangga goyah, masa depan anak-anak ikut terancam.
Bank Dunia memperkirakan bahwa dampak perubahan iklim, khususnya kesehatan, bencana alam, dan kenaikan harga pangan, dapat mendorong hingga 132 juta orang jatuh miskin pada tahun 2030. Yang paling terdampak adalah masyarakat miskin, lansia, perempuan, dan masyarakat difabel. Ini bukan hanya krisis lingkungan. Ini adalah krisis kemanusiaan.
Siapa yang tertinggal?
Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan betapa difabel sangat rentan ketika bencana datang. Saat air naik, evakuasi sering terlambat. Rumah-rumah banyak yang tanpa ramp, lantai licin, jalan gang sempit. Dalam situasi darurat, warga yang bisa berlari akan menyelamatkan diri terlebih dahulu. Tetapi bagi warga yang memiliki hambatan mobilitas, waktu adalah ancaman.
“Air naik cepat sekali malam itu. Saya tidak bisa lari. Kursi roda saya tenggelam di ruang tamu,” ujar Rasyid, 58 tahun, difabel amputasi di Lhokseumawe, Aceh.
“Kalau tetangga tidak datang, entah apa jadinya saya. Tidak ada perahu dari desa sampai pagi.”
Di Medan Labuhan, sirine peringatan berbunyi, tetapi tidak terdengar oleh semua orang. “Kami dengar sirine (red_penanda dengan bebunyian tertentu), tapi ibu saya tuli. Dia tidak tahu apa yang terjadi sampai air sudah masuk dapur,” kata Miriam, 32 tahun.
Di Donggala, Sulawesi Tengah, tantangan bertambah karena anak-anak dengan hambatan fisik perlu digendong. “Saya bawa anak CP di punggung. Dia berat, tapi kami tidak punya pilihan. Tidak ada jalur evakuasi untuk kursi roda,” ungkap Fatma, ibu dari anak Cerebral Palsy.
Rumah mereka hanya 500 meter dari sungai. Setiap hujan lebat, mereka berjaga-jaga. Jika banjir datang tengah malam, mereka memilih bertahan di rumah karena tidak ada akses yang aman menuju tempat pengungsian.
Tak ramah difabel
Banjir besar di Aceh, Sumut, dan Sulteng menunjukkan bahwa aksesibilitas tempat pengungsian masih sangat minim. Di banyak lokasi: tidak ada jalur landai (ramp); jalur sempit dan licin; toilet tidak akses; tempat tidur tidak memungkinkan mobilitas; tidak ada informasi nonvisual untuk difabel netra, serta tidak ada informasi teks untuk difabel tuli.
Hampir tidak ada ruang khusus bagi caregiver (red_pendamping) yang membawa anak difabel. Barang-barang penting, obat, alat dengar, dan kursi roda sering hilang atau rusak. Dalam situasi seperti itu, keluarga dengan difabel lebih memilih bertahan di rumah, menunggu air surut. Mereka bukan tidak mau mengungsi, namun mereka terhambat aksesibilitasnya.
Trauma
Bencana tidak hanya merusak rumah, tetapi juga menyisakan luka psikologis. Pada difabel, trauma lebih mendalam. Mereka mengalami: hilangnya rasa kontrol; ketergantungan penuh pada orang lain; kecemasan berulang setiap hujan.
“Trauma difabel sering tak diperhatikan. Mereka mengulang peristiwa di kepala: ‘Jika banjir datang lagi, siapa yang menyelamatkan saya?’ Gejala yang banyak ditemukan: sulit tidur saat hujan; tidak mau meninggalkan rumah; kelelahan pada caregiver
Konseling kelompok, kunjungan rumah, dan pelatihan kesiapsiagaan terbukti membantu. Tetapi program-program ini belum menjadi bagian rutin dari sistem penanggulangan bencana.
Keselamatan adalah persoalan
Dalam semua diskusi tentang iklim, infrastruktur, pembiayaan, dan kebijakan, ada satu pertanyaan yang sering tidak diucapkan.
Ketika banjir besar datang tengah malam, siapa yang mengetuk pintu rumah difabel? Pertanyaan-pertanyaan turunan tampak sederhana, namun sangat menentukan: siapa mendorong kursi roda menuju perahu karet; siapa membimbing difabel netra ketika jalan licin? siapa menggendong anak Cerebral Palsy melewati banjir? siapa memastikan alat dengar tidak rusak? Serta siapa mengantar obat ketika jalan terputus?
Pada akhirnya, bencana adalah persoalan ekologis. Tetapi keselamatan adalah persoalan sosial dan politik. Bencana tidak memilih korban. Tetapi kebijakan sering memilih: siapa yang dihitung, siapa yang diabaikan.[]
Reporter: Harta Nning Wijaya
Editor : Ajiwan









