Views: 32
Yogyakarta,- Sekelompok difabel melakukan audit trotoar di sepanjang kawasan Tugu. Selama proses audit terdapat temuan berbagai aksesibilitas trotoar belum ramah bagi pengguna difabel. Masih banyak hambatan bagi difabel ketika menyusuri Kawasan tersebut, mulai dari jalur pemandu (Guiding Block) yang terputus, terhalang parkir liar pengendara sepeda motor, sampai terhalang gerobak pedagang kaki lima.
Audit aksesibilitas tersebut dibingkai dalam tema Tamasya Jogjalan Serius bagian dari rangakaian acara Pekan Inklusi Difabel 2025 yang digelar oleh Sasana Inklusi dan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia mulai dari 7-8 Desember sebagai peringatan Hari Disabilitas Internasional.
Abiyyi Yahya Hakim, ketua Komunitas Pedestrian Jogja, yang tutur mengawal audit aksesibilitas mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya penyadaran publik tentang hak masyarakat difabel sebagai bagian dari pengguna layanan publik. Menurutnya, masih banyak hambatan yang dialami difabel, seperti netra dan fisik ketika mengakses trotoar di sepanjang ruas jalan kawasan Tugu, dari C. Simanjuntak sampai Jalan Jendral Sudirman.
“Yang perlu jadi catatan, ini baru di Tugu, di Kawasan lain juga masih banyak dengan tantangan yang berbeda,” tutur Abi.
Menurut Abi, tantangan lainnya adalah terkait kesadaran masyarakat yang belum memahami hak difabel dan fungsi dari bangunan aksesibilitas yang ada di trotoar. Hasil dari temuan audit tersebut akan didokumentasikan dan disampaikan kepada pemerintah terkait.
“Setiap tahun kami ada catatan, laporan dan temuan terkait pedestrian di Jogja. Dan akan kami sampaikan hasil ini ke pemerintah,” pungkasnya.
Okto Wahyudi, difabel netra yang turut serta dalam tamasya Jogjalan Serius mengaku takut cidera karena banyak jalur pemandu yang terputus ataupun halangan seperti parkir kendaraan. Bahkan, dia juga sesekali harus mengambil ruas jalan raya yang bisa menyebabkan kecelakaan, sebab tiba-tida jalur pemadu terhalang gerobak pedagang kaki lima.
“Itu padahal didampingi, tapi tetap masih khawatir, ragu-ragu jalan di guiding block. Saya tidak bisa membayangkan kalau difabel berjalan sendirian,” keluh Okto.
Okto berharap, komitmen pemerintah Jogja lebih serius dalam membangun aksesibilitas di ruang publik. Pembangunan aksesibilitas juga seharusnya melibatkan masyarakat difabel sebagai penerima manfaat.
“Kalau difabel dilibatkan dalam proses Pembangunan di ruang publik, enggak ada lagi guiding block yang enggak sesuai dan bangunan aksesibilitas lainnya,” imbuh Okto.[]








