Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Permudah Akses Belajar Al-Quran Braille, BAZNAS Latih Pengajar Khusus

Solidernews.com. PENDIDIKAN inklusif. Kehadirannya, diharapkan dapat mengurai polemik yang dialami difabel dalam mengakses pendidikan. Pendidikan inklusif, seyogyanya dapat mengatasi berbagai tantangan di sekolah. Dapat memfasilitasi murid difabel. Sehingga dapat mengakses pengetahuan yang sama dan setara, di instansi pendidikan, bersama-sama murid non-difabel.

 

Kesamaan kesempatan dan kesetaraan, menjadi perhatian, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Lembaga keagamaan ini, menyelenggarakan program Training of Trainers (ToT) bagi para pengajar dan penyaluran Al-Quran Braille. Dengan harapan, difabel netra memperoleh akses pendidikan Al-Quran berkualitas.

 

Pasalnya, Al-Quran, sebagai sumber utama ajaran agama Islam, memiliki signifikansi mendalam bagi jutaan umat Muslim di seluruh dunia. Namun, bagaimana dengan mereka yang memiliki gangguan penglihatan? Bagaimana mereka bisa mengakses dan memahami Al-Quran dengan sepenuhnya? Al-Quran Braille memainkan peran penting. Memastikan, tidak ada satu orang pun yang tertinggal, dalam memahami pesan-pesan Al-Quran.

 

Tersebut di atas mengemuka dari Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, MA. Disampaikannya pula, BAZNAS akan terus berupaya memberikan manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan. Tidak terkecuali difabel dalam memperoleh pendidikan agama dan Al-Quran.

 

Karenanya, Program ToT tersebut, menjadi agenda penting bagi BAZNAS. Kegiatan ToT, akan dilaksanakan di berbagai tempat dan wilayah. “ToT bagi pengajar al-quran braille akan diselenggarakan di pondok-pondok pesantren, yayasan dan lembaga pendidikan, serta tempat berbagai institusi pendidikan di Indonesia,” dikutip dari keterangan pers Saidah, Jumat (7/6/2024).

 

Saidah berharap, dengan adanya kegiatan ini, BAZNAS bisa memperoleh tenaga pendidik Al-Quran yang berkualitas bagi difabel sensorik netra. Sehingga, bisa mencetak generasi penghafal Al-Quran di kalangan difabel.

 

Dalam kesempatan yang sama, Plt. Kepala Divisi Penguatan Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS RI, Iqbal Rahmat, S.E., pun menyampaikan pendapatnya. Program ToT tersebut, kata dia, merupakan dukungan dan kepedulian BAZNAS RI terhadap difabel netra. Memudahkan mereka mengakses pendidikan Al-Quran.

 

Iqbal menambahkan, program ini juga sebagai upaya BAZNAS untuk berperan aktif membantu pemerintah. Khususnya dalam memastikan difabel  mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan agama. Sebagaimana yang telah diatur dalam UU No. 8 Tahun 2016 pasal 14 ayat C.

 

Dalam pelaksanaannya, peserta akan dibekali keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengajar Al-Quran Braille, bagi difabel sensorik netra. BAZNAS RI juga bekerja sama dengan BAZNAS Provinsi maupun BAZNAS Kota/Kabupaten untuk memastikan program tersebut berjalan baik.

 

Mengenal al-quran braille

Al-Quran Braille, berbeda dengan Al-Quran yang dicetak untuk orang awas. Perbedaan terdapat pada sisi tata letak. Berbeda pada format pencetakannya. Karena ukuran huruf Braille yang lebih besar daripada huruf awas. Maka jumlah halaman mushaf Braille pun jauh lebih banyak. Namun demikian, keduanya memiliki isi ayat-ayat yang sama.

 

Al-Quran Braille, adalah mushaf Al-Quran yang dicetak dengan huruf Braille. Huruf Braille adalah sistem bacaan dan tulis yang dirancang khusus untuk orang tunanetra. Sistem ini menggunakan titik-titik yang diraba dengan jari untuk membaca dan menulis.

 

Usaha untuk menerjemahkan Al-Quran ke dalam huruf Braille sudah dimulai sejak abad ke-19. Louis Braille, penemu huruf Braille, menerjemahkan beberapa ayat Al-Quran ke dalam Braille pada tahun 1829. Sejak saat itu, banyak negara di dunia yang telah menerjemahkan Al-Quran ke dalam Braille.

 

Ketersediaan Al-Quran Braille tidak hanya tentang memberikan akses kepada individu dengan gangguan penglihatan, tetapi juga tentang menciptakan inklusivitas dalam masyarakat Muslim. Ini memungkinkan setiap anggota masyarakat, tidak peduli kondisi fisiknya, untuk terlibat secara penuh dalam pembelajaran dan praktik keagamaan.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor      : Ajiwan

 

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air