Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Foto Stevi

Perjuangan Almarhum Stevi dalam Merintis Christian Disability Community

Solidernews.com – Stevy David Jonathan adalah seorang difabel fisik. ia berasal dari kota  Surabaya, Jawa Timur. Semasa hidupnya, ia memiliki  kerinduan untuk melayani Tuhan melalui pelayanan bagi teman-teman difabel. Kerinduan itu diwujudkannya dengan merintis sebuah persekutuan disabilitas Kristiani bersama temannya pada tahun 2020.

 

Awal mulanya, persekutuan itu  hanya beranggotakan satu orang saja.

Namun, persekutuan doa itu kini menjadi sebuah organisasi besar yang memiliki banyak anggota dari berbagai kota di Indonesia semenjak Stevi bertemu dengan Dr.Michael Leksodimulyo,MBA,M.Kes, pendiri klinik kesehatan gratis bagi warga miskin di kota Surabaya. Saat itu, Stevi dan teman-teman difabel di persekutuan Kristiani tersebut diundang oleh Dr. Michael dalam acara talk show kesehatan. Dari acara tersebutlah, persekutuan Kristiani itu kemudian dibentuk oleh

Yayasan Pondok Kasih

yang diketuai oleh Hana Amalia Vandayani menjadi sebuah organisasi bernama Christian Disability Community

(CDC) pada 26 Februari 2022.

 

Namun, setelah terbentuknya Christian Disability Community, tepat bulan Agustus 2022, Stevi dipanggil Tuhan karena gangguan pada sistem syarafnya. Kepergiannya meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi teman-temannya yang sangat menyayanginya khususnya Edwin Dikwantoro S.Sos, teman sekaligus volunteernya yang sejak awal menemani Stevi merintis persekutuan sampai menjadi Christian Disability Community.

 

Edwin mengatakan bahwa ketika merintis persekutuan dengan Stevi, Stevi memiliki kepribadian yang sangat setia dan gigih.

“Kesan pertama kali mengadakan ibadah bersama Stevi yang hadir cuma satu orang. Dia  tetap setia, tetap gigih membangun ibadah untuk Tuhan gak peduli berapa yang hadir, rutin, dan gak pernah bolong mengadakan ibadah setiap minggu. Dia sosok yang sangat luar biasa, benar-benar cinta Tuhan Yesus. Itu yang aku salut banget dari dia,” katanya dengan kagum.

 

“Bahkan sebelum ia meninggal, dia bilang sama aku, ““Aku titip CDC ya. Aku titip teman-teman.Rasanya aku gak akan lama jika aku dipanggil Tuhan, aku titip pelayanan buat teman-teman, tolong diterusin,”” ungkap Edwin kepada Solidernews.com.

 

Setelah Stevi meninggal dunia, ibadah Christian Disability Community masih dilanjutkan. Kegiatan ibadah tersebut meliputi puji-pujian, kesaksian, motivasi rohani, firman, dan doa syafaat. Ibadah diadakan secara virtual dan rutin dilaksanakan setiap hari Sabtu dari pukul 18.00-19.00 WIB. Peserta yang hadir adalah teman-teman Stevi dengan berbagai difabel, seperti difabel netra, fisik, mental, dan intelektual. Tidak hanya itu, nondifabel pun juga menghadiri ibadah itu, seperti pembina, volunteer, dan tamu ibadah.

 

 

 

Baru-baru ini Christian Disability merayakan ulang tahun yang kedua. Sebagai bentuk ucapan syukur, mereka menyelenggarakannya dengan seminar motivasi bertema “Berdaya untuk Negeri.”

 

Seminar  motivasi ini dilaksanakan secara virtual melalui platform zoom yang dihadiri oleh teman-teman Stevi dari berbagai provinsi di antaranya Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sebagainya.

 

Acara ini dibuka dengan doa yang dipimpin oleh Eka Christian, S.Pd selaku ketua CDC, dilanjutkan dengan kata sambutan yang disampaikan oleh Ev. Sri Rahayu, pembina CDC, dan dimodetori oleh Ni putu prima terima sanjiwangi, humas CDC.

 

Di acara seminar tersebut, Christian Disability Community mengundang seorang tamu spesial dari Bali sebagai pembicara.

Seseorang yang bekerja sebagai dosen dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi di Universitas Mahasaraswati, Denpasar dan pemerhati tumbuh kembang anak di Trikaya educare, Gianyar, Bali

Ia adalah I Dewa Made Adi Baskara Joni, Ph.D.

 

Beliau berbagi pandangannya tentang difabel yang merupakan suatu kondisi spesial yang tidak dimiliki banyak orang dalam seminar tersebut.

“Saya tidak memandang kondisi disabilitas sebagai perbedaan, tapi saya melihat sebagai kondisi spesial,” ujarnya.

 

Hal itu ditegaskannya untuk melihat difabel sebagai keunikan yang memerlukan pendekatan khusus bukan suatu perbedaan yang membatasi.

 

Pengalaman pribadinya mengenal dan mempekerjakan penyandang difabel telah mengubah pandangannya tentang konsep difabel.

 

Hal itu telah dibuktikannya dengan tindakan merekrut seorang difabel fisik sebagai admin di Trikaya Educare miliknya dengan alasan, tidak ada perbedaan antara difabel dan tingkat pendidikan yang menentukan seseorang bisa bekerja lebih baik.

“Pola pikir saya terbuka mau bagaimanapun kondisinya, saya tidak pernah menjadikan acuan bahwa admin itu harus S1 karena saya tahu hal tersebut tidak menjamin seseorang itu bisa bekerja dengan baik. Hal-hal yang saya pentingkan adalah karakter, kemampuan komunikasi, dan tanggung jawab,. Jadi, kembali saya sampaikan saya tidak membedakan hal itu,” ungkapnya.

Di akhir pidatonya , I Dewa Made Adi Baskara Joni, Ph.D memberikan saran kepada para peserta  Christian Disability Community bahwa sarana untuk mengembangkan diri, yaitu  dengan mengikuti banyak organisasi, sebab dari situ seseorang bisa ditempa dan mendapatkan banyak informasi yang bermanfaat.

 

Itulah kisah inspiratif almarhum Stevi yang diwujudkan dalam suatu kegiatan ibadah. Bagi teman-teman difabel maupun non difabel yang tergerak mengikuti ibadah Christian Disability Community tiap hari Sabtu pukul 18.00 WIB, kamu bisa DM admin dengan mengklik tautan ini.[]

 

Reporter   :  Tri Rizki Wahyu Djari

Editor      : Ajiwan Arief

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air