Views: 44
Solidernews.com- Guru menjadi salah satu profesi yang kini mulai umum digeluti oleh difabel netra. Dengan kemampuan yang berbeda, mereka tetap dapat optimal menjalankan perannya sebagai seorang pengajar dan pendidik di sekolah. Ikatan Guru Tunanetra Indonesia (IGTI) kini menjadi wadah dan ruang bersama bagi guru yang memiliki hambatan penglihatan agar tetap bertugas secara optimal.
IGTI berdiri pada 4 April 2021 dalam sebuah pertemuan virtual yang menyatukan para guru difabel netra dari berbagai daerah. Organisasi ini lahir dari kebutuhan sederhana namun sangat mendasar: menghadirkan ruang profesional bagi guru difabel netra untuk saling belajar, berkembang, dan menyuarakan kebutuhan mereka agar pendidikan Indonesia benar-benar inklusif. Sejak awal, IGTI membawa moto “inklusif, edukatif, progresif,” dengan visi menjadikan pendidikan sebagai ruang yang terbuka bagi setiap orang, tanpa kecuali.
Salah satu figur yang banyak menggerakkan ruang itu adalah Alam Rahmanda, Ketua IGTI. Sehari-hari, ia mengajar Pendidikan Pancasila di SMA Negeri 1 Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, sebuah sekolah negeri yang menjadi tempat pengabdiannya sejak tahun 2010. Alam mengajar 13 rombel (red_rombongan belajar), ia menjalaninya dengan konsistensi yang khas seorang guru yang mencintai pekerjaannya.
Ia adalah seorang guru low vision (red_orang dengan hambatan penglihatan), di ruang kelas ia selalu memilih untuk tampil apa adanya bukan sebagai sosok yang “istimewa” atau “dikecualikan”, melainkan sebagai guru yang menjalankan tugas profesionalnya. Dalam wawancara, Alam berkata dengan tenang, “Seorang guru difabel tidak boleh terlihat lemah di hadapan siswa. Itu bukan soal gengsi, tapi soal bagaimana kita menjaga wibawa dan kepercayaan dalam proses belajar.”
Di kelas, ia menggunakan berbagai metode untuk memastikan pembelajaran tetap hidup seperti membaca bersambung agar setiap siswa benar-benar menyimak; diskusi kelompok untuk mengasah kemampuan berpikir; hingga permainan sederhana untuk membuat suasana kelas terasa menyenangkan. Metode-metode itu ia bangun dari pengalaman panjang dan pemahaman bahwa kelas yang hidup membantu murid memahami materi secara lebih mendalam.
Ada satu bagian menarik dari perjalanannya, ia tetap menulis di papan tulis meskipun tulisan-tulisannya tidak selalu lurus. Ia mengatakan sambil tersenyum, “Tulisan saya mungkin miring-miring, tapi yang penting pesan sampai ke siswa. Saya tidak ingin merasa canggung hanya karena saya low vision.” Prinsip itu menjadi cara Alam mengajarkan kejujuran dan keberanian tampil apa adanya, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada murid-muridnya.
Ketika ia mulai mengajar pada 2010, teknologi pembelajaran belum secanggih sekarang. Ia banyak mengandalkan media seadanya untuk memastikan materi tetap tersampaikan. Kini, perkembangan teknologi membuat ruang inovasi semakin terbuka. Aplikasi pembaca layar, materi digital, hingga perangkat pembelajaran daring membuatnya bisa memperluas metode mengajar. “Teknologi sekarang sangat membantu. Saya jadi bisa lebih banyak berinovasi,” ungkapnya.
Tentu tidak semua berjalan mulus. Ia pernah menghadapi situasi ketika beberapa siswa menertawakan kondisinya. Namun ia menanggapinya dengan kedewasaan, “Itu dinamika saja. Bukan sesuatu yang membuat saya mundur. Siapa pun bisa mengalaminya.” Sikapnya menunjukkan bahwa penghormatan siswa bukan datang dari kondisi fisik guru, tetapi dari kedisiplinan, kompetensi, dan dedikasi yang tampak setiap hari di ruang kelas.
Pengalaman Alam menggambarkan bagaimana guru difabel netra hadir sebagai pendidik yang berkompeten. Pengalaman seperti inilah membuat IGTI tumbuh, mengumpulkan cerita-cerita para guru yang bekerja dengan caranya sendiri, lalu mengubahnya menjadi kekuatan kolektif untuk mendorong sistem pendidikan yang lebih setara.
Perjalanan organisasi ini juga diperkuat oleh sosok seperti Rafik Akbar, guru difabel Netra dari Kota Bogor yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua IGTI. Tahun ini, Rafik mengikuti sebuah ajang PNS Berprestasi tingkat Provinsi Jawa Barat. Kegiatan tersebut dibuka untuk seluruh ASN dari berbagai profesi. Ajang ini memiliki tiga kategori: The Future Leader (red_pemimpin masa depan), Inspiratif, dan Inovatif. Ia mengikuti kategori Inspiratif, kategori yang menilai kontribusi ASN dalam memberi dampak positif di lingkungan kerja.
Proses seleksi ajang ini panjang dan terbuka. Peserta memulai dari tingkat kabupaten/kota di seluruh Jawa Barat. Dari ribuan ASN yang mendaftarkan diri, terkumpul 264 peserta yang lolos ke tahap provinsi. Dari jumlah itu disaring kembali menjadi 100 orang, lalu 30 orang, dan pada tahap final hanya 18 orang tersisa—masing-masing kategori hanya diwakili oleh enam finalis terbaik. Di antara 18 finalis, Rafik menjadi satu-satunya peserta difabel yang mencapai tahap akhir dan menerima pengakuan sebagai salah satu ASN Berprestasi Kategori Inspiratif Provinsi Jawa Barat.
Dalam perjalanannya menuju tahap final, Rafik menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Ia bercerita bahwa 90% proses harus ia jalani seorang diri sebagai difabel netra total. Pada tahap awal, ia diwajibkan mengumpulkan berbagai video testimoni dari wali murid, siswa, dan rekan guru, yang kemudian harus diedit menjadi satu berkas. “Untungnya istri saya bisa membantu mengedit video itu, kalau tidak, mungkin saya tidak lolos tahap awal,” ujarnya.
Tantangan berikutnya muncul ketika ia harus mengunggah seluruh berkas ke website resmi BKD (red_Badan Kepegawaian Daerah) Jawa Barat. Situs tersebut kurang ramah bagi pengguna pembaca layar, sehingga ia tidak bisa menavigasinya secara mandiri. Beruntung, pihak BKPSDM (red_ Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Kabupaten Bogor bersedia membantu proses unggahan hingga tuntas.
Ada pula pengalaman unik pada tahap presentasi dan adu gagasan. Para peserta diwajibkan menyerahkan materi presentasi dalam entuk file Power Point PPT kepada panitia dan tidak diperkenankan menggunakan perangkat pribadi. Namun panitia memberikan sedikit kelonggaran kepada Rafik untuk menggunakan laptopnya sendiri karena ia membutuhkan akses pembaca layar. “Saya bersyukur diberi ruang itu, kalau tidak, saya tidak bisa membaca slide saya sendiri,” kenangnya.
Pada sesi adu gagasan, para peserta dipersilakan mengacungkan tangan secepat mungkin untuk menambah poin. Situasi itu cukup menantang bagi Rafik. Sebagai difabel netra total, ia tidak bisa melihat siapa yang mengangkat tangan atau kapan waktu yang tepat untuk ikut berpendapat. Ditambah lagi, peserta lain diperbolehkan menyampaikan gagasan baru meski presentasi peserta sebelumnya belum selesai. Namun momen-momen itu tidak menggoyahkan semangatnya. “Saya tetap berusaha aktif dengan cara yang saya bisa,” katanya.
Pengalaman Rafik bukan hanya menggambarkan perjuangan personal, tetapi juga menunjukkan bagaimana aksesibilitas dalam sistem seleksi ASN masih perlu diperkuat. Namun dari proses yang panjang itu, ia memperlihatkan bahwa kompetensi dan dedikasi mampu berdiri tegak di tengah tantangan teknis yang belum sepenuhnya inklusif.
Sejak berdiri, IGTI bergerak dengan ritme kolektif yang kuat: pelatihan teknologi pembelajaran, diskusi daring tentang pengalaman mengajar di sekolah umum, hingga keterlibatan dalam forum nasional yang membahas kebijakan terkait pendidikan inklusif. Ruang-ruang ini menjadikan guru difabel bukan sekadar penerima kebijakan, tetapi juga bagian dari pembuat perubahan.
Kehadiran IGTI bersama sosok-sosok seperti Alam Rahmanda dan Rafik Akbar memberi pengingat penting: kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas mewah atau kelengkapan perangkat belajar, tetapi oleh keberanian sistem untuk membuka akses bagi semua pendidik. Ketika guru difabel netra diberi kesempatan yang setara dalam pelatihan, fasilitas, jalur karier, dan ruang untuk berkembang yang diuntungkan bukan hanya para guru, tetapi juga para murid yang tumbuh dalam lingkungan yang memahami keberagaman sebagai bagian wajar kehidupan.
Guru yang bekerja dengan cara berbeda membawa perspektif baru tentang keberanian, ketulusan, dan kerja pendidikan yang tidak selalu tampak di permukaan. Melalui IGTI, para guru difabel netra menunjukkan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar harapan, tetapi proses yang terus berlangsung dari ruang kelas yang kecil hingga kebijakan yang berdampak besar.[]
Reporter : Harisandy
Editor : Ajiwan









