Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Perempuan Difabel Psikososial Berhak Akses Pendidikan Tinggi Inklusif, Begini Upaya yang Bisa Dilakukan

Views: 48

Solidernews.com – Sejauh ini, perempuan difabel psikososial masih menghadapi tantangan pendidikan di perguruan tinggi. Beberapa dari mereka berbagi pengalaman tentang tantangan yang mereka hadapi dalam menempuh pendidikan tinggi. Mereka mengungkapkan sering kali dihadapkan pada hambatan psikologis dan stigma tentang kondisi mereka di kalangan teman-teman sekelas serta dari penyelenggara pendidikan.

Tidak hanya itu, mereka mengatakan bahwa masalah akomodasi dan fasilitas juga menjadi penghalang besar dalam menggapai kesuksesan akademik.

Sejumlah pengalaman dan solusi diungkapkan dalam Peringatan Hari Perempuan Internasional 2025 yang diselenggarakan oleh Australia Awards in Indonesia (AAI) dan Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) dalam talkshow bertema “Menembus Batas Perguruan Tinggi bagi Perempuan Difabel Psikososial” pada Rabu, 19 Maret 2025 pukul 13.00-16.00 WIB melalui platform Zoom.

Acara ini bertujuan untuk menyoroti tantangan yang dihadapi oleh perempuan psikososial dalam menempuh pendidikan tinggi dan untuk membahas solusi dan upaya yang bisa diambil guna menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif.

Emily Whelan, Sekretaris Pertama untuk Beasiswa dan Alumni Kedutaan Besar Australia di Jakarta, menyatakan, “Kami berharap talkshow ini dapat memberikan rekomendasi dan solusi nyata guna mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif dengan berdiskusi, berbagi wawasan, serta mencari solusi terkait tantangan yang dihadapi oleh perempuan difabel psikososial dalam dunia pendidikan tinggi.”

Salwa Paramitha, Advokat Kesehatan Mental, yang berhasil meraih master hukum dari Universitas Gadjah Mada, mengungkapkan, “Tantangan pertama adalah stigma dari teman-teman dan stigma dari beasiswa unggulan yang meragukan kemampuan saya untuk menyelesaikan kuliah. Kedua, saya tidak merasakan akomodasi yang layak selama sidang skripsi karena sebelumnya saya relapse. Hal ini terjadi ketika saya masih S-1, tetapi setelah Universitas Gadjah Mada membentuk unit layanan difabel, saya merasakan ada perubahan yang lebih inklusif ketika saya melanjutkan S-2.”

Simak juga ..  Peduli Difabel Psikososial, Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) Jakarta Beri Pelatihan Mindful Living bagi Difabel Psikososial

Hal serupa juga dirasakan oleh Levriana Yustriani, Konsultan Riset di Kresna Strategic yang berhasil meraih master komunikasi media global dari University of Melbourne.

“Jika terlalu mendeklarasikan bahwa kami difabel psikososial akan dianggap ceret, bahkan jika tegar akan dianggap membosankan. Itulah yang membuat saya tidak berani mengungkapkan bahwa saya difabel psikososial selama kuliah semester satu, tetapi di akhir semester, saya harus berani mengungkapkan bahwa saya difabel psikososial karena saat itu saya sedang relapse. Beruntung saya mendapatkan dukungan dari student advisor.”
Lihat pengertian relapse

Atiqoh, Sahabat Perhimpunan Jiwa Sehat yang sedang menempuh master human resources management di University of Sussex, mengatakan, “Saya kesulitan memanajemen waktu selama mengerjakan tugas-tugas yang tidak sesuai ekspektasi, tetapi saya bisa mengejar keterlambatan itu karena selalu berkonsultasi dengan student advisor.”

Menurut Yeni Rosa Damayanti, Ketua Perhimpunan Jiwa Sehat Indonesia, tantangan yang dihadapi oleh perempuan difabel psikososial tersebut karena kurangnya dukungan dari perguruan tinggi, baik itu dalam bentuk akomodasi yang memadai atau pengertian terhadap kebutuhan mereka.

“Perempuan difabel psikososial bisa menyelesaikan pendidikan apabila mereka mendapatkan dukungan dari keluarga dan penyelenggara pendidikan. Terus terang, dukungan bagi perempuan psikososial yang kuliah di perguruan tinggi masih sangat kurang. Angka drop-out difabel psikososial di perguruan tinggi sangat tinggi karena tidak adanya dukungan untuk menyelesaikannya. Banyak difabel psikososial tidak bisa menyelesaikannya karena tidak mendapatkan jangka waktu yang dibutuhkan karena relapse. Tanpa dukungan dan pengertian dari perguruan tinggi, maka keberhasilan menyelesaikan kuliah itu tidak tercapai. Harapan saya, kita bisa mengurangi angka drop-out difabel psikososial yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan mendorong mereka yang tidak berani kuliah untuk melanjutkan pendidikannya,” jelasnya.

Simak juga ..  Luka pada Difabel Mental Penyintas Bunuh Diri Akankah Ditanggung Pemerintah?

 

Solusi dalam Menghadapi Tantangan di Perguruan Tinggi
Selain membagikan tantangan selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, teman-teman juga membagikan solusi untuk menghadapi tantangan tersebut seperti yang dilakukan mereka sebelumnya setelah melewati tantangan tersebut.

Atiqoh menyarankan, “Perempuan difabel psikososial harus sering berkonsultasi dengan student advisor sehingga dapat mengambil exceptional circumstances untuk menyelesaikan tugas-tugas yang tertinggal.”

Selain itu, ia menyarankan kepada penyelenggara pendidikan untuk tidak mempersulit hal-hal yang bersifat administratif kepada difabel psikososial.

Salwa Paramitha menyarankan bahwa dosen dan staf perlu diberikan pelatihan dan perpanjangan waktu.

Levriana Yustriani menyarankan untuk berani meminta bantuan sebelum relapse dan berani berjuang sendiri meskipun belum ada kebijakan inklusi.

 

Upaya dalam Mewujudkan Pendidikan Inklusif
Beberapa universitas di Indonesia sudah mulai menerapkan kebijakan inklusif, seperti yang dilakukan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Gadjah Mada.
Kedua institusi ini menyediakan fasilitas yang ramah difabel seperti ruang konseling, lift difabel, toilet difabel, serta pelatihan bagi dosen dalam memberi materi kepada mahasiswa difabel. Selain itu, mereka juga memberikan pendampingan dan bimbingan khusus untuk mahasiswa difabel agar mereka dapat menyelesaikan pendidikan mereka dengan baik.

Dr. Siti Napsiyah, Perwakilan Center for Student with Special Needs di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyatakan, “Kami sudah menyediakan ruang konseling, lift difabel dengan fitur suara, ramp, guiding block, toilet difabel, pelatihan dasar bagi dosen dalam memberi pelajaran bagi mahasiswa difabel, pendampingan dan bimbingan bagi difabel, serta klinik untuk bimbingan penyuluhan agama Islam.”

Dr. Wuri Handayani, Ketua Unit Layanan Disabilitas, Universitas Gadjah Mada, menjelaskan, “Kami menyediakan ruang diskusi, ruang tenang, toilet difabel dengan tombol darurat, serta fasilitas yang dibutuhkan lainnya di dalam unit layanan difabel.”
Pemberi beasiswa seperti LPDP dan Australia Awards juga mulai menunjukkan komitmen mereka dalam mendukung mahasiswa difabel psikososial.

Simak juga ..  Raih Beasiswa Australia dan Jadi Agen Perubahan: Begini Tips Jitu Lolos AAS 2025 Dari Alumni Difabel

Mereka memberikan bantuan berupa dana pendidikan dan pendampingan, serta pelatihan bahasa Inggris bagi mahasiswa difabel yang membutuhkan.
Program-program ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa perempuan difabel psikososial memiliki kesempatan yang sama dalam menempuh pendidikan tinggi.

Hentri Wibowo, Kepala Subdivisi Pengembangan Beasiswa LPDP, mengatakan, “Kami memberikan dana pendidikan dan dana pendukung bagi difabel yang membutuhkan pendamping, pelatihan bahasa Inggris, serta cuti jika diperlukan.”

Diwya Anindyacitta, Manajer Inklusi dan Aksesibilitas Australia Awards in Indonesia, menambahkan, “Pertama, kami memiliki prinsip inklusi dan memberikan bantuan konseling serta perpanjangan waktu dalam mengerjakan tugas. Kedua, kami memberikan fasilitas dan layanan yang dibutuhkan difabel selama menempuh pendidikan. Ketiga, tahun ini kami menyediakan formulir aplikasi dan wawancara dalam bahasa Indonesia bagi yang bahasa Inggrisnya rendah. Keempat, kami menyelenggarakan pelatihan dan workshop untuk melatih difabel.”

Kolaborasi antara Australia Awards in Indonesia, Perhimpunan Jiwa Sehat, dan institusi pendidikan bertujuan menciptakan sistem pendidikan inklusif yang mendukung keberagaman.
Namun, perubahan signifikan hanya akan tercapai dengan dukungan semua pihak—pemerintah, universitas, dan masyarakat.
Karena itu, penting bagi kita untuk bersama-sama menyediakan fasilitas, dukungan, dan pengakuan yang layak bagi perempuan dengan disabilitas psikososial.

Dengan membuka akses pendidikan yang lebih inklusif, kita memberi kesempatan bagi mereka untuk mencapai potensi penuh dan berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.[]

 

Reporter: Tri Rizki

Editor      : Ajiwan

 

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content