Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Penerimaan Diri sebagai Orang Tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus

Solidernews.com – Memiliki anak dengan kebutuhan khusus merupakan sebuah anugerah yang dititipkan kepada orang tua. Namun memiliki anak kebutuhan khsusus merupakan sebuah tantangan yang harus dilalui bagi orang tua. Tidak jarang orang tua yang memiliki anak kebutuhan khusus tidak menerima bahwa ia memiliki anak kebutuhan khusus. Dengan memiliki anak dengan kebutuhan khusus berarti memiliki perlakuan yang lebih daripada anak yang tidak memiliki kebutuhan khusus,

 

Tidak semua orang tua menerima jika anak mereka dilahirkan sebagai difabel. Banyak dari orang tua yang menyalahkan keadaan mengapa ini terjadi kepada mereka. Ada beberapa anak yang dilahirkan dengan kebutuhan khusus baik secara fisik maupun psikis. Anak kebutuhan khusus (special needs children) yaitu anak yang memiliki hambatan fisik, mental, intelektual, sosial dan emosional.

 

Self Acceptance  atau penerimaan diri sebagai orang tua dengan anak kebutuhan khsusus penting untuk dilakukan. Self Acceptance merupakan kesediaan untuk menerima kondisi dalam dirinya atau orang lain mencakup keadaan fisik, psikologis, sosial dan pencapaian diri, baik kelebihan maupun kekurangan yang dimiliki.

 

Untuk melakukan penerimaan diri bagi orang tua dengan anak kebutuhan khusus. Terdapat tahapan yang dilalui seperti :

  1. Tahap penolakan (denial), orang tua dengan anak kebutuhan khusus biasanya akan mengalami fase penolakan ketika memiliki anak kebutuhan khusus. tahapan ini dimulai dari rasa tidak percaya akan apa yang terjadi pada anak. Orang tua akan merasa bingung dan malu terhadap kondisi anak. Tekanan sosial menjadi hal yang paling sulit dilalui orang tua ketika memiliki anak kebutuhan khusus.
  2. Tahapan kemarahan (angry), setelah menhalami tahap penolakan. Orang tua dengan anak kebutuhan khusus akan mengalami fase kemarahan dengan marah terhadap keadaan. Kemarahan ini bisa cenderung dilampiaskan ke diri sendiri, pasangan bahkan pada sang anak sendiri. Bentuk kemarahan lain yaitu menolak mengasuh anak kebutuhan khusus tersebut.
  3. Tahap tawar-menawar (Bargaining), tahapan ini adalah fase dimana orang tua akan mencoba menawar kondisi yang terjadi pada anak. Hal ini dapat dilakukan dengan berupaya untuk bersyukur atas segala yang dikaruniakan oleh Tuhan dan menghibur diri atas titipan yang telah diberikan.
  4. Tahap depresi (Depression), tahapan ini merupakan fase dimana orang tua akan merasa putus atas, tertekan dan kehilangan harapan. Orang tua dengan anak kebutuhan khusus cenderung akan menarik diri sementara dari lingkungan. Sampai ia berada di fase penerimaan.
  5. Tahap penerimaan (Acceptance), tahapan ini merupakan tahapan penerimaan kondisi anak kebutuhan khusus. setelah mengalami beberapa tahap sebelum tahap ini orang tua akan merasakan berbagai gejolak tentang kondisi anak. Pada tahap ini, orang tua menerima sepenuh hati bahwa mereka memiliki anak kebutuhan khusus.

 

Penerimaan orang tua dengan anak kebutuhan khusus ditandai oleh kasih sayang pada anak. Meskipun membutuhkan waktu yang lama, dengan kasih sayang sebagai orang tua.  Lambat laun akan menerima segala kondisi yang terjadi pada anak. Memiliki anak kebutuah khusus merupakan suatu hal yang tidak mudah, namun kenyataan ini merupakan hal yang tidak bisa ditolak. Orang tua memiliki peran untuk membesarkan dan membersamai tumbuh kembang dengan optimal.

 

Aspek penerimaan diri sebagai orang tua dengan anak kebutuhan khusus seperti perasaan sederajat yaitu mampu menerima kekurangan dan kelebihan anak, percaya akan kemampuan anak serta bertanggungjawab untuk membersamai anak hingga dewasa. Penerimaan diri ini yang akan membantu orang tua untuk lebih menerima kehadiran anak kebutuhan khusus dengan besar hati.

 

Bagi orang tua yang belum menerima kondisi anak, baiknya orang tua mengubah pandangan negatif terhadap anak kebutuhan khusus bahwa anak kebutuhan khusus tidak bisa melakukan apapun. Orang tua perlu menggali lebih banyak pemahaman tentang anak kebutuhan khusus dengan cara mencari informasi tentang anak kebutuhan khusus melalui salah satunya sharing grup di social media.

 

Dengan diberikannya anak yang merupakan titipan, orang tua diharapkan untuk memberikan perhatian dan kasih sayang untuk anak serta dukungan kepada anak. Serta lebih bersabar dalam menghadapi perilaku anak sehingga akan berdampak positif terhadap perkembangan anak.

 

Tidak hanya kepada orang tua, keluarga juga berperan penting untuk memberi dukungan terhadap orang tua dengan anak kebutuhan khusus. Bagi pihak keluarga diharapkan dapat lebih memberikan dukungan dan perhatian terhadap orang tua dengan anak kebutuhan khusus sehingga dapat memberikan pengasuhan yang baik pada anak.[]

 

Penulis    : Emsa

Editor     : Ajiwan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air