Views: 51
Selidernews.com – Program Sekolah Rakyat (SR) adalah inisiatif pemerintah untuk menyediakan Pendidikan berkualitas, serba gratis, dan berasrama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yakni dari kategori desil 1 dan desil 2 menurut Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional / DTSEN. Sekolah Rakyat yang Provinsi Yogyakarta sementara akan ditempatkan di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Yogyakarta. Komisi Nasional Disabilitas KND hadir ke BBPPKS Yogyakarta pada Rabu, 18 Juni 2025 guna lakukan koordinasi dan memantau langsung persiapan Sekolah Rakyat.
Dihadiri oleh Komisioner Fatimah Asri Mutmainah dan Komisioner Rachmita Maun Harahap, forum ini dimulai dengan pengenalan singkat mengenai tugas dan fungsi KND yakni melakukan pemantauan, evaluasi, dan advokasi pelaksanaan penghormatan, pelindungan dan pemenuhan hak difabel yang dielaborasikan dengan program strategis nasional. “Diharapkan pertemuan ini dapat kami peroleh gambaran yang komprehensif mengenai tantangan yang ada serta adanya asesmen modalitas dalam memastikan isu disabilitas sudah diakomodir program nasional”, terang Fatimah.
Rachmita Maun Harahap menambahkan bahwa tenaga pengajar di Sekolah Rakyat harus memahami persepektif disabilitas, misalnya harus belajar bagaimana interaksi dengan difabel dan memahami Bahasa isyarat dasar. “Ada penyandang disabilitas yang merasa bahwa Sekolah Rakyat ini bukan untuk penyandang disabilitas karena masih menggunakan istilah miskin. Padahal keluarga disabilitas juga banyak yang kurang mampu dan berhak mengikuti Sekolah Rakyat”, jelas Rachmita menggunakan Bahasa isyarat.
Kondisi persiapan Sekolah Rakyat di BBPPKS Yogyakarta saat ini sudah memiliki 16 orang yang berperan sebagai pemberi layanan program Sekolah Rakyat. Rifatul Khoiriyah salah satu tim Sekolah Rakyat dari BBPPKS Yogyakarta menyampaikan bahwa BBPPKS memiliki inovasi dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan upaya peningkatan kapasitas SDM terkait perspektif HAM disabilitas dan sensitivitas disabilitas yaitu sarana pendukung aksesibilitas berupa ramp. Inovasi yang diimplementasikan dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan/peningkatan kapasitas SDM terkait perspektif HAM disabilitas dan sensitivitas disabilitas berasal dari ide pimpinan.
“Jumlah siswa program Sekolah Rakyat sebanyak 1 orang difabel fisik ringan dan 74 orang non difabel. Namun kami sudah siap fasilitas yang ramah disabilitas seperti area parkir khusus disabilitas, bidang miring, mess, area makan, toilet, guiding block, dan lain lain”, pungkas Rifatul.
Nana Nawangsari selaku orang tua yang memiliki anak Tuli dan tinggal di Yogyakarta, kepada Solider menyampaikan bahwa dirinya belum banyak mengetahui informasi mengenai program Sekolah Rakyat. “Saya hanya pernah dengar mengenai Sekolah Rakyat karena muncul di sosial media saja, tapi tidak tahu detail informasinya. Saya yakin Sekolah Rakyat dari tujuannya bagus, selama dikelola dengan baik dan tepat sasaran. Tantangannya adalah kesiapan fasiitas pendukung baik SDMnya maupun bahan ajar. Anak-anak Tuli cenderung berjuang sendiri di sekolah, contohnya anak akan semangat ke sekolah kalau punya teman akrab, teman yang bisa berkomunikasi dengan baik”, cerita Nana kepada Solider melalui pesan Whatsapp.
Baginya, kendala utama Tuli terjun di masyarakat adalah komunikasi. Saat mereka tidak paham pelajaran, mereka hanya diam karena saat bertanya kepada guru, namun mereka takut guru atau teman tidak memahami yang mereka sampaikan dan teman yang ditanya juga belum tentu berkenan. Harapan besar dari orang tua yang memiliki anak Tuli, Sekolah Rakyat harus benar-benar inklusif bukan hanya sekedar jargon. Selain bahan ajar yang disesuaikan kemampuan anak, kesiapan dan pemahaman guru juga harus diperhatikan agar guru dapat menjembatani pergaulan anak-anak apalagi sekolah asrama harus punya kontrol yang ketat jangan sampai ada perundungan. Perundungan fisik mungkin bisa terlihat bekas lukanya tapi perundungan verbal sangat membekas. Konseling berkala untuk semua anak diperlukan agar sekolah dapat mengantisipasi sejak dini jika ada kesulitan anak-anak dalam memahami pelajaran atau bergaul.[]
Reporter: Ramadhany Rahmi
Editor : Ajiwan




