Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Pendidikan Tinggi; Antara Impian dan Kenyataan Biaya yang Mahal

Solidernews.com – Ayu Meilinda, mahasiswi difabel netra semester enam  di salah satu Universitas Negeri ternama di Indonesia, merasakan getirnya fenomena Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan uang gedung yang semakin mahal. Cita-citanya untuk menggapai pendidikan tinggi terasa sangat terhambat oleh biaya yang tidak sebanding dengan kemampuan finansial keluarganya.

 

“Biaya UKT saya tergolong tinggi untuk kondisi keluarga saya yang penghasilannya tidak menentu, mencapai Rp 4,5  juta per semester. Belum lagi uang gedung awal yang harus dibayar saat pertama kali masuk, sebesar Rp 35 juta. Jumlah ini sangat memberatkan orang tua saya,” ungkap Ayu Meilinda mahasiswi difabel asal Bali ini.

 

Ayu Meilinda, yang memiliki hambatan penglihatan sejak usia 11 tahun karena gloukoma, bercerita bahwa orang tuanya kini hanya bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Biaya hidup sehari-hari saja sudah pas-pasan, apalagi untuk menanggung biaya kuliahnya yang tinggi.

 

Fenomena UKT dan uang gedung mahal ini bukan hanya dirasakan oleh Ayu, tetapi juga oleh banyak mahasiswa lain di Indonesia. Sistem UKT yang seharusnya membantu meringankan biaya pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, pada kenyataannya tidak selalu berjalan efektif.

 

Besaran UKT yang berfariasi di setiap universitas dan jurusan, terkadang tidak sebanding dengan kualitas pendidikan dan fasilitas yang ditawarkan. Hal ini membuat banyak mahasiswa, terutama dari kalangan kurang mampu, kesulitan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

 

“Sebagai seorang mahasiswi difabel saya sebenarnya merasa bersyukur ketika ada afirmasi bidikmisi khusus disabilitas yang sedikit meringankan beban kuliah saya. Namun beasiswa yang saya dapatkan tersebut belum mampu mengatasi uang gedung yang harus saya cicil karena saya juga perlu mencukupi kebutuhan sehari-hari dari mulai kos dan makan mengingat saya berkuliah jauh dari orangtua.”tutur Ayu kembali.

 

Ayu Melinda berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap permasalahan ini. Ia menginginkan adanya sistem pendidikan yang lebih adil dan merata, sehingga semua orang, regardless of their background, memiliki kesempatan yang sama untuk menggapai pendidikan tinggi.

 

“Saya sebenarnya mempunyai cita-cita setelah lulus ingin melanjutkan studi di jenjang S2, tetapi melihat tingginya biaya kuliah saat ini membuat saya merasa sedikit pesimis apakah cita-cita saya dapat terwujud ataukah sekedar angan saja,” jelas Ayu.

 

Kisah Ayu Melinda hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak mahasiswa yang terhambat aksesnya terhadap pendidikan tinggi karena biaya yang mahal. Sudah saatnya pemerintah dan pihak terkait tidak memandang lagi bahwa pendidikan di bangku kuliah sebagai barang tersier tetapi justru perlu mengambil langkah nyata untuk mewujudkan pendidikan yang inklusif dan terjangkau bagi semua.

 

Solusi yang Diharapkan:

  • Evaluasi ulang sistem UKT dan uang gedung untuk memastikan keadilan dan kesesuaian dengan kemampuan finansial masyarakat.
  • Peningkatan alokasi anggaran pendidikan untuk mendukung program beasiswa dan bantuan keuangan bagi mahasiswa kurang mampu.
  • Penguatan program afirmatif bagi mahasiswa dari kelompok marginal, termasuk difabel, agar mereka mendapatkan akses pendidikan yang lebih mudah dan berkualitas.

 

Dengan upaya bersama dari berbagai pihak, diharapkan pendidikan tinggi di Indonesia dapat menjadi lebih inklusif dan terjangkau, sehingga semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih cerah.[]

 

 

Penulis : Harisandy

Editor     : Ajiwan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air