Views: 11
Solidernews.com – Jalanan adalah tempat yang rawan. Segala bentuk kriminalitas mulai dari penipuan, pencurian, pelecehan sampai dengan kekerasan bisa saja terjadi. Khususnya di kota Makassar, tindak perang panah khas yang disebut busur sampai dengan penjambretan terus meningkat dari tahun ke tahun. Mirisnya, dampak dari ketidak mampuan pemerintah memberi kapasitas yang memadai dan lapangan kerja yang inklusif bagi difabel, sejak tahun 2024 jumlah difabel netra yang memilih untuk beralih profesi menjadi pemusik jalanan terus meningkat. Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Tunanetra Indonesia (DPD Pertuni) Sulawesi Selatan sebagai organisasi masyarakat sipil yang secara khusus memperjuangkan hak difabel netra pun ikut merasa khawatir. Terlebih setelah mendengar sejumlah kekerasan yang menimpa rekan difabel netra yang turun ke jalan, menjalani aktivitas sebagai pemusik jalanan.
Pada 15 Februari 2025, DPD Pertuni Sulawesi Selatan berdiskusi dengan para pemusik jalanan difabel netra di kota Makassar. Yoga Indar Dewa selaku ketua DPD Pertuni Sulawesi Selatan dan segenap pengurus berharap dapat melahirkan inovasi bersama untuk meningkatkan keamanan bagi para pemusik jalanan, setelah sebelumnya sempat memperjuangkan isu ini di Dinas Sosial kota Makassar dan tidak diberi solusi sama sekali. Jika pun misalnya pemerintah daerah seolah tutup mata dengan kerentanan yang saat ini disandang oleh masyarakat difabel netra, Pertuni tetap merasa bertanggungjawab untuk ikut mengawal permasalahan yang banyak terjadi.
Difabel netra yang beraktivitas sebagai pemusik jalanan di Makassar terbagi menjadi dua yaitu peserta AMJ.Net (Asosiasi Pemusik Jalanan Netra) dan difabel netra pemusik jalanan nonkomunitas. Seperti tujuan komunitas dan perkumpulan pada umumnya, AMJ.NET sendiri hadir untuk mengorganisir aktivitas musik jalanan setiap peserta dan berasosiasi, untuk memperjuangkan tujuan bersama.
Adanya undangan yang dikirimkan oleh pengurus DPD Pertuni Sulawesi Selatan, adalah wujud dari kepedulian dan solidaritas pada seluruh difabel netra tanpa terkecuali. Begitupun sebaliknya. Hadirnya banyak pemusik jalanan di kantor DPD Pertuni Sulawesi Selatan pada siang sampai dengan sore hari, 15 Februari 2025 tersebut, menunjukkan sambutan yang juga sama.
“Sebenarnya kita belum tahu apa yang bisa kita lakukan, untuk setidaknya membantu teman-teman biar bisa mendapat pekerjaan yang lebih aman atau bisa nyaman saat turun ke jalan. Makanya kita bikin forum ini. Siapa tahu dari kita berdiskusi, kita bisa dapat gambaran utuhnya. Sampai sekarang kan memang Pertuni belum tahu secara jelas teman-teman ini bergeraknya ke mana, maunya apa, kendalanya apa. Dan kira-kira kita bisa memperjuangkan apa bersama-sama?” Ungkap Yoga Indar Dewa dalam acara tersebut.
Diskusi itu berjalan panjang, bernas dan lancar. Pertukaran informasi, gagasan dan juga sesekali kritik meramaikan forum. Sejumlah kendala disampaikan oleh para pemusik jalanan. Satu yang paling meresahkan menurut para pemusik jalanan difabel netra adalah banyaknya difabel dari luar kota, dan bahkan luar pulau, yang datang ke Sulawesi Selatan untuk mengamen dan mengemis.
Rais (sekertaris AMJ.Net) juga menjelaskan beberapa prinsip dasar yang dipanuti di dalam komunitas mereka. Yang pertama, AMJ.Net berusaha untuk menciptakan pemusik jalanan profesional. Menurut Rais, ada dua macam pengamen yang beredar di Makassar saat ini. Yang pertama yaitu pengamen profesional, yang berkeliling memang untuk menjual suara dan kemampuan menyanyi atau memainkan alat musik. Dan yang kedua, pengamen gimik. Mereka menjadikan aktivitas musik hanya sebagai kedok, untuk mendapatkan keuntungan materil. Menurutnya, AMJ.Net saat ini menghimpun para difabel netra yang ingin menjadi pengamen profesional, bukannya pengamen gimik.
“Aturannya itu kita tidak bisa menyodorkan tempat uang kita ke orang. Jadi orang yang suka dengan suara kita, dipersilahkan untuk mengapresiasi dengan rupiah yang jumlahnya terserah dari mereka. Yang tidak merasa terhibur dan tidak mau kasih uang, kita ndak bisa paksa,” ujarnya.
Sejumlah penawaran pun diberikan Pertuni. Beberapa di antaranya seperti menghadirkan band difabel netra yang berasal dari pengamen profesional dalam acara-acara besar, misal seperti Prolog. Sampai dengan memberi pelatihan vokal kepada para pemusik jalanan. Sayangnya, lagi-lagi karena keterbatasan ruang untuk meningkatkan potensi dan juga rendahnya aksesibilitas transportasi pablik. Nyaris kesemua saran itu tak dapat direalisasikan.
Erlangga, seorang peserta pertemuan pada saat itu mengusulkan agar Pertuni dan pemusik jalanan difaberl netra bersama-sama mengupayakan adanya peningkatan kapasitas. Khususnya kapasitas bernyanyi. Menurut Erlangga bagi pemusik jalanan, alat musik tidaklah begitu penting. Selain karena canggihnya teknologi saat ini yang memudahkan mereka untuk mencari musik karaoke di handphone, pengamen juga akan kesulitan jika harus membawa alat musik yang besar dan berat ke jalanan.
“Kita bisa usahakan untuk mengajukan ke perusahaan-perusahaan peralatan musik, barangkali ada yang mau bekerjasama untuk mengadakan pelatihan vokal. Tapi misal nanti trainer-nya sudah ada, apakah teman-teman mau ikut? Meski misal tidak ada pengganti transport,” sambut Yoga.
Sayangnya, usulan itu lagi-lagi tidak mendapat titik terang. Pasalnya, Erlangga sebagai pemberi saran tersebut merasa masih banyak orang, yang kemungkinan akan keberatan untuk mengikuti pelatihan tersebut jika tidak ada pengganti transport yang diberikan. Sebenarnya, ia kemudian melanjutkan dengan saran berikutnya. Yaitu pelatihannya bisa diadakan dalam jangka waktu yang disanggupi oleh para peserta saja, misal satu kali dalam dua minggu atau satu kali dalam satu bulan. Atau jika masih juga tidak disanggupi, kelas vokalnya dapat diadakan dalam jaringan (daring). Tetapi DPD Pertuni Sulawesi Selatan merasa latihan vokal yang diadakan tidak intensif dan apalagi hanya melalui aplikasi, tak akan berjalan efektif.
Masalah berikutnya yang menjadi PR adalah kesediaan para pemusik jalanan untuk menggeluti profesi lain. Awalnya, DPD Pertuni Sulawesi Selatan berpikir bersama-sama, Pertuni Dapat mengusahakan para difabel netra yang menjadi pemusik jalanan dan memiliki kompetensi di bidang lain, untuk mendapat pekerjaan di tempat lain. Misalnya saja seperti 9 orang non ASN yang pada tahun 2023 lalu, berhasil diusulkan oleh DPD Pertuni Sulawesi Selatan ke Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan kemudian mendapat gaji sesuai, bahkan lebih dari UMR kota Makassar. Atau misalnya, Pertuni bisa membantu untuk audiensi ke pihak-pihak terkait, agar teman-teman pemusik jalanan bisa diberi ruang untuk mendapat panggung di tempat pablik seperti Mall dan Stasiun kereta.
Namun dalam diskusi itu, sebagian dari peserta yang hadir masih merasa berat untuk melepas aktivitas musik di jalan. Menurut mereka, penghasilan yang didapatkan saat mengamen profesional di pinggir-pinggiran jalan kemungkinan akan lebih banyak. Dan jika begitu, para difabel netra yang misalnya nanti berhasil mendapat pekerjaan di kantor-kantor ataupun panggung di lokasi yang ramai, juga tetap akan turun ke jalan untuk mencari penghasilan tambahan.
“Kegiatan hari ini kita setidaknya sudah dapat gambaran. Teman-teman pemusik jalanan ini maunya seperti apa, prinsipnya bagaimana. Tugas Pertuni kemudian adalah memikirkan nih. Apa yang sekiranya bisa kita lakukan,” ujar salah satu pengurus DPD Pertuni Sulsel dalam wawancara yang dilakukan oleh solidernews (16/02/2025).
Dari proses berjalannya diskusi, setiap saran yang diutarakan dan sampai dengan harapan DPD Pertuni Sulsel. Kesemuanya mencerminkan keinginan untuk terus berkembang. Sayangnya, belum ada campur tangan yang tepat sasaran dari pemerintah setempat dan kurangnya lapangan pekerjaan yang inklusif, sangat mempengaruhi pola pikir setiap warga. Kedepannya, Pertuni bukan hanya memiliki PR untuk memperjuangkan hak difabel netra di Sulawesi Selatan. Tetapi juga bertugas untuk mengurangi stigma negatif di masyarakat, dan membangun kepercayaan diri pada difabel netra. Harapannya, mereka bisa berdaya dengan aman tanpa ada seriko yang besar.[]
Reporter: Nabila
Editor : Ajiwan








