en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Pekerjaan ini Cocok untuk Individu Autistik

Solidernews.com – Autisme merupakan difabel mental jenis perkembangan (Undang Undang 8, 2016) yang ditandai dengan kesulitan berkomunikasi sosial dan interaksi sosial serta adanya kecederungan suka mengulang ulang sesuatu baik itu dalam bentuk perilaku, minat atau aktifitas (DSM 5 TR, 2023). Kondisi yang dimiliki individu dengan autisme terkadang menghambat beberapa aspek kehidupan individu tersebut termasuk dalam hal ini tantangan kerja dan mencari pekerjaan yang cocok. Berikut merupakan beberapa  pekerjaan yang cenderung lebih cocok untuk individu dengan autisme.

 

Berdasarkan sebuah jurnal yang melibatkan 8 negara yang berbeda yang meneliti soal tantangan kerja dan lapangan pekerjaan yang diincar oleh banyak individu autistic. Pada jurnal tersebut menyebutkan bahwa banyak individu autistic yang mengincar karir untuk menjadi akademisi (Cheriyan dkk, 2021). Namun tentu saja ini bukan satu satunya pekerjaan yang cocok untuk individu autistic. Pada tulisan berikutnya, penulis akan menuliskan pekerjaan yang menurut opini penulis cocok dengan individu autistic. Bukan berarti selain pekerjaan ini maka pekerjaan tersebut tidak bisa dilakukan individu autistic, hanya saja pekerjaan pekerjaan yang penulis sebutkan adalah pekerjaan yang meminimalisir sosialisasi dengan jumlah orang yang langsung banyak. Hal tersebut biasanya seringkali menyulitkan individu autistic dan mendekatkan individu tersebut pada hal  yang membuatnya dapat memaksimalkan gejala individu autistic yaitu adanya minat, aktifitas, perilaku atau rutinitas yang cenderung berulang atau repetitive khususnya terhadap hal yang ia minati yang hal tersebut cenderung membuat individu autistic tersebut lebih nyaman. Selain list pekerjaan ini terhitung nyaman untuk individu autistic, list pekerjaan ini juga sudah ditekuni oleh sejumlah autistik. Berikut adalah list pekerjaannya.

 

Pekerjaan pertama yang cocok bagi individu autistic adalah menjadi pekerjaan yang melibatkan keterampilan menulis. Pekerjaan ini akan sangat cocok pada individu autistic yang memiliki kemampuan bahasa yang baik. Pada jurnal cheriyan dkk pada tahun 2021 juga menyebutkan bahwa individu autistic sangat percaya diri dengan kemampuan menulisnya. Pekerjaan yang melibatkan keterampilan menulis sendiri dapat memanfaatkan kecenderungan individu autistic yaitu perilaku yang berulang ulang. Pekerjaan menulis sendiri merupakan pekerjaan yang memiliki tahap tahapan yang jelas yang diulang ulang dan tertebak polanya. Biasanya penulis setelah menulis akan melakukan meninjau ulang tulisannya, setelah meninjau tulisannya ia akan mengeditnya, setelah diedit maka pola tersebut akan kembali ke tahap 1, dilanjutkan ke tahap 2, dilanjutkan tahap 3 dan hal tersebut berulang lagi dan lagi. Untuk jumlah teman penulis yang sudah penulis kenal sebagai individu autistik yang sudah menekuni bidang ini berjumlah 6 orang dan mereka bekerja di berbagai tempat yang berbeda. Ada yang di Singapura, ada yang di Indonesia, ada juga yang saat ini berada di Australia. Untuk contoh contoh pekerjaan yang melibatkan keterampilan menulis yaitu akademisi, penulis buku, content writer, technical writer, penulis lepas, copywriter, journalist, ghost writer, notulis dan masih banyak lagi.

 

Pekerjaan kedua yang cocok bagi individu autistic adalah pekerjaan yang melibatkan keterampilan mengelola suara. Pekerjaan ini cocok terutama pada individu autistic yang memiliki kecenderungan untuk bisa mendengarkan suara di sekitarnya kemudian menirukannya dengan baik. Pekerjaan ini juga dapat memanfaatkan kecenderungan autistic yaitu perilaku yang berulang-ulang. Sama layaknya menulis, pekerjaan yang melibatkan keterampilan mengelola suara juga memiliki tahap yang jelas dan melibatkan unsur repetisi. Biasanya pekerjaan ini akan dimulai dari individu autistic mendengarkan suara yang ada di sekitarnya. Setelah itu ia akan menirukan atau memodifikasi suara tersebut agar sesuai dengan keinginannya. Tahap selanjutnya ia akan meninjau kembali apakah suara yang ditiru atau dimodifikasi olehnya sudah sesuai dengan keinginannya atau belum. Jika sudah maka ia akan melanjutkan ke tahap selanjutnya, apabila belum ia akan mengulang proses itu kembali. Jumlah kenalan penulis yang sudah menekuni profesi ini yang juga merupakan individu autistic ada 6 orang juga. Cakupan wilayah mereka menjalin kerjasama untuk pekerjaan yang melibatkan keterampilan ini juga berbeda beda. Ada yang cakupan kerjanya di Indonesia, ada juga yang cakupan kerjanya bekerjasama dengan pihak luar negeri. Bahkan, ada juga individu autistic diantara orang orang ini yang sudah berhasil membelikan rumah orangtuanya karena profesinya tersebut.

 

Pekerjaan yang melibatkan keterampilan ini adalah pemain instrument, musisi, voice over (bisa untuk kartun, anime atau suara efek untuk film-film) dan lain sebagainya.

 

Ketiga yaitu pekerjaan yang melibatkan keterampilan dalam bidang seni dalam bentuk visual. Kecenderungan individu autistic yaitu perilaku yang berulang-ulang menjadi hal yang baik pada individu autistic yang memiliki bakat dibidang seni visual. Bidang ini melibatkan keterampilan yang memerlukan banyak Latihan dengan melakukan banyak repetisi agar hasilnya menjadi lebih baik. Jumlah kenalan penulis yang menekuni pekerjaan ini berjumlah 5 orang. Contoh  pekerjaan yang melibatkan keterampilan ini yaitu desain grafis, pelukis, desain interior, desain komunikasi visual, arsitek, dan masih banyak lagi.

 

Untuk masalah pekerjaan yang cocok, selain list list yang sudah penulis sebutkan diatas sebenarnya masih banyak lagi list list yang bisa penulis sebutkan. Namun intinya bagi penulis, pekerjaan yang minim interaksi sosialnya dan pekerjaan yang bersifat rutin, perlu banyak Latihan dan memerlukan kegigihan untuk mengulang  sesuatu adalah pekerjaan yang lebih cocok bagi individu autistic. Ada individu autistic yang bisa juga bekerja dibidang yang membutuhkan interaksi sosial yang banyak, namun jumlah individu autistic yang menekuni pekerjaan tersebut yang penulis kenal hanya sedikit sekali. Tentunya, para individu autistic yang penulis kenal yang bekerja dibidang yang interaksi sosialnya banyak sangat bekerja keras untuk memperbaiki PR dalam hal kemampuan interaksi sosialnya agar kemampuannya tersebut mendekati atau mirip dengan individu non difabel.

 

Selainjutnya, ada pesan yang ingin penulis sampaikan. “adanya akomodasi dan aksesibilitas bukan berarti seseorang atau individu tersebut akan diperlakukan special dan berbeda dari orang lain. Melainkan adanya akomodasi dan aksesibilitas adalah agar akomodasi dan aksesibilitas itu bisa berguna dan dirasakan dampaknya oleh individu non autistic. Misalnya, quiet room sangat bermanfaaat bagi individu autistic, namun juga bisa dirasakan manfaatnya oleh orang non autistic. Fasilitas noise canceler memang sangat berguna bagi individu autistic, namun fasilitas tersebut dapat berguna juga bagi individu non autistic. Makanan bebas glutten memang sangat membantu bagi sebagian individu autistic, namun makanan tersebut juga dapat membuat badan individu non autistic menjadi lebih sehat juga. Instruksi yang jelas, tidak menggunakan sindiran, sarkasme dan kawan kawannya memang sangat membantu bagi individu autistic, namun adanya penggunaan Bahasa yang tidak menggunakan elemen elemen tersebut di dunia kerja akan sangat membantu individu non autistic agar bisa bekerja lebih tepat dan efisien. Adanya akomodasi dan aksesibilitas yang masih kurang bagi individu autistic harusnya menjadi evaluasi bagi lingkungan sekitarnya agar kekurangan tersebut bisa segera diperbaiki, bukan malah meminta individu autistic beradaptasi bahkan memintanya menghilangkan kecenderungan autistiknya, atau bahkan menerapkan hukum sosial pada saat mereka meminta akomodasi dan aksesibilitas tersebut. Ingat, mereka hanya meminta akomodasi dan aksesibilitas yang merupakan hak mereka, bukan pendosa yang harus terkena hukuman sosial dan harus memperbaiki diri.[]

 

Penulis: Rahmat Fahri Naim

Editor      : Ajiwan

 

Biodata penulis

Rahmat Fahri Naim merupakan individu dengan difabel ganda. Pertama ia memiliki kondisi spektrum autisme. Kedua, ia memiliki kondisi narkolepsi, kondisi yang masuk dalam kategori gangguan langka atau rare disorder. Saat ini tergabung di Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel Indonesia. Ia memiliki minat untuk mendalami isu isu Invisible Difability atau yang dalam Bahasa Indonesianya disebut difabel tak kasat mata. Penulis bisa dihubungi melalui akun r_fahri_n yaitu id instagramnya.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Bernick, M. (2021). The State of Autism Employment in 2021, Forbes. Available online at: https://www.forbes.com/sites/michaelbernick/2021/01/12/the-stateof-autism-employment-in-2021/?sh=70f9fda359a4 (accessed January 12, 2021)

Burgess, S., and Cimera, R. E. (2014). Employment outcomes of transition-aged adults with autism spectrum disorders: A state of the states report. Am. J. Intellect. Dev. Disabil. 119, 64–83. doi: 10.1352/1944-7558-119.1.64

Bury, S. M., Flower, R. L., Zulla, R., Nicholas, D. B., and Hedley, D. (2021). Workplace Social Challenges Experienced by Employees on the Autism Spectrum: An International Exploratory Study Examining Employee and Supervisor Perspectives. J. Autism Dev. Disord. 51, 1614–1627. doi: 10.1007/ s10803-020-04662-6

Chan, W., Smith, L. E., Hong, J., Greenberg, J. S., Lounds Taylor, J., and Mailick, M. R. (2018). Factors associated with sustained community employment among adults with autism and co-occurring intellectual disability. Autism 22, 794–803. doi: 10.1177/1362361317703760

Cheriyan C, Shevchuk-Hill S, Riccio A, Vincent J, Kapp SK, Cage E, Dwyer P, Kofner B, Attwood H and Gillespie-Lynch K (2021) Exploring the Career Motivations, Strengths, and Challenges of Autistic and Non-autistic University Students: Insights From a Participatory Study. Front. Psychol. 12:719827. doi: 10.3389/fpsyg.2021.719827

Coleman, D. M., and Adams, J. B. (2018). Survey of vocational experiences of adults with autism spectrum disorders, and recommendations on improving their employment. J. Vocational Rehabil. 49, 67–78. doi: 10.3233/JVR-180955

Dreaver, J., Thompson, C., Girdler, S., Adolfsson, M., Black, M. H., and Falkmer, M. (2020). Success factors enabling employment for adults on the autism spectrum from employers’ perspective. J. Autism Dev. Disord. 50, 1657–1667. doi: 10.1007/s10803-019-03923-3

Eilenberg, J. S., Paff, M., Harrison, A. J., and Long, K. A. (2019). Disparities based on race, ethnicity, and socioeconomic status over the transition to adulthood among adolescents and young adults on the autism spectrum: a systematic review. Curr. Psychiatry Rep. 21, 1–16. doi: 10.1007/s11920-019-1016-1

Fernandes, P., Haley, M., Eagan, K., Shattuck, P. T., and Kuo, A. A. (2021). Health needs and college readiness in autistic students: The Freshman Survey results. J. Autism Dev. Disord. 2021, 1–8. doi: 10.1007/s10803-020-04814-8

Jones, S. C., Gordon, C. S., Akram, M., Murphy, N., and Sharkie, F. (2021). Inclusion, exclusion and isolation of autistic people: Community attitudes and autistic people’s experiences. J. Autism Dev. Disord. 2021, 1–12. doi: 10.1007/ s10803-021-04998-7

Scott, M., Milbourn, B., Falkmer, M., Black, M., Bölte, S., Halladay, A., et al. (2019). Factors impacting employment for people with autism spectrum disorder: A scoping review. Autism 23, 869–901. doi: 10.1177/136236131878 7789

Wood, R., and Happé, F. (2021). What are the views and experiences of autistic teachers? Findings from an online survey in the UK. Disabil. Soc. 2021, 1–26. doi: 10.1080/09687599.2021.1916888

 

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air