Views: 51
Solidernews.com, Yogyakarta. PEKAN Tuli Internasional atau International Week of Deaf People, akan kembali digelar pada 22–28 September 2025. Perayaan tahunan yang diinisiasi oleh World Federation of the Deaf (WFD) ini menjadi momentum penting untuk menggaungkan kesadaran mengenai hak-hak Tuli sekaligus memperkuat pengakuan bahasa isyarat di tingkat global.
Mengusung tema “No Human Rights Without Sign Language Rights” [Tidak Ada Hak Asasi Manusia tanpa Hak Bahasa Isyarat], Pekan Tuli Internasional 2025 menegaskan bahwa bahasa isyarat adalah fondasi penting agar Tuli dapat menikmati hak-hak dasarnya secara penuh. Mulai dari pendidikan, layanan publik, hingga penanganan situasi krisis.
Sub tema harian
Selama sepekan, komunitas Tuli di seluruh dunia bersama pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan mitra lain akan mendorong isu-isu kunci dengan subtema harian:
- Senin, 22 September: Komunitas Tuli sebagai pemimpin dengan dukungan pemerintah dan organisasi lain.
- Selasa, 23 September: Penegasan bahwa tanpa hak bahasa isyarat, penyandang Tuli tidak bisa menikmati hak asasi sepenuhnya.
- Rabu, 24 September: Pentingnya pendidikan multibahasa yang inklusif dan sesuai budaya bagi pelajar Tuli.
- Kamis, 25 September: Jaminan akses informasi dalam bahasa isyarat pada situasi darurat dan bencana.
- Jumat, 26 September: Dorongan pengakuan hukum resmi terhadap bahasa isyarat nasional.
- Sabtu, 27 September: Hak penyandang Tuli atas layanan akses bahasa isyarat, termasuk penerjemah profesional.
- Minggu, 28 September: Menatap masa depan dengan inovasi dan kolaborasi global untuk dunia yang lebih inklusif.
Cara merayakan
Pekan Tuli Internasional dapat dirayakan dengan berbagai cara, baik oleh komunitas Tuli maupun masyarakat umum, di antaranya:
- Mengikuti seminar, diskusi, atau lokakarya daring/luring tentang hak-hak Tuli.
- Mempelajari dasar bahasa isyarat dan mulai menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari.
- Mengadakan kampanye kesadaran publik melalui media sosial dengan tema Pekan Tuli Internasional.
- Mendukung kegiatan komunitas Tuli lokal, seperti pertunjukan seni, pameran budaya, atau teater bahasa isyarat.
- Mendorong sekolah, kampus, dan tempat kerja menyediakan akses bahasa isyarat.
- Berkolaborasi dengan organisasi Tuli dalam kegiatan sosial maupun advokasi.
Hari Bahasa Isyarat Internasional
Momentum penting lain yang masuk dalam rangkaian ini adalah Hari Bahasa Isyarat Internasional (International Day of Sign Languages) yang jatuh pada 23 September 2025. Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran global, akan peran bahasa isyarat dalam mewujudkan hak asasi manusia sepenuhnya bagi orang Tuli.
Dengan semangat tema tahun ini, Pekan Tuli Internasional 2025 menjadi pengingat bahwa pengakuan dan akses bahasa isyarat bukan hanya soal komunikasi, melainkan soal keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan.
Menurut dua orang pengurus Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) Kota Yogyakarta, Dhomas Erika Ratnasari dan Laksmayshita Khanza Larasati Carita, perayaan ini sangat berarti.
Keduanya memaknai Pekan Tuli Internasional sebagai lagu sunyi yang berbisik. Bahwa setiap tanda, setiap gerak tangan, adalah bahasa jiwa yang layak didengar. “Bahasa isyarat bukan hanya sarana. Ia adalah rumah tempat identitas, budaya, dan hak hidup berkumpul. Ketika dunia membuka ruang bagi bahasa itu, maka terbukalah juga jalan bagi martabat, pendidikan, dan kebebasan bagi saudara-saudara kita yang Tuli,” ujar Shita yang diiyakan Dhomas.
Mereka menyerukan, “Mari kita rayakan pekan ini bukan sekadar dengan kata-kata, melainkan dengan sikap. Memberi ruang, menjunjung pengakuan, dan hadir dalam bahasa yang mereka gunakan. Karena keadilan sejati dimulai saat kita mau belajar melihat dan berbicara, dengan tangan yang penuh makna.[]
Reporter: Harta Nining Wijaya
Editor : Ajiwan





