Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Foto Kelas Memahami difabel, dengan pembicara dan moderator duduk di atas panggung kecil. Peserta duduk rapi di kursi merah sambil mendengarkan paparan dari narasumber, yang juga ditampilkan pada layar besar di depan ruangan.

Pekan Inklusi Difabel 2025 Jadi Ruang Belajar Etiket dan interaksi yang Tepat Pada Difabel

Views: 10

Solidernews.com – Memahami etiket dan interaksi yang tepat terhadap kelompok difabel menjadi salah satu  diskusi  pada rangkaian acara Pekan Inklusi Difabel 2025. Diselenggarakan oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia bersama Symphoria, diskursus terbuka ini mengajak organisasi difabel, penyedia layanan publik, mahasiswa, pemerhati isu difabel, dan institusi pemerintah untuk duduk bersama, memahami konsep dan interaksi yang tepat saat berjumpa dengan kelompok difabel di Yogyakarta.

Dengan tema “Different Tones, One Harmony” (red_ Nada Berbeda, Satu Harmoni), agenda ini diselenggarakan di Pusat Desain Industri Nasional Yogyakarta. Acara yang dilaksanakan pada 7-8 desember 2025 ini berupaya untuk menghadirkan kesadaran publik mengenai inklusi sosial, hak difabel, dan aksesibilitas di layanan publik, sosial budaya, seni, dan tata kelola pemerintahan di Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Sri Mulyati, panitia penyelenggara Pekan Inklusi Difabel, menyatakan bahwa Yogyakarta telah mendapatkan penghargaan sebagai provinsi inklusif dari BAPPENAS RI pada Temu Inklusi 2025 di Cirebon. Hal ini menjadi sinyal positif terhadap partisipasi, pengakuan, dan hadirnya difabel di ruang publik. Namun, upaya pengawalan kolektif agar aspek inklusifitas benar-benar berjalan harus terus diperjuangkan.

“Upaya kolaboratif, bersinergi, dan saling memberi ruang perlu dilakukan agar inklusifitas di masyarakat benar-benar dapat dirasakan dampaknya secara berkelanjutan,” jelasnya.

Saat dijumpai Solidernews, Muhammad Mega, Firstian selaku ketua penyelenggara mengungkapkan,  adanya kelas memahami difabel dan cara berinteraksi dengan difabel yang tepat adalah upaya secara sadar untuk membangun kesadaran dan inklusifitas di masyarakat. Utamanya penyelenggara layanan publik, pemerintah, dan para pemerhati isu difabel. Sebab acapkali masyarakat kebingungan saat akan berinteraksi dengan difabel. Entah untuk membantu atau berkomunikasi untuk menyampaikan suatu hal.

Simak juga ..  Dari Live Transcribe hingga Braille Display: Menakar Peran Teknologi bagi Deaf Blind Indonesia

“Kelas dan diskusi ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman menenai interaksi dengan difabel serta bagaimana etiket saat ingin membantu teman-teman difabel. Sehingga kami ingin menghapuskan rasa canggung dan takut menyinggung dengan mengundang masyarakat dan tamu undangan untuk belajar langsung dengan difabel itu sendiri,” jelasnya.

Ajiwan Arief Hendradi, narasumber kelas memahami difabel, menyampaikan bahwa interaksi dengan difabel itu tidak bisa asal-asalan. Ada beberapa etiket, cara berperilaku, dan menciptakan ruang nyaman bagi difabel, yang berbeda antar ragam difabel. Mulai difabel fisik, intelektual, mental, dan sensorik. Setiap ragam memiliki karakternya masing-masing.

“Di Yogyakarta sendiri kita sering melihat komunitas difabel, utamanya difabel netra yang sekali mengadakan kegiatan bisa sampai ratusan orang. Namun, yang menjadi pertanyaan apakah kita sudah bisa berinteraksi dengan baik dan tepat? Nah, diskusi kali ini akan membahas itu yang harapannya dapat meningkatkan pemahaman kita semua dengan baik,” jelasnya.

Ajiwan mencontohkan bahwa difabel netra itu terbagi menjadi dua. Ada difabel netra Low Vision (Masih ada sisa penglihatan) dan Difabel Netra TotalyBlind  (Tidak bisa melihat sama sekali). Di mana dari keduanya memiliki cara interaksi yang harus disentuh bila ingin berkomunikasi, utamanya yang difabel netra total.

“Kita tidak tahu diajak berkomunikasi, bila tidak disentuh menggunakan tangan atau disebut nama secara langsung. Jadi, komunikasi verbal sangat dianjurkan saat berhadapan dengan difabel netra. Utamanya yang sudah tidak memiliki penglihatan sama sekali,” jelasnya.

Selain itu, saat menggandeng tidak boleh dipegang di tongkat, diseret tangan difabelnya, serta relawan pengandeng memegang difabel netra. Sebab difabel netra bisa kehilangan kontrol. Jadi, biarkan difabel netra yang memegang lengan atau pundak yang akan menggandeng, agar dapat berjalan dengan aman dan nyaman.

Simak juga ..  Abdullah bin Ummi Maktum; Bukti Inklusifitas 14 Abad Silam di Tengah Masyarakat Madani

“Saat menyuguhkan makanan juga dapat dikonsep peletakan sesuai arah jarum jam. Nasi di jam berapa, lauk, buah, dan minumnya. Sehingga difabel netra dapat makan dengan baik,” imbuh Ajiwan.

Pemateri difabel pengguna kursi roda, Kuni Fatonah dari Sigab Yogyakarta, menjelaskan bahwa saat berinteraksi dengan difabel yang menggunakan alat bantu adalah berkomunikasi dahulu. Tidak diperkenankan mengambil inisiatif tanpa persetujuan difabel terkait. Sebab yang memahami kekuatan dan kenyamanan adalah difabel fisik itu sendiri.

“Mau itu pengguna kursi roda, alat bantu kruk, walker, atau alat bantu jalan lain, semuanya harus dikomunikasikan dahulu saat ingin membantu,” jelasnya.

Selain komunikasi, bila ingin membantu difabel fisik namun ada tolakan halus, “Saya bisa kak”, itu jangan sakit hati. Karena bila fasilitas aksesibilitas bagus dan di medan yang memungkinkan, kemandirian turut menjadi aspek penting bagi difabel fisik yang berpergian sendiri.

“jadi bila ada penolakan halus, tapi ingin membantu, cukup dapat diikuti untuk memastikan aman sampai ke tempat yang dituju. Namun, tetap akan berbeda-beda sesuai kondisi difabel fisik yang dialami,” imbuh Kuni.

Misal saat ingin membantu mendorong kursi roda, hal ini dapat ditawarkan kepada difabel yang terkait. Usahakan semua berdasar dari instruksi difabel. Bangun perjalanan yang nyaman dan jangan terburu-buru yang berisiko bagi pengguna kursi roda.

“Misal saat akan naik bidang miring yang ada. Jangan ambil inisiatif ambil ancang-ancang lalu mendorong kencang. Itu berbahaya sekali. Lebih baik ambil langkah tenang, dan biarkan kami membantu dengan kayuhan tangan. Jadi, tidak perlu dorongan ekstrim yang membahayakan diri kami,” jelas Kuni.

Simak juga ..  SIGAB Perkuat Fasilitator Mitra Baru Program SOLIDER INKLUSI

Perwakilan Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD),  Reni, menyampaikan keikutsertannya sangat menambah banyak ilmu. Di kantornya sering melayani difabel untuk mengurus pajak dan sejenisnya. Namun, ia akui pemahaman cara interaksi dan etiket membantu difabel belumlah mendalam. Sehingga saat ikut kelas ini, ia banyak belajar dan ingin berbagi ilmu dengan rekan-rekannya.

“Dulu sempat ada pelatihan dari internal kami. Namun, masih sebatas dasar dan belum mendalam. Nah, dari forum ini saya banyak belajar, sehingga akan saya bagikan pengalaman ini untuk pengembangan layanan kami di kantor,” jelas Reni, saat ditemui Solidernews.[]

 

Reporter: Wachid Hamdan

Editor      : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content