Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Kegiatan parenting bersama orang tua dengan anak difabel di Kecamatan Nanggulan dan Sentolo, Jumat - Sabtu (19 - 20 September 2025)

Parenting bersama Orang Tua Anak Difabel: dari Kegelisahan hingga Harapan

Views: 9

Solidernews.com, Kulon Progo. PULUHAN orang tua berkumpul di dua kecamatan, Nanggulan dan Sentolo, dalam agenda parenting yang digelar SIGAB Indonesia melalui program SOLIDER INKLUSI. Sekitar 60 keluarga pada masing-masing kecamatan hadir untuk berbagi, mendengar, dan menemukan energi baru dalam perjalanan panjang pengasuhan anak difabel. Kegiatan ini difasilitasi oleh Margaretha Widiastutik dan Slamet, dengan format diskusi yang hangat: pemahaman peran orang tua, stigma yang ada, serta testimoni antar peserta.

Di antara pemateri, ada dua sosok perempuan yang berbicara dari hati. Renny Indrawati, ibu dari Lintang Adnan (17). Remaja pria yang terlahir dengan diagnosa cerebral palsy. Dan di 17 tahun usianya, Adnan sekaligus diagnosa tumbuh dengan penyakit langka.  Renny membagikan kisah tentang keteguhan dan cinta tanpa syarat.

Sementara Sri Hartaningsih Wijaya, ibu dari Laksmayshita Khanza seorang perempuan Tuli, menekankan pentingnya apresiasi sekecil apa pun terhadap progres atau capaian anak difabel. “Anak difabel bukan beban, melainkan anugerah. Yang mereka butuhkan adalah ruang, kesempatan, dan cinta yang tidak bersyarat,” tutur Sri Hartaningsih.

Pengalaman nyata itu menghadirkan inspirasi. Laksmayshita, misalnya, mampu menempuh perjalanan pendidikan dari terapi wicara di usia dua tahun hingga menyelesaikan kuliah sarjana. Bahkan berbagai prestasi di kancan nasional dan iternasional, hadir dalam kehidupan putrinya. Sebuah bukti bahwa konsistensi dukungan keluarga dapat membuka jalan bagi anak difabel.

 

Kegelisahan butuh jawaban

Namun, ada satu pertanyaan yang menggantung di benak sebagian orang tua. “Bagaimana jika kami harus pergi lebih dulu? Bagaimana masa depan anak-anak kami?” Kekhawatiran ini muncul berulang kali, menjadi cermin kegelisahan yang wajar namun juga mendesak untuk dijawab bersama.

Kedua pemateri mengatakan, menemukan bakat atau potensi anak difabel, adalah bagian penting orang tua. Selanjutnya, berikan waktu, dorongan dan kesempatan untuk mengasah, hingga anak difabel mencapai hasil optimal.

Hal tersebut penting. Ketika seorang anak sudah mampu mencapai hasil optimal, maka dalam jiwa anak itu akan tumbuh kepercayaan diri, sekaligus kebanggaan. Dengan begitu, anak dengan suka cita akan mengulang keberhasilan yang telah diraihnya. Jangan lupa, memberi apresiasi. Hal ini tak kalah penting dalam mendong anak-anak difabel memiliki kepercayaan diri,” tegas Sri Hartaningsih.

Di Sentolo, orang tua berbagi cerita tentang anak-anak dengan difabel intelektual yang belum bisa membaca, menulis, atau berhitung. Meski kemampuan sosial mereka cukup baik, kemandirian yang belum tampak membuat orang tua semakin cemas. Hal ini terjadi pada beberapa orang tua dengan anak mereka, yang mengalami hambatan intelektual.

Kondisi tersebut ditanggapi Sri Hartaningsih dengan sebuah kalimat penyemangat. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama. Mengenali potensi yang ada di lingkungan rumah, juga penting. Karenanya, orang tua memiliki peran bagaimana mengarahkan anak mandiri. Misalnya, anak diajari untuk merawat ayam peliharaan. Ajarkan kepada mereka bagaiman memberi makan. Membersihkan kandangnya. Kemudian mengatur telur-telur ayam, apakah dijual atau ditetaskan.

Mandiri itu, bukan hanya setelah lulus sekolah bisa bekerja pada instansi. Lebih dekat dengan diri anak, mandiri adalah bagaimana anak mampu mengatasi permasalahan pribadinya. Tidak dibandingkan dengan anak lain. Karena tiap-tiap anak memiliki potensi dan karakteristik masing-masing,” ungkap Sri Hartaningsih.

 

Menyeruak harapan

Namun, di balik kegelisahan itu, ada pula suara penuh harapan. Iin, seorang ibu dengan polio pada kakinya dan suaminya yang juga difabel. Mereka membesarkan anak yang nondifabel. Iin mengaku kegiatan parenting ini memberinya pemahaman baru.

“Kegiatan parenting ini, lebih bermanfaat. Karena banyak materi sharing, yang  bisa diimplementasikan. Saya jadi lebih paham. Ternyata saya tidak sendiri. Banyak orang tua lain yang juga berjuang,” ungkapnya.

Dari forum ini, lahir sejumlah pesan penting:

  • Peran orang tua sangat krusial dalam mendampingi anak difabel.
  • Tantangan yang ada, mulai dari stigma, akses pendidikan terbatas, hingga minimnya fasilitas umum ramah difabel, bisa dipatahkan dengan keteguhan orang tua dalam memperjuangkan hak anak difabel.
  • Praktik baik yang dicontohkan orang tua, seperti menumbuhkan kemandirian sejak dini, mendongeng, bermain bersama, hingga menjalin komunikasi dengan sekolah dan lingkungan, terbukti berdampak positif.

Ketika anak merasa dicintai dan dihargai, kepercayaan diri tumbuh. Mereka berani bersosialisasi, semangat belajar meningkat, dan harapan masa depan perlahan terbangun.

Di akhir sesi kegiatan parenting di Janti, Nanggulan dan Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo, 19 dan 20 September 2025, Pelaksana Program SOLIDER INKLUSI SIGAB Indonesia Margaretha Widiastutik, memastikan parenting ini bukan akhir, melainkan awal. Ada agenda lanjutan yang akan terus memperkuat kapasitas orang tua. Karena perubahan, seperti disampaikan para fasilitator, selalu dimulai dari rumah.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan

 

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content