Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Para Difabel Perupa ARTJOG 2024, Menelusuri Masa Lalu Membayangkan Peristiwa Masa Depan

Solidernews.com, Yogyakarta. MELANGKAHKAN kaki menuju Jogja National Museum (JNM) Yogyakarta. Berada di Jalan Amri Yahya Nomor 1, Gampingan, Wirobrajan, Yogaykarta. Kemegahan dan kemewahan pameran seni kontemporer ARTJOG 2024, kasad tertangkap mata telanjang. Lalu lalang dan kerumanan para pecinta seni, memadati areal seluas 1,4 hektar itu.

 

Memasuki ruang pamer, pengunjung akan disapa dengan fasad pameran, berupa karya gegantik kolaborasi pasangan suami istri, Agus Suwage dan Titarubi. Para pemandu, dengan senyum ramah, bersiaga memberikan penjelasan yang dibutuhkan para pengunjung pameran. Karya instalasi yang kompleks, di dalam bangunan khusus.

 

Menuju sebuah lorong, pengunjung dapat menyaksikan karya-karya para difabel perupa, Semua ditata apik dan artistik. Lorong ini terhubung satu sama lain, dengan karya-karya besar festival seni kontemporer tahunan ARTJOG, yang dihelat dalam waktu dua bulan (28 Juni – 1 September 2024).

 

Merespon motif ramalan

Karya-karya tema motif ramalan: yang menggambarkan masa lalu, masa kini dan masa depan, terbaca dari setiap karya. Mishka Fathina Dewanto (20), satu di antaranya. Merespon tema motif ramalan, menjadi satu hal menantang bagi Mishka yang autistik, dengan pemikiran yang konkrit.

 

Di atas mengemuka dari Indriyati Herutami, ibunda Mishka. Selain itu, lanjut dia, dengan perkembangan emosi dan pemikiran yang kanak-kanak (5-8 tahun), tidak selaras dengan usianya kini. Pemahaman mengenai ramalam masih berkutat pada hal yang sangat dekat dengan dirinya. Dunia permainan, dunia anak-anak.

 

Bertema Home for Us, enam buah karya lukis Mishka di ARTJOG, menggambarkan satu objek, dengan benang merah adalah rumah. Rumah yang diartikan secara luas. Dua karya dengan warna dan khas anak-anak, menggambarkan masa lampau. Satu lukisam bangunan kuno, satu lagi lukisan anak perempuan (putri) mengenakan pakaian jaman dulu. Lalu masa kini, digambarkan adanya interaksi masa kini. Gambar bioskop dan mall menjado gambarannya. Sedang masa depan, Mishka menggambarkannya dengan subjek anak-anak yang berinteraksi di alam terbuka. Konteks bermain, konteks anak-anak, menjadi ruhnya dalam goresan karya Mishka.

 

Berikutnya, Darren Chandra (21). Remaja dengan ASD (autism spectrum disorder) type Asperger ini mengaku sangat bersyukur terpilih sebagai salah satu peserta pameran ARTJOG 2024. Sketsa naga, terpajang mewah di lorong ruang pamer yang indah.

 

Kepada solidernews.com, Darren menceritakan bagaiaman dia merespon motif ramalan pada lukisannya. “Menurut banyak budaya, naga melambangkan banyak hal baik. Kekuatan dan keberuntungan. Tetapi sebaliknya, naga juga dapat merupakan sesuatu yang ditakuti banyak orang. Sama halnya dengan ramalan. Bisa berupa hal baik, bisa juga hal buruk,” ujarnya.

 

Anak bungsu dua bersaudara ini pun melanjutkan ceritanya. Setamat sekolah menengah atas (SMA), kata Darren, dia memilih menekuni potensinya di bidang melukis. Darren memilih tidak melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan tingginya. Kini ia tengah belajar untuk memperdalam pengetahuannya, melalui kursus melukis online. Kegiatan ini telah dijalaninya dengan serius selama bulan.

 

Perupa berikutnya Rayaka Agashtya Wibowo (17), remaja dengan autisme. Pelajar SMA Tumbuh, ini merespon motif ramalan, dengan dua karya lukisan kereta api. Satu buah karya lukisan keret api terbang. Satu lagi lukisan robot kereta api,

 

Bangga dan bahagia

Dalam wawancaranya dengan solidernews.com, ketiga perupa di atas mengaku bangga dan bahagia. Luapan rasa dan emosi tergambar jelas dari gestur dan pancaran mata mereka. Mishka. Meski tidak bisa terlalu lama, karena terlalu banyak orang sehingga gelisah. Gadis ini terlihat senang sekali, saat pembukaan.

Ibunda Mishka mengaku bersyukur dengan hadirnya kesempatan kali ini. Anaknya merasa diapresiasi. “Terutama kami, senang karena punya outlet (tempat) untuk menunjukkan karya. Sehingga Mishka bisa berkembang sebagai seniman. Itu hal konkrit bagi Mishka dapat menunjukkan hasil karyanya. Semoga semakin banyak masyarakat yang mengapresasi karya-karya Miskha. Bukan karena difabel, tapi karya yang layak diperhitungkan. Mishka sendiri menjadi seniman yang memperbaiki karyanya,” pungkas Indriyati Herutami.

 

Demikian pula dengan Darren Chandra. Dukungan orangtua, sangat berpengaruh bagi dirinya. “Orang tua saya, saya bangga dan bahagia mendapat dukungan penuh dari mereka. Mereka selalu mencari segala yang saya butuhkan untuk belajar dan berkembang dalam berkesenian. Buku-buku referensi, berbagai alat gambar, kursus gambar, di antaranya,” tuturnya.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air