Views: 94
Solidernews.com, Yogyakarta. DI sebuah ruang seni yang tenang namun penuh gema kreativitas, lebih dari 300 sketsa dan ilustrasi dalam ingatan terpanjang Win Dwi Laksono, menyapa publik. Bertajuk “Rindu Masa Lalu”, pameran tunggal ini digelar di Equalitera Artspace, bekerja sama dengan Win Art Studio. Pameran menjadi semacam ruang pengakuan, bahwa narasi masa lalu tak hanya hidup dalam kata, namun juga dalam garis, goresan, dan bayang-bayang gagasan yang dituangkan dalam medium visual.
Pameran ini bukan hanya ruang temu antara seni dan cerita, tetapi juga antara perjuangan dan pencapaian. Win Dwi Laksono, seniman lintas media yang tak hanya dikenal sebagai pematung dan pemusik. Dengan dua tongkat penyangga di kiri dan kanan lengannya, dia menapaki jalan seni. Dalam tubuh yang tak selalu mudah bergerak, Win tetap menyimpan kelenturan imajinasi dan ketajaman visual. Ia membuktikan bahwa hambatan mobilitas tak membatasi daya cipta. Justru dari tubuh yang bertahan, lahirlah karya-karya yang kuat, romantis, dan menggugah.
Kurator Terra Bajraghosa menyusun pameran ini tidak semata sebagai perayaan estetika. Ia menjadikannya sebuah perjalanan. Dari karya-karya ilustrasi yang mendampingi cerita silat dan legenda, ke sketsa-sketsa yang kelak menjadi tubuh-tubuh patung dan diorama. Lalu bergerak ke ranah ekspresif: coretan bebas yang menyimpan gagasan personal sang seniman, yang kadang absurd, kadang subtil, namun tak pernah kehilangan pesona.
Di usia ke-68 tahun yang baru saja ia rayakan satu minggu sebelum pembukaan pameran, Win membuka ruang baru dari semesta seninya. Jika enam pameran tunggal sebelumnya (1984, 2000, 2003, 2005, 2008, dan 2012) didominasi patung, maka kali ini ia menyingkap lapisan terdalam dari proses kreatifnya: sketsa dan ilustrasi, yang selama ini tersembunyi dalam naskah-naskah komik dan cerita silat.
“Ilustrasi bagi saya bukan sekadar pelengkap cerita. Ia adalah tapak awal. Dari sanalah dunia-dunia saya tumbuh,” ungkap Win pada pameran yang dibuka pada Minggu (13/7/2025) sore.
Bukan pernyataan kosong. Dalam pameran ini, terlihat jelas bagaimana pengaruh narasi-narasi besar seperti Kho Ping Ho dan S.H. Mintardja menyatu dalam gurat tangan Win. Figur-figur silat yang dramatis, dunia timur yang mistis, semuanya hadir dalam bentuk visual yang imajinatif, hampir seperti cuplikan film yang berhenti tepat sebelum klimaks.

Bisa diakses semua
Yang menjadikan “Rindu Masa Lalu” lebih dari sekadar nostalgia visual adalah kesadarannya akan inklusi. Pameran ini bukan ruang eksklusif bagi mata yang awas, kuping yang riuh, dan kaki yang lincah. Ia dirancang agar bisa diakses oleh siapa saja.
Tiga karya patung dipersiapkan agar dapat diraba langsung. Ini menghadirkan pengalaman taktil bagi pengunjung difabel netra. Ada pula tiga audio deskripsi yang memungkinkan penikmat dengan keterbatasan penglihatan, memahami detail karya lewat narasi suara melalui headphone.
Bagi Alif Akbar Eka Junianta, seorang mahasiswa difabel netra dari Universitas PGRI Yogyakarta yang sedang magang di Jogja Disability Arts (JDA), pengalaman ini menjadi sangat berkesan.
“Headphone yang ada di pameran Pak Win ini sangat membantu saya. Audionya jernih, bagus. Bisa membangun suasana. Penjelasannya mudah dimengerti. Atmosfir atau cerita lukisannya bisa dimengerti oleh saya yang buta,” ujarnya.
Bagi Alif, ini adalah kali pertama ia bisa menikmati karya seni rupa secara mandiri, tanpa bantuan juru bisik. Meski ia menyayangkan tidak adanya kontrol jeda pada pemutar audio, namun hal tersebut tak mengurangi kekagumannya.
“Saya harus mencoba atau mengulang mendengarkannya lagi. Tapi jujur, ini sangat membantu saya. Dan ini yang pertama kalinya saya temui ada aksesibilitas bagi saya dan kawan-kawan totally blind,” tambahnya.
Setiap karya juga ditata tidak terlalu tinggi, memungkinkan pengguna kursi roda maupun anak-anak menikmati dengan nyaman. Satu lagi aksesibilitas yang patut diapresiasi: kehadiran Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang dijadwalkan hadir setiap hari selama pameran berlangsung.
Sketsa arsip jiwa
Tajuk “Rindu Masa Lalu” menjadi benang merah yang menjahit keseluruhan karya. Bukan hanya karena ilustrasi Win menampilkan kisah-kisah tempo dulu, tetapi karena setiap sketsa adalah catatan perjalanan. Mulai dari tahun 1980-an hingga 2024, karya-karya ini merupakan arsip visual yang memperlihatkan bagaimana gagasan dilahirkan, tumbuh, dan akhirnya mewujud dalam bentuk tiga dimensi.
Ada kekuatan magis dalam menyaksikan bagaimana goresan tangan perlahan berubah menjadi patung. Bagaimana figur dalam sketsa bukan hanya rencana teknis, tapi ekspresi jiwa. Dunia yang digambarkan Win sering kali plausible impossible. Seolah mustahil, namun terasa nyata dalam bentuk dan atmosfernya.
Pameran “Rindu Masa Lalu” berlangsung 13–26 Juli 2025. Bertempat di Equalitera Artspace, Ringroad Barat, Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY. Mulai dibuka pada pukul 10.00 – 18.00 WIB. Pameran ini terbuka untuk umum dan dapat diakses oleh semua kalangan.[]
Reporter: Harta Nining Wijaya
Editor : Ajiwan









