Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

ilustrai PAUD Inklusif

Mince, Anak Difabel yang Butuh Akses Pendidikan Usia Dini di di Mamberano Tengah Papua

Views: 26

Solidernews.com – Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang ramah Gender, Difabel dan Sosial Inklusi (GEDSI) di daerah pedalaman Papua, seperti di Kabuipaten Mamberamo Tengah perlu menjadi perhatian serius demi mewujudkan pendidikan inklusif kedepanya. Sejak dini anak laki-laki,  Perempuan, serta difabel sudah harus disamakan atau disatukan di satu ruang kelas. ini berguna agar ada penerimaan pada perbedaan-perbedaan satu dengan yang lain dari  keadaan dan latar belakang siswa. Salah satu contohnya Mince Kogoya seorang anak dengan hambatan penglihatan di daerah setemat.

Mince adalah anak perempuan pertama dari keluarga  Teriban Kogoya dan  Sarce Jigibalon yang tinggal pinggiran kota Kobakma di Kabupaten Memberamo Tengah. Mince terlahir prematur di tahun 2020. Menurut dokter kondisi tersebut membuat  Mince mengalami hambatan penglihatan.

Kini dalam usia menjelang lima tahun Mince sepenuhnya menjadi difabel netra. Orang tuanya telah memikirkan untuk memasukkan Mince ke Sekolah Luar Biasa. Meski keluarga menganggap itu mimpi yang berlebihan. Hal ini karena ayah Mince hanya petani peladang kecil dan beternak babi. Ibunya merupakan guru SD honorer yang aktif di gereja.

Banyak yang beranggapan tak ada guna menyekolahkan anak perempuan apalagi difabel netra.  Tapi sebagai pendidik, ibunya percaya hanya pendidikan yang akan membantu Mince mandiri kelak.  Ibunya Mince, sering membaca tokoh-tokoh besar difabel netra yang meraih kesuksesan di berbagai bidang. Ia sering melihat di yuotube dan media lainnya sejarah sosok Hellen Keller dan Louise Braille penemu huruf braille.  Oleh karenanya mama Sarce terus berusaha memberi motivasi kepada anak perempuannya tersebut.

Simak juga ..  Dukung Ketahanan Pangan Keluarga Difabel Sleman; Ciqal Gelar Acara Diseminasi Potensi Pangan Lokal Non-Beras

Persoalan lan muncul melihat fakta bawa di Memberamo Tengah Lembaga Pendidikan khusus seperti SLB tidak tersedia.  Orang tua Mince tak sanggup pindah ke Jayapura untuk memasukkan Mince  ke SLB di Jayapura. Ia telah berpikir untuk mendidik sendiri Mince dengan mengajarnya langsung di sekolah tempat ia mengajar. Tapi di sekolah itu belum ada kebijakan Pendidikan inklusif seperti yang selama ini ia dengar sebagai kebijakan pemerintah. Di sekolahnya belum ada pelatihan bagi guru pendamping untuk anak difabel. Buku bacaan murid  belum ada yang menggunakan huruf braille.

Orang tua Mince menjadi punya harapan ketika mendengar bahwa Pemerintah Daerah Memberamo Tengah khususnya di Kobakma akan membuka sekolah PAUD inklusif. Program itu adalah bentuk Kerjasama pemerintah daerah setempat  dengan UNICEF  sejak tahun 2024. Anak difabel  seperti  fisik, tuli, dan  netra seperti Mince dapat diterima di PAUD inklusif.

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) inklusif  adalah pendekatan pendidikan untuk memasukan nilai-nilai inklusi dan kesadaran akan keberagaman dalam proses pembelajaran. Tujuan Pendidikan PAUD inklusif adalah meningkatkan kesadaran siswa/anak dan Satuan Pendidikan d lingkungan PAUD tentang keberagaman dan inklusi. Mereka  didorong mengembangkan  empati dan pemahaman anak terhadap kebutuhan difabel dan meningkatkan partisipasi anak difabel dalam proses pembelajaran.    Sederhananya,  PAUD yang membuka akses bagi peserta didik dengan latar belakang  yang beragam. Hal itu hanya dapat dilakukan jika ada kebijakan pendidikan yang ramah GEDSI.

Pendidikan yang ramah GEDSI  berangkat dari suatu prinsip universal” No one left behind” yaitu sebuah  komitmen universal untuk memastikan bahwa setiap individu, apapun latar belakang sosial, jenis kelamin, kondisi fisik atau idnetitas-identitas lainnya tidak boleh menjadi penghalang untuk mengakses pembangunan dalam pendidikan.

Simak juga ..  Pengarusutamaan Isu Difabel Lewat Sosial Media dan Rendahnya Literasi Masyarakat

Pendidikan PAUD khususnya di wilayah Kobakma Pedalaman Papua Kabupaten Mamberamo Tengah membutuhkan komitmen dari semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, guru, orang tua, komunitas, tokoh adat dan pihak gereja untuk mewujudkan gagasan itu. Hanya dengan pendekatan yang komprehensif dan terpadu seperti itu, anak-anak seperti difabel Mince dapat mengases sekolah sejak PAUD.

 

Ketersediaan Data  

Menurut Kepala Bidang Pendidikan PAUD di Kabupaten Memberamo Tengah, Simon Jinggobalom,  di Kabupaten Mamberamo Tengah telah berdiri 13 unit PAUD/TK yang terdiri dari tujuh  PAUD Swasta dan enam PAUD Negeri. Sementara di Distrik Kobakma, terdapat dua unit PAUD dan satu TK yakni PAUD Negeri Seralema, PAUD Negeri Broges dan TK Awiya.

Dari data yang ada hanya Mince Kogoya yang mengalami difabel netra. Namun ada kemungkinan terdapat anak-anak dengan jenis difabel lain seperti yang dialami Mince yang masih disembunyikan orang tuanya karena malu sehingga tidak dikirim ke sekolah. Hal lain yang masih terjadi adalah, mereka belum tahu bahwa di Memberamo Tengah telah berdiri PAUD  inklusif yang tidak akan menolak kehadiran anak berkebutuhan khusus yang telah ditunjuk sebagai PAUD inklusif.

Sesuai data tahun 2025, jumlah murid di pendidikan PAUD/TK adalah 404 siswa. Murid laki-laki 169 anak, dan perempuan 235. Jumlah guru sebanyak 41 orang terdiri dari guru perempuan 37 orang dan guru laki-laki empat orang.

Sejauh ini, jumlah anak difabel   belum terdekteksi. Antara lain disebabkan belum adanya asesmen yang dilakukan oleh Lembaga pendataan Pendidikan. Di lain pihak pengetahuan guru terhadap keberaaman anak-anak belum diperkuat. Operator PAUD Kabupaten Memberamo Tengah Seprianus, menginformasikan bahwa saat ini belum ada data anak difabel di tingkat PAUD. Namun begitu di Sekolah Dasar (SD) khususnya di Kobakma data anak dengan katagori difabel telah tersedia. Misalnya data anak difabel fisik,  tuli, dan juga difabel intelaktual.

Simak juga ..  Semangat Juang Hari Santri: Refleksi Bagi Difabel untuk Tak Lelah Memperjuangkan Hak-Haknya

Pihak Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah melalui Dinas Pendidikan, Bappeda, Dinas Sosial, DP3A dan Dinas Kesehatan terus berusaha agar Unit Layanan Disabilitas (ULD) terbentuk. Mereka menyadari dalam membentuk ULD ini membutuhkan komitmen semua stakeholders.

Sementara itu, di Mamberamo Tengah unsur Gereja sudah cukup  peduli dengan pendidikan usia dini  PAUD/TK. Namun tantangan untuk mewujudkan sekolah yang ramah GEDSI Adalah  adanya pandangan orang tua dan lingkungan yang menganggap anak difabel tak membutuhkan Pendidikan. Sementara isu ekonomi keluarga sering menjadi penghalang untuk menyekolahkan anak difabel.

Namun betapapun sulitnya, dengan hadirnya PAUD/TK baik Negeri maupun Swasta inklusif dapat membantu jalan keluar bagi keluarga seperti keluarga Kogoya  yang memiliki anak difabel netra. Apalagi di daerah terpencil dan tertinggal seperti di pedalaman Papua.[]

 

Reporter: Roby Nyong

Editor     : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content