Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Astrid Widayani, Wakil Wali Kota Surakarta dan Sri Kasiyati setelah menempel harapan di pohon harapan

MHH Aisyiyah Helat Peringatan 16 HAKTP di Loji Gandrung

Views: 14

solidernews.com – Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia (MHH) Aisyiyah bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah Aisyiyah dan Pimpinan Pusat Aisyiyah lewat program INKLUSI, melaksanakan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) bersamaan dengan peringatan Hari Difabel dan Hari Ibu di Loji Gandrung, Minggu (21/12). Acara mengambil tema “Dari Rumah ke Ruang Publik Membangun Budaya Tanpa Kekerasan dan Rasa Aman Bagi Semua ” diikuti oleh organisasi masyarakat sipil di wilayah kota Surakarta dan sekitarnya serta organisasi dan komunitas difabel beserta masyarakat umum.

Astrid Widayani, Wakil Wali Kota Surakarta dalam sambutannya mengatakan bahwa saat ini dibutuhkan kesadaran kolektif dan tidak hanya gerakan dari pemerintah atau organisasi masyarakat saja tapi semua masyarakat luas. Hal itu karena kekerasan bisa terjadi di mana saja dan menjadi tanggung jawab bersama.  Selain itu, sebagai usaha pencegahannya tidak hanya cukup dengan penegakan hukum saja tetapi juga perilaku. “Merupakan keberanian kita juga dalam menyampaikan kekhawatiran kita dalam melihat fenomena kekerasan, ” ujar Astrid.

Setelah menyampaikan sambutan, Astrid kemudian mengajak yang hadir untuk menyampaikan rasa dan pendapatnya dalam kampanye 16 HAKTP yang ditulis dalam sebuah kertas dan ditempelkan di baliho pohon harapan. Ada puluhan harapan tertempel di pohon seperti ini ; “Mendapatkan dukungan dan perlindungan sepenuhnya untuk difabel dan kepala keluarga mandiri.”

“Stop kekerasan, dan dunia akan Damai karena kita berani beraksi untuk stop kekerasan.”

“Semua orang lahir dan membawa hak yang sama dari Tuhan. ”

“Ada sosialisasi tentang pencegahan kekerasan  ini sampai tingkat RT (red_rukun tetangga) untuk masyarakat sadar hukum, sejatinya banyak masyarakat yang tidak berani bersuara.”

Dalam acara yang berlangsung sekira tiga jam tersebut, panitia juga mengajak para peserta untuk memasang pita putih sebagai simbol anti kekerasan. Juga ada pembacaan puisi, monolog, ajakan untuk berani bersuara dan mengetahui kontak bantuan. Pembagian bibit tanaman kepada para peserta yang hadir menjadi sesi yang juga tak kalah menarik.

Namun sayang sekali, acara yang juga menampilkan pertunjukan musik dari YPAC Music Percussion tersebut tidak terfasilitasi aksesibilitas, yakni panggung yang sudah disediakan tangga, namun tidak menyediakan ramp/plengsengan/bidang landai.[]

 

Reporter: Astuti

Editor     : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content