Views: 63
Solidernews.com – Mendengar kata “Bioskop,” barang tentu aroma popcorn, minuman ringan, snack, tiket, poster-poster film, dan ruang studio pemutaran yang nyaman, akan menjadi beberapa hal yang terlintas di benak kita. Tentu keseruan bioskop itu milik semua kalangan. Namun, bila berbicara aksesibilitas bangunan, ruang bioskop tidak semua ramah akan difabel. Namun, hal itu tidak bisa menghambat difabel yang gemar menonton film.
Meski bioskop terletak di mall atau gedung khusus, itu tidak menjadi soal, saat difabel ingin nonton film. Memang tidak semua bioskop dan pelaku usaha film ini paham soal aksesibilitas. Tapi dengan berbagai strategi, difabel dapat nonton film dengan nyaman di bioskop.
Kali ini, solidernews mencoba memetakan bioskop daerah Yogyakarta. Khususnya yang terletak di Yogyakarta bagian utara. Mana saja yang secara aksesibilitas dan kemudahan akses dapat dijangkau oleh kelompok difabel. Sebab hak Pariwisata dan hiburan menjadi milik semua orang, termasuk masyarakat difabel.
Bioskop dan Tantangan Bagi Difabel
Meski menjadi ruang publik, belum semua bioskop memiliki komitmen untuk membangun agar gedung dan aksesnya itu juga memudahkan pengunjung difabel. Mulai desain bioskop-bioskop di Mall yang berada di lantai atas. Bisa lantai tiga atau lantai empat.
Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi difabel fisik. Apa lagi yang kondisi letak bioskopnya, itu letaknya tidak tercover penuh oleh lift. Jadi tetap harus melewati eskalator untuk menuju tempat tersebut. Hal ini tentu menjadi persoalan yang pelik bagi pengguna kursi roda.
Puspita, difabel fisik yang kini tengah mengajar di salah satu kampus Islam di Jogja, turut menceritakan pengalamannya saat mencoba nonton film di bioskop area Sleman. Ia mengakui kalau pernah mendapatkan bioskop yang susah dijangkaunya. Karena letak lantai bioskop ternyata tidak dilewati lift. Jadi tetap harus menggunakan eskalator (tangga bergerak otomatis).
“Ya, waktu itu aku nonton ke Lippo deket UIN Sunan Kalijaga. Tapi ternyata bioskop di tempat tersebut ada di lantai 4. Lift yang ada ternyata tidak sampai ke lantai bioskop. Akhirnya mau tidak mau aku tetap naik pakai eskalator. Jadi, kursi rodaku dikawal oleh dua petugas. Satu di depan dan satunya menjaga di belakang. Ini pengalaman yang sungguh tidak terlupakan. Nonton di bioskop yang sama sekali tidak ramah bagi difabel,” Ujar Puspita pada solidernews.com, 25 Februari 2025.
Selain itu, sepengalaman penulis, bioskop di Lippo itu juga agak membingungkan. Utamanya bagi difabel netra. Jadi harus benar-benar bertanya ke petugas satpam. Penggunaan eskalator pun sebenarnya tidak masalah. Tapi andai bisa lewat lift sampai lantai 4, itu akan memudahkan sekali.
Persoalan film yang tidak semua didesain inklusif juga menjadi tantangan. Misal tidak adanya audio diskripsi, terbatasnya teks pemandu bagi difabel rungu, kadang menjadi sekat penghalang akses difabel untuk menikmati film di bioskop.
“Beberapa hal yang memang membuat teman-teman tuli malas nonton di bioskop lokal, adalah tidak tersedianya teks Bahasa Indonesia yang bisa dipakai teman tuli menikmati film. Karena closed caption itu sangat membantu bagi penonton tuli,” jelas Aziz, seorang pengajar bahasa isyarat, dalam unggahan instagramnya, dikutip solidernews.com pada 27 Februari 2025.
Strategi Nonton Difabel
Meski Lippo kurang memenuhi soal aksesibilitas fisik gedung, secara petugas yang ada, mereka cukup bisa diajak kerjasama. Beberapa bioskop seperti di Ambarukmo Plaza, Sahid J-Walk, XXI Jalan Solo, tetap bisa dikunjungi. Tentu dengan strategi-strategi, agar kita sebagai difabel nyaman saat main ke bioskop.
Pertama, kita dapat memetakan mana saja bioskop yang dapat dengan mudah dikunjungi oleh difabel. Memindai mall-mall yang aksesnya mudah menjadi poin penting, agar kita nyaman saat menuju bioskop pemutaran film. Nah, ada bioskop yang mudah dikunjungi bagi difabel, seperti; XXI Jalan Solo, Mall Pakuwon (Lift sampai lantai tempat bioskop berada), Mall Ambarukmo Plaza, dan Mall Sahid J-Walk.
“Ya, aku setuju mas. Amplaz, XXI Jalan Solo, dan Pakuwon itu enak kalo bagi pengunjung dengan kursi roda. Karena aku sering ke tiga tempat itu saat ingin nonton film yang kugemari,” jelas Puspita.
Kedua, koordinasi dan menyampaikan kebutuhan pada petugas. Nah, hal ini penting dilakukan agar memudahkan saat kita berkunjung. Seperti menjelaskan kalau butuh diantar sampai letak bioskop berada, atau minta arahan dimana letak bioskop berada. Selain itu, agar petugas dapat mengkondisikan difabel saat sedang nonton.
Ketiga, teman bisik untuk memudahkan difabel netra menikmati alur film. Hal ini cukup sering penulis lakukan agar pengalaman nonton film bisa maksimal. Jadi, penulis sering mengajak partner untuk nonton, sekaligus menjadi rekan bisik saat ada adegan visual yang tidak ada keterangan audionya.
“Ya, peran teman bisik ini begitu penting, saat kita sedang nonton film. Karena informasi visual yang tidak ada audio itu dapat dijelaskan oleh teman bisik tersebut. Misal adegan lari, daun jatuh, adegan chat, dan sebagainya,” jelas Arif, seorang difabel netra yang juga memiliki beberapa karya film, 20 Februari 2025.
Menonton film di bioskop memang masih menyimpan tantangan dan masalah aksesibilitas bagi pengunjung difabel. Meski begitu, hak pariwisata dan hiburan tetap kita perjuangkan. Dengan strategi yang sesuai, berbagai hambatan dapat diakali. Selain itu, kehadiran difabel di bioskop, juga akan menjadi kampanye soal inklusifitas, agar para pemilik bisnis, juga dapat memberikan fasilitas dan layanan memadai bagi pengunjung difabel. Jadi, jangan takut nonton di bioskop![]
Reporter: Wachid Hamdan
Editor : Ajiwan








