Views: 21
Solidernews,- Semarang. Natal dan Tahun Baru (Nataru) selalu menjadi momen yang dinanti banyak orang. Di penghujung tahun, suasana terasa berbeda. Rumah-rumah mulai dipenuhi aroma masakan, lagu-lagu rohani terdengar di berbagai sudut, dan keluarga sibuk mempersiapkan perayaan. Ada yang membersihkan rumah, memasak hidangan khas, hingga merangkai pohon Natal. Perayaan ini bukan hanya tentang kemeriahan, tetapi juga tentang kebersamaan, refleksi diri, dan harapan akan hari esok yang lebih baik.
Bagi difabel netra, natal dan tahun baru tidak dimaknai dari apa yang terlihat oleh mata. Perayaan ini justru hadir melalui rasa, suara, dan suasana. Sentuhan salam damai, lantunan lagu malam kudus, doa-doa yang dipanjatkan, serta kebersamaan dengan keluarga dan teman menjadi inti dari perayaan. Hal inilah yang dirasakan oleh Julius di Bali dan Yohana Fransiska di Solo.
Julius adalah difabel netra asal Flores Timur, Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur, yang kini berdomisili di Pulau Bali. Sebagai seorang Katolik, Natal baginya selalu terbagi dalam dua momen. “Kalau untuk merayakan Natal sendiri, saya biasanya ada dua momen. Momen yang pertama adalah berkumpul bersama keluarga di rumah dan momen yang kedua itu merayakan bersama teman-teman,” ujar Julius pada Kamis, 1 Januari 2026.
Ia juga aktif dalam komunitas dan dipercaya menjadi Ketua Perkumpulan Tunanetra Kristiani Indonesia (PETKI) Daerah Bali. Pada tanggal 25 Desember, setelah mengikuti misa, Julius biasanya langsung menuju rumah. “Habis dari gereja kami langsung ke rumah. Di rumah kami kumpul-kumpul sama keluarga dekat, sama ketolan dan juga teman-teman yang datang,” katanya. Hari-hari berikutnya, perayaan Natal sering dilanjutkan bersama komunitas di gereja atau tempat pembinaan rohani.
Tradisi Natal ala orang timur sangat terasa dalam perayaan yang dijalani Julius. Salam-salaman dan saling bermaafan menjadi hal yang tidak pernah dilewatkan. “Saling bermaafan karena Sang Raja Damai sudah lahir,” tuturnya.
Setelah itu, acara makan bersama menjadi momen utama. Makanan khas tradisional disajikan untuk mengobati rindu kampung halaman. “Makanan-makanan khas tradisional yang sudah lama tidak saya rasakan, itu untuk mengenang Natal-Natal yang telah lewat di kampung halaman,” katanya.
Momen Natal yang paling berkesan bagi Julius adalah saat masih bisa merayakannya bersama orang tua di rumah. “Momen Natal yang paling tak bisa dihilangkan adalah bersama orang tua pastinya. Di rumah, di kampung halaman, meskipun cuma makan ubi, makan jagung tapi rasa Natalnya itu lebih hangat,” ucapnya.
Kini, kehidupan merantau membuat momen itu sulit terulang, namun kerinduan itu selalu hadir setiap Natal. Dalam persiapan Natal, Julius termasuk orang yang aktif terlibat. Ia senang ikut berbelanja kebutuhan Natal. “Saya suka banget ikut terlibat dalam persiapan Natal, kayak ikut belanja-belanja, beli pohon Natal, atau beli kertas yang nanti dirangkai jadi pohon Natal,” ujarnya. Ia juga sering dipercaya membeli makanan ringan dan membantu menentukan menu. “Biasanya saya ditanyakan, kita mau makan apa, rekomendasinya apa,” tambahnya.
Bagian Natal yang paling disukai Julius adalah malam Natal. “Aku itu suka bagian Natal pada saat malam Natal, pada saat penyalaan lilin,” katanya. Meski tidak bisa melihat, suasana gelap justru membuatnya lebih merasakan Natal. “Orang-orang mengumandangkan lagu Malam Kudus. Entah kenapa saya sangat tertarik dengan momen itu, bahkan hampir tidak mau melewatkan,” ujar Julius.
Sementara itu, Yohana Fransiska, difabel netra yang tinggal di Solo dan bekerja sebagai freelancer, juga merayakan Natal dengan penuh kebahagiaan. “Biasanya saya merayakan Natal bersama keluarga atau teman-teman terdekat saya,” kata Yohana. Jika ada waktu luang, ia pulang ke Pati untuk berkumpul bersama keluarga. Jika tidak, ia merayakan Natal bersama teman-temannya di Solo.
Malam Natal selalu diawali dengan misa. “Setiap Natal itu waktu Malam Kudus tanggal 24, kami biasa misa atau ibadah,” ujarnya. Sebelum menetap di Solo, Yohana sering terlibat dalam persiapan Natal di rumah. “Saya di bagian beberes dan juga menghias pohon Natal,” katanya. Dari semua persiapan itu, kebersamaan menjadi hal yang paling ia sukai. “Yang paling aku suka menghias pohon Natal sama kumpul-kumpulnya. Itu happy banget,” ucapnya.
Bagi Yohana, Natal adalah momen kebahagiaan yang selalu dinanti. “Saya merasakan kebahagiaan itu sangat-sangat bahagia, karena ini momen setahun sekali,” katanya. Momen Natal paling berkesan justru ia rasakan saat bersama teman-teman. “Karena bareng teman-teman itu happy. Kami bisa lupa waktu, banyak sharing tentang kehidupan,” ujarnya.
Malam Tahun Baru bagi Julius dan Yohana sama-sama diisi dengan doa. Julius biasanya berkumpul bersama beberapa teman dekat, saling berbagi cerita perjalanan hidup selama setahun. Menjelang tengah malam, doa menjadi penutup tahun. “Kita percaya bahwa hidup itu berawal dari doa,” kata Julius.
Doa dan harapan Julius ia sampaikan dengan tulus. “Doa dan harapan sih tentunya semoga kegagalan yang ada di 2025 dibawa pergi sama 2025. Dan kesuksesan yang belum saya capai di 2025, 2026 ini bisa saya raih,” ujarnya. Ia juga mendoakan negeri ini. “Berdoa untuk negeri kita ini di 2026 semoga jauh lebih baik dari 2025 dan 2024 bahkan di belakangnya.”
Yohana pun menyambut Tahun Baru dengan doa dan refleksi diri. “Semoga selalu sehat dan senantiasa bahagia selalu. Dilindungi Tuhan di mana pun saya berada,” katanya. Ia berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dewasa, dan lebih sabar di tahun yang baru.[]
Penulis: Tri Rizki Wahyu Djari








