Views: 56
Solidernews,- Yogyakarta. Upaya memperluas akses pendidikan tinggi bagi difabel terus digalakkan melalui berbagai inisiatif, salah satunya peluang beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Berli Arta, dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, pada webinar bertajuk “70 Persen Keberhasilan LPDP Ditentukan oleh Esai” mengatakan esai memegang peranan krusial dalam keseluruhan proses seleksi LPDP. Kualitas tulisan mencerminkan kesiapan intelektual dan arah kontribusi difabel calon penerima beasiswa.
“Berdasarkan pengalaman pendampingan selama bertahun-tahun, sekitar 70 persen keberhasilan dalam seleksi LPDP ditentukan oleh esai,” ujar Berli dan webinar yang diikuti peserta difabel dari berbagai daerah, Sabtu (10/1).
Berli, yang telah lebih dari satu dekade berkecimpung di dunia akademik dan aktif sebagai mentor beasiswa sejak 2020, melanjutkan pada tahap wawancara pada dasarnya merupakan konfirmasi atas gagasan, visi, dan komitmen yang telah dituangkan dalam tulisan. Melalui kegiattan tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari langkah strategis untuk mempersiapkan kelompok difabel menghadapi pembukaan pendaftaran Tahap I Beasiswa LPDP 2026. “sekaligus menegaskan pentingnya beasiswa sebagai instrumen pemerataan kesempatan Pendidikan,” katanya.
Lebih lanjut, Berli menegaskan bahwa esai LPDP tidak sekadar menilai kemampuan berbahasa atau prestasi personal, melainkan menguji kejelasan visi calon penerima dalam memanfaatkan pendidikan sebagai sarana pengabdian. “Bagi difabel, esai menjadi ruang strategis untuk menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkontribusi bagi pembangunan bangsa,” katanya.
Selain pemaparan materi konseptual, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi praktik berupa telaah esai secara individual. Para peserta sebelumnya telah mengirimkan draf esai kepada panitia, yang kemudian dibahas secara terbuka untuk memberikan masukan substantif dan teknis.
Pada sesi diskusi, sejumlah peserta menyampaikan tantangan yang dihadapi difabel mengakses pendidikan dan beasiswa. Hasanah, peserta netra asal Kabupaten Aceh Besar, menyoroti persoalan kepercayaan diri dalam menghadapi wawancara, khususnya bagi individu dengan kepribadian introvert. Sementara Afifah, peserta netra dari Kabupaten Sumbawa, mengungkapkan pengalaman kegagalan berulang yang berdampak pada kondisi psikologisnya dalam kembali mencoba mendaftar beasiswa.
Menanggapi hal tersebut, Berli Arta memberikan penjelasan dengan pendekatan empatik, disertai contoh nyata dari penerima beasiswa difabel yang berhasil melewati proses seleksi meski menghadapi tantangan serupa. Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi dan beasiswa merupakan hak setiap warga negara, termasuk difabel, yang harus diperjuangkan dengan strategi dan persiapan matang.[]
Reporter: Nabila




